Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).
Tampilkan postingan dengan label Tidak Ada Yang Lebih Indah Dari Pada Bersabar Di Tengah Musibah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tidak Ada Yang Lebih Indah Dari Pada Bersabar Di Tengah Musibah. Tampilkan semua postingan

Tidak Ada Yang Lebih Indah Dari Pada Bersabar Di Tengah Musibah

TIDAK ADA YANG LEBIH INDAH DARI PADA BERSABAR DI TENGAH MUSIBAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين. أما بعد :

Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam paling besar ujiannya dan paling banyak mendapatkan gangguan dari kaumnya, namun gangguan itu tidak membuatnya berkecil hati dari menda'wahkan kebenaran kepada kaumnya, walaupun beliau disakiti, dilecehkan, diganggu dan bahkan ketika menyerukan kebaikan beliau dihujani dengan lemparan batu hingga meneteskan darah dari wajahnya, namun dengan itu tidak membuat beliau berhenti dari da'wahnya, beliau memiliki jiwa yang pemaaf, beliau disakiti namun beliau bersabar sambil mengharapkan kebaikan di balik perlakuan itu, beliau berdoa:

"اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون ".

"Ya Alloh ampunilah terhadap kaumku, karena sesunggunya mereka tidak mengetahui".

Dan terbukti sifat pemaaf beliau adalah menerima Abu Sufyan, padahal Abu Sufyan ini adalah tokoh besar Quroisy yang paling berandil dalam menyakiti dan mengganggu Rosululloh dan orang-orang yang beriman, ketika kaum muslimin sudah menguasai Makkah dan Abu Sufyan sudah terjepit, diapun kemudian menyatakan keislamannya, Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam pun menerima keislamannya, dan beliau tidak membuka lembaran-lembaran masa lalunya.