Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Al Wahdah Al Islamiyyah adalah Aliran Bid'ah


ALwahdah al-islamiyyAH
adalah
ALIRAN BID'AH





Dutulis oleh:
Muhammad bin Salim Al-Limboriy
Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan mengampuni saudara-saudarinya

***


بسم الله الرحمن الرحيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Ketika para hizbiyyun dari aliran sesat Al-Wahdah Al-Islamiyyah membaca jawaban kami atas pertanyaan saudara kami Hisyam bin Abdillah Rohimahulloh yang kami katakan:
"…bahkan ada yang pacaran yang kren dengan istilah PACIS (pacaran Islami) dengan semboyan “dibanding pacaran dengan orang nakal mending pacaran dengan kami”.
Mereka dengan tanpa malu mempertanyakan ini, mereka mengira bahwa ini hanya bahasa buatan atau rekayasa saja, maka pada kesempatan ini kami akan memaparkannya.
Ketika kami masih di Surabaya, kami ditanya oleh seorang bapak yang rajin sholat berjama'ah dengan kami di suatu masjid, dia berkata:
"Ustadz apa hukumnya pacaran? Karena kami melihat ustadz dari dulu tidak pacaran, dan kami melihat seseorang yang berpenampilan seperti ustadz; pakai baju taqwa, berjenggot rapi dan mengajak orang-orang untuk ngaji dengan mereka, tapi dia ini pacaran, saya tanya kepadanya menyangkut perbuatannya yang sering berdua-duan dengan prempuan yang berjilbab besar, kadang dijemput dan diantar pulang dan makan di warung bersama, dan kepengajian bareng? dia bilang: "Saya takut kalau saya tidak dekati dia nanti didekati orang nakal… kasian nanti".
Dan kami juga dengar dari dua kawan kami menukil dari perkataan diantara mereka yang asyik pacaran, ketika itu dua kawan kami mengingkari mereka yang pacaran, tiba-tiba jawaban mereka:
“Kami tahu pacaran itu harom, tidak boleh tapi dibanding pacaran dengan orang nakal mending pacaran dengan kami”.
Tidak hanya itu, namun kami juga dapati kenyataannya, ketika di Ambon, dua orang (pria-wanita) sebagai pengajar di salah satu sekolah yang sama manhajnya dengan Al-Wahdah Makassar dan ustadznya adalah hasil didikan dari Al-Wahdah Makassar, sekolah tersebut tidak jauh dengan kampus STAIN Kebun Cengkeh Ambon.
Bahkan wanita yang pacaran tersebut santai tanpa rasa malu jalan bareng dengan laki-laki (kawan pacarnya), jalan bareng dari STAIN ke tempat tinggal mereka, atau terkadang duduk berdua-duan di kampus STAIN karena mereka adalah mahasiswa STAIN yang didik oleh para tokoh-tokoh sesat dari berbagai latar belakang.
Namun kalau jalan dengan pacarnya, sengaja pakai cadarnya sehingga orang-orang menganggap bahwa laki-laki itu adalah mahromnya, namun ketahuan ketika sedang pacaran yang keduanya asyik makan di rumah makan.
Anehnya orang-orang seperti ini ternyata juga dimanfaatkan pada bidang pendidikan Al-Wahdah Al-Islamiyyah, mereka dijadikan sebagai bapak guru dan ibu guru di sekolah-sekolah mereka[1].
Wanitanya datang ke sekolah lalu mengajari anak-anak SD, apa dia mengira kalau anak-anak SD terkhusus yang kelas 4 (empat) sampai kelas 6 (enam) belum mengerti aurat?.
Apakah mungkin para da'i-da'i Al-Wahdah yang lulusan Universitas Islam Madinah atau lulusan LIPIA Jakarta tidak mengajari para ibu guru tersebut dengan ayat hijab dan sebab turunnya ayat hijab?.
Apakah ketika itu Anas bin Malik Rodhiyallohu 'anhu yang seusia seperti anak SD sekarang ini ikut masuk bersama Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ketika menemui Ummul Mu'minin?.
Anas bin Malik Rodhiyallohu 'anhu adalah pembantu Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) selama sepuluh tahun, beliau berkata:
"فَانْطَلَقْتُ فَجِئْتُ فَأَخْبَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ قَدِ انْطَلَقُوا، فَجَاءَ حَتَّى دَخَلَ فَذَهَبْتُ أَدْخُلُ، فَأَلْقَى الحِجَابَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ} الآيَةَ".
"Aku pergi, lalu aku mendatangi Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bahwasanya mereka (para undangan walimah) telah pergi, lalu beliau datang sampai masuk (di dalam rumahnya), aku datang untuk masuk (bersamanya), lalu beliau memasang hijab antaraku dan antaranya, maka Alloh turunkan (wahyu): "Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian masuk ke dalam rumah-rumah Nabi". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari hadits Anas bin Malik.
Ketika kami di Makassar, kami berjumpa dengan anak paman kami yang kuliah di Makassar, kami mengajaknya untuk menghadiri pengajian, dan dia mengisahkan bahwa ada temannya mahasiswi nampak sholehah, berjilbab besar yang berwarna hitam dan terkadang pakai cadar, dia juga terlibat dengan da'wah Al-Wahdah bahkan ikut menda'wahkan Al-Wahdah di dunia kampus namun tidak lama dia hamil diluar nikah.
Kami katakan: Walaupun mereka mengkader sebanyak-banyaknya para da'i, baik diutus di Fuyus atau di Ma'bar atau di Universitas Islam Madinah atau bahkan ada yang nyasar di Dammaj namun tetap mereka tidak akan bisa memperbaiki firqoh Al-Wahdah Al-Islamiyyah, melainkan terlebih dahulu mereka membubarkan firqoh sesat ini, dan mereka memulai da'wah mereka dengan mengikuti manhaj Ahlissunnah wal jama'ah.
Adapun ingin merombak dari dalam sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan maka tidak akan bisa, bahkan merekalah yang akan dirubah, atau bahkan mereka yang akan memaksakan diri untuk merubah As-Sunnah menjadi Al-Bid'ah karena mengikuti hawa nafsu para pencetus firqoh atau bid'ah mereka.
Butakah mereka terhadap perkataan Yang Menciptakan mereka:
{ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ} [الجاثية: 18]
"Kemudian Kami jadikan kepadamu di atas syari'at dari suatu perkara maka ikutlah syari'at tersebut, dan janganlah kamu mengikuti hawa-hawa nafsu orang-orang yang tidak berilmu". (Al-Jatsiyah: 18).
Sungguh kenyataan telah berbicara tentang masalah ini, dimana hasilnya da'wah Muhammad At-Tamimiy, Mubarok Ba Mu'allim dan jaringan mereka ketika mereka bercita-cita merombak atau memperbaharui firqoh Ali Irsyad di Surabaya?.
Mereka sampai merendah duduk di masjid Ali Irsyad Surabaya, sampai mereka membela mati-matian pendiri Ali Irsyad (Ahmad Surkati), namun kenyataannya justru mereka disesatkan lalu dilengserkan dari masjid Ali Irsyad.
Begitu pula Abdul Hakim Abdat Cs, kagum dan bangga dengan LIPIA, bahwa dia itu adalah perguruan Ahlissunnah, dia membelanya mati-matian namun kenyataannya apa?.
Mana hasilnya kalau mereka akan merombak atau memperbaiki dari dalam?.
Justru apa yang ada di dalam hati mereka terombak dan terguling-guling lantaran itu.
Tidak lupa pula, dimana da'wah FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jama'ah) dan LJ (Laskar Jihad)nya? Dimana hasil da'wah mereka?.
Mereka ingin menda'wahkan manhaj dan aqidah Ahlissunnah namun dengan cara menyelisihinya maka tidak akan berhasil, walaupun jagoan-jagoan LJ semisal Luqman Ba'abduh, Qomar Su'aidi, Usamah Mahri dan Muhammad Afifuddin serta jaringan mereka ingin bangkit lagi memperbaiki nama dan ingin memperbaharui da'wah mereka namun bila mereka masih gandrung dengan metode mereka yang sebelumnya, bernaung di bawah jam'iyyah dan kesesatan maka dengan izin Alloh mereka tidak akan bisa, kecuali mereka benar-benar membersihkan da'wah mereka dari bid'ah-bid'ah dan kesesatan-kesesatan.
Mana hasilnya da'wah Abdurrohman Abdul Kholiq? Apakah dia mampu merombak jam'iyyah Ihyaut Turots? Ataukah dia yang dirombak oleh jam'iyyah tersebut?.
Suatu keanehan mereka ingin merubah bid'ah yang besar namun mereka lupa dengan diri-diri mereka sendiri.
Mereka itu adalah ahlu bid'ah, kenapa mereka tidak merubah diri-diri mereka terlebih daluhu, mereka rubah dari ahlu bid'ah menjadi ahlussunnah, baru kemudian meneruskan hayalan mereka itu:
{إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ} [الرعد: 11]
"Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah apa-apa yang ada pada suatu kaum sampai mereka merubah apa-apa yang ada pada diri-diri mereka". (Ar-Ro'd: 11).
Semuanya tidak akan bisa memperbaiki dan merubah bida' dan firoq itu melainkan mereka harus kembali kepada manhaj yang shofi dan murni ini yaitu manhaj Ahlissunnah wal Jama'ah.  
Kami khawatir kalau mereka itu telah masuk dalam perkataan Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):
«...أَدْخَلَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الذُّلَّ لَا يَنْزِعُهُ مِنْهُمْ حَتَّى يُرَاجِعُوا دِينَهُمْ»
"…maka Alloh cemplungkan mereka ke dalam ketergelinciran yang tidak diangkat dari mereka sampai mereka kembali kepada agama mereka".



KESESATAN WAHDAH ISLMIYYAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
          Tolong dijelaskan tentang kesesatan Wahdah supaya kami mendapatkan faedah! karena keluargaku banyak yang belajar dengan mereka!
          (Hisyam bin Abdilloh Al-Limbory Rohimahulloh).

          Jawaban:
          Wahdah Islamiyyah adalah salah satu firqoh (aliran) yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, penyimpangan mereka terlihat jelas secara zhohir (penampilan) dan terlihat pula dari pemikiran.
          Awal berdirinya firqoh ini sudah dilumuri dengan pemikiran-pemikiran sesat diantaranya penentangan terhadap pemerintah muslim, kemudian generasi-generasi mudanya melakukan perombakan dengan cara diutus anggota-anggota atau para pengikutnya untuk belajar ilmu agama, ada dari mereka yang pergi belajar kemudian berbalik haluan menjadi musuhnya seperti Dzulqarnain, Muhammad As-Sarbini, Luqman Jamal, Mustamin Cs, yang mereka berpindah pemikiran; sekarang mereka menjadi pentolan hizbiyyun, ada juga yang masih kembali ke firqah Wahdah yang kebanyakan mereka kemudian menjalin hubungan dengan kelompok hizbiyyun yang lain semisal Yazid Jawaz, Abdul Hakim Abdat, Mubarok Ba Mu’allim, Abdulloh Taslim, Aunur Rofiq Ghufron Cs.
          Bahkan mereka (Wahdah Islamiyyah) terkadang memanfaatkan saudara mereka yang pernah nyasar di Dammaj semisal Abu Qotadah, mereka membangga-banggakan pria satu ini dengan dipajang di sepanduk jalanan “Hadirilah Muhadaroh Bersama Al-Ustadz Abu Qotadah murid Al-Imam Muqbil Al-Wadi’y”.
          Mereka (Wahdah Islamiyyah) memiliki perguruan yang dikenal dengan STIBA dan ini berada di Makassar, penampilan zhohir pada mereka hampir sama dengan penampilan zhohir hizbiyyun yang ada di LIBIA; mereka masih senang memakai celana ketat (kentara bentuk tubuh), celana tersebut terkadang tidak bisa diketahui apakah ada di atas mata kaki ataukah di bawah mata kaki?! karena ukuran ujung-ujung kaki celanya berada di tengah-tengah mata kaki, bila mereka berjumpa dengan sesama mereka maka celananya diangkat sedikit biar terlihat, jenggot mereka dirapikan dengan cara di potong atau dikikis, mereka ikut gandrung dalam dunia ikhtilat (campur baur pria wanita) seperti di sekolahan atau di perguruan-perguruan tinggi bahkan ada yang pacaran yang kren dengan istilah PACIS (pacaran Islami) dengan semboyan “dibanding pacaran dengan orang nakal mending pacaran dengan kami”.
          Sampai saat ini kami belum melihat dari mereka (yang masih gabung dengan Wahdah Islamiyyah) memiliki jati diri sebagai seorang ahlussunnah sejati, mereka mengaku sebagai ahlussunnah, mengaku sebagai kelompok yang selamat dan merasa paling benarnya dalam beragama namun yang dilihat bukan sekedar pengakuan tapi dibutuhkan pembuktian dan perealisasian, Alloh Ta’ala berkata:
{قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ} [البقرة: 111]
“Katakanlah: “Datangkanlah oleh kalian bukti (penjelasan) jika kalian adalah orang-orang yang benar!”. (Al-Baqaroh: 111). Berkata seorang penyair:
كل يدعي وصلاً بليلى ... وليلى لا تقر لهم بذاكا
Setiap orang mengaku berhubungan (cinta kasih) dengan Laila
          Dan Laila tidak mengakui memiliki hubungan (cinta) dengan mereka
          Begitu pula banyak dari umat Islam, bahkan semuanya mengaku mencintai Alloh Ta’ala namun apakah Alloh Ta’ala mencintai mereka?! Kecintaan Alloh Ta’ala hanya kepada orang yang benar-benar mengikuti sunnah (ajaran atau metode) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Alloh Ta’ala berkata:
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ } [آل عمران: 31]
“Katakanlah: "Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh maka ikutilah aku, niscaya Alloh mencintai kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan Allah adalah Al-Ghofur (Maha Pengampun) lagi Ar-Rohim (Maha Penyayang)”. (Ali Imron: 31).
          Jika seseorang berpaling dari sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Wahdah dan orang-orang yang semisal mereka yang mereka terang-terangan berpaling darinya maka Alloh Ta’ala pun berpaling dari mereka dan tidak akan mencintai mereka sebagaimana kejelasannya dalam lanjutan ayat tersebut:
{قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ} [آل عمران: 32]
“Katakanlah: "Taatilah Alloh dan Rosul-Nya; jika kalian berpaling maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang kufur". (Ali Imron; 32).
          Dijawab oleh Abu Ahmad Al-Limbory Hafizhahulloh.



[1]  Ini juga persis dengan para hizbiyyin, diantara mereka Luqman Jamal (iparnya Dzul Qornain bin Muhammad Sanusi Al-Makassariy), mendirikan SD di Kabupaten Goa ternyata pengajarnya anak-anak mahasiswa, ada yang penampilannya bukan seperti Ahlussunnah, ketika kami bertanya salah seorang dari gurunya, dari mana kamu? Dia menjawab: "Saya baru habis mengajar di sekolahnya Al-Ustadz Luqman Jamal di Goa".
  1. Dan ini juga persis dengan sekolah Al-Mansuroh di Ambon, ketika LJ (laskar jihad) sedang jaya-jaya, sekolah ini dibangga-banggakan, namun ternyata ketika itu di dalamnya banyak sekali penyelisihan manhaj Ahlissunnah, kemudian setelah pembubaran JL (laskar jihad) mereka bubarkan pula sekolah tersebut dengan alasan sebaiknya ma'had saja, jangan sekolah, namun akhir-akhir ini kemudian muncul jagoan-jagoan LJ semisal Usamah Faishol Mahri, Asasuddin dan jaringan mereka mulai menengok lagi metode sesat itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar