Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Sholat Sunnah dan Takbiratul Ikhram

Tanya jawab Bermanfaat Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-LimboriSHOLAT-SHOLAT SUNNAH SEBELUM DAN SESUDAH SHOLAT LIMA WAKTU
بسم الله الرحمن الرحيم
Tanya: Berapa raka’at jumlah sholat shalat sunnah rawatib pada masing-masing shalat fardhu? Karena saya sering tahu pada waktu shalat dhuhur itu ada yang melaksanakan 4 raka’at sebelum dhuhur dengan dua salam, dan dua raka’at sesudah dhuhur dengan satu salam, tapi ADA juga yang 4 raka’at dengan dua salam, dan pada saat sholat ashar sebelum ashar tidak melaksanakan shalat sunah rawatib.
Lalu bagaimana dengan shalat rawatib untuk shalat maghrib, isya’ dan subuh?, Mohon penjelasannya , syukran wa Jazaakallahukhairan.
Jawab: Di dalam “Ash-Shohihain” dari Abdulloh bin Umar Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata:
حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر ركعات؛ ركعتين قبل الظهر، وركعتين بعدها، وركعتين بعد المغرب في بيته، وركعتين بعد العشاء في بيته، وركعتين قبل الصبح.
“Aku telah menghafal dari Rosululloh Shollalloh ‘Alaihi wa Sallam 10 (sepuluh) roka’at; 2 (dua) roka’at sebelum zhuhur, 2 (dua) roka’at setelahnya, 2 (dua) roka’at setelah maghrib di rumahnya, 2 (dua roka’at setelah isya’ di rumahnya, dan 2 (roka’at) sebelum shubuh”.

Pada hadits ini disebutkan hanya sepuluh roka’at, namun dalam hadits Ummu Habibah Rodhiyallohu ‘anha di dalam “Shohih Muslim”, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
من صلى اثنتي عشر ركعة في يومه وليلته بني له بهن بيت في الجنة
“Barang siapa sholat 12 (dua belas) roka’at dalam siangnya dan malamnya maka dibangunkan untuknya istana di dalam Jannah”.
Tidak diragukan lagi bahwa 10 (sepuluh) roka’at pada hadits Ibnu Umar telah masuk ke dalam 12 (dua belas) roka’at yang disebutkan dalam hadits Ummu Habibah ini.
Yang menjadi pokok pembicaraan di sini, dua roka’atnya lagi dari sholat sunnah yang mana?, yang benar dari pendapat yang ada adalah 4 (empat) roka’at sebelum zhuhur bukan pada yang lainnya, sebagaimana diperinci pada riwayat di dalam “Sunan At-Tirmidziy”:
أربعا قبل الظهر، وركعتين بعدها، وركعتين بعد المغرب، وركعتين بعد العشاء، وركعتين قبل صلاة الفجر”.
“Empat roka’at sebelum zhuhur, 2 (dua) roka’at setelahnya, 2 (dua) roka’at setelah maghrib, 2 (dua) roka’at setelah isya’, dan 2 (dua) roka’at sebelum sholat fajr (subuh)”.
Penyebutan di sini bukan berarti pembatasan bahwa sholat sunnah hanya seperti itu jumlahnya, namun penyebutan di sini masuk pada afdholiyyah (pengutamaan-pengutamaan).
Dan sholat sebelum ashar, sebelum maghrib dan sebelum isya’ tidak disebutkan dalam hadits-hadits tersebut, namun pada hadits yang sifatnya umum telah disebutkan:
بين كل أذانين صلاة،
بين كل أذانين صلاة،
بين كل أذانين صلاة،  وقال في الثالثة: لمن شاء
“Diantara setiap dua azan (ya’ni diantara azan dan iqomah) ada sholat, diantara setiap dua azan ada sholat, diantara dua azan ada sholat”, kemudian beliu berkata pada yang ketiga: “Bagi yang mau”. Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari Abdulloh bin Mughoffal.
Untuk penentuan berapa roka’at maka membutuhkan dalil shohih, diantaranya hadits-hadits yang telah kita sebutkan, juga hadits Abdulloh bin Mughoffal di dalam “Ash-Shohih”, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
صلوا قبل المغرب، صلوا قبل المغرب، صلوا قبل المغرب، ثم قال في الثالثة لمن شاء
“Sholatlah kalian sebelum maghrib, sholatlah kalian sebelum maghrib, sholatlah kalian sebelum maghrib, kemudian beliau” berkata: “Bagi yang mau”.
Dalil ini sebagai penetapan adanya sholat sunnah sebelum maghrib, adapun penentuan berapa roka’at maka telah disebutkan di dalam riwayat Ibnu Hibban:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى قبل المغرب ركعتين
“Bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sholat sebelum maghrib dua roka’at”.
Setelah sholat zhuhur dan sholat jum’at disunnahkan pula sholat 4 (empat roka’at), Ashhabussunan meriwayatkan dari hadits Ummu Habibah Rodhiyallohu ‘anha:
من حافظ على أربع قبل الظهر وأربع بعدها حرمه الله تعالى على النار
“Barang siapa menjaga atas 4 (empat) roka’at sebelum zhuhur dan 4 (empat) roka’at setelahnya maka Alloh Ta’ala mengharomkannya neraka”.
Di dalam “Shohih Muslim”:
من صلى الجمعة، فليصل بعدها أربع ركعات
“Barang siapa sholat jum’at maka hendaknya dia sholat setelahnya 4 (empat) roka’at”.
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidziy dan selain mereka dengan lafazh:
رحمه الله امرأ صلى أربعا قبل العصر
“Semoga Alloh merohmati seseorang yang sholat 4 (empat roka’at) sebelum ashar”, maka ini adalah hadits dho’if, di dalam sanadnya ada seorang rowi yang bernama Muhammad bin Muslim bin Mihron, dia adalah layyinul hadits, Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Al-Harroniy telah mendhoifkan hadits ini sebagaimana di dalam “Majmu’ Fatawa”nya.
Adapun yang berkaitan dengan sholat 4 (empat) roka’at maka boleh pelaksanaannya dengan sekali salam, atau dua kali salam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dari hadits Aisyah Rodhiyallohu ‘anha di dalam “Ash-Shohihain”.
Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu di Darul Hadits Sana’a (1 Dzulhijjah 1435).
images (12)
MENGANGKAT TANGAN DI DALAM SHOLAT
Tanya: Pada waktu shalat di setiap bangun dari sujud, bersamaan dengan membaca takbir, apakah kita disyariatkan untuk mengangkat tangan?. Kalau iya, hukumnya sunnah atau wajib?.
Jawab: Tidak disyari’atkan mengangkat tangan ketika bangkit dari sujud, karena tempat untuk mengangkat tangan hanya pada 4 (empat) tempat, ini yang shohih dari pendapat yang ada, orang-orang yang menguatkan pendapat ini berkata tentang empat tempat tersebut adalah:
Tempat pertama:
رفع اليدين مع تكبيرة الإحرام
“Mengangkat kedua tangan bersama takbirotul ihrom”.
Tempat yang kedua:
عند الركوع
“Ketika ruku'”.
Tempat ketiga:
عند الرفع من الركوع
“Ketika bangkit dari ruku'”.
Tempat keempat:
عند الرفع من جلسة التشهد الأول
“Ketika bangkit dari duduk tasyahud yang pertama”.
Mengangkat tangan di sini hukumnya adalah sunnah:
ولا تبطل الصلاة بتركه ولو عمدا
“Dan tidaklah membatalkan sholat dengan meninggalkannya walaupun bersengaja”.
TanyaSiapakah Sayid Qutub itu?.
Jawab: Sayyid Quthb adalah seorang imam dari para imamnya orang-orang sesat, tidak ada yang membelanya dan mengikutinya melainkan akan sesat dan menyesatkan, Asy-Syaikh Hamd Al-Anshoriy Rohimahulloh telah membantahnya, Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy ‘Afallohu ‘anhu berkata:
أما مجمل أقوال أهل العلم المعتبر قولهم في الرجال فإنهم يرون أن سيد قطب رجل ضال تكفيري حزبي ومتأثر بقول الحلولية كما في تفسير سورتي الحديد والإخلاص من كتابه ظلال القرآن
“Adapun globalnya perkataan ahlul ilmi yang teranggap ucapan mereka kepada para pria, maka sesungguhnya mereka berpendapat bahwasanya Sayyid Quth adalah pria yang sesat, suka mengkafirkan (dengan tanpa hujjah), hizbiy dan terpengaruh dengan perkataan haluliyyah sebagaimana dalam tafsir dua surat Al-Hadid dan Al-Ikhlash dari kitab “Dzilalul Qur’an”.
Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu Di Darul Hadits Sana’a (2 Dzulqo’dah 1435).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar