Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Beramal Sholih Dibulan Dzulhijjah

Beramal sholeh dibulan dzulhijjah
  1. Tanya : Hari tasyriq adalah pada tanggal 11, 12, 13, bagaimana dengan puasa ayyamul bidhnya apakah boleh di ganti pada tanggal 14,15 dan16?.
Jawab: Puasa ayyamul bidh (hari-hari bidh) yang afdholnya dilakukan pada tanggal 13, 14 dan 15 sebagaimana yang disebutkan oleh An-Nawawiy Rohimahulloh, dengan dalil hadits Abu Dzarr Rodhiyyallohu ‘anhu di dalam “Sunan At-Tirmidziy” dan hadits Qotadah bin Milhan Rodhiyallohu ‘anhu di dalam “Sunan Abi Dawud” bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إذا صمت من الشهر ثلاثا، فصم ثلاث عشرة، وأربع عشرة، وخمس عشرة
“Jika kamu berpuasa dari (setiap) bulan, tiga (hari) maka berpuasalah pada tanggal 13 (tiga belas), 14 (empat belas) dan 15 (lima belas)”.
Bila tidak bisa melakukannya pada tanggal-tanggal tersebut maka boleh dilakukan pada tanggal 11, 12 dan 13, atau selain dari tanggal itu, sesuai dengan kesempatan dan kesanggupannya. Wallohu A’lam.
  1. Tanya : Kalau misalnya puasa Dzulhijjah mulai tanggal 1, niatnya kan puasa pada bulan Dzulhijjah, terus tanggal 8 dan 9 itu kan hari tarwiyah dan arofah, apakah niatnya sama?.
Jawab: Diniatkan masing-masingnya, sehingga mendapatkan keutamaan-keutamaan yang banyak, dia berniat puasa pada hari-hari di awal Dzulhijhah bila sampai pada puasa ‘arofah maka dia niatkan puasa ‘arofah tersebut sehingga mendapatkan keutamaan yang besar lagi banyak.
  1. Tanya : Shohihkah hadits yang menyatakan: Puasa arofah menghapuskan dosa setahun yang lalu, dan yang akan datang dan puasa asy-syura menghapuskan dosa setahun yang lalu?.
    Mohon faidahnya, Jazakallohu khoir, Barokallohu fiik. 
Jawab: Haditsnya adalah shohih, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim di dalam “Shohih”nya.
Ada sebagian ulama mendhoifkannya, namun yang benar dia adalah shohih, dan pendapat ini yang dipilih oleh kebanyakan ulama.
Anggaplah kalau dari riwayat Muslim ini dhoif karena ada ‘illahnya, namun telah ada penguat-penguat dari riwayat selain beliau, Al-Baihaqiy telah memberikan isyarat tentang keshohihannya, At-Tirmidziy telah menghasankannya dan Ibnu Abdil Barr menshohihkannya pula. Dan kebanyakan ulama hadits menshohihkannya, dan ini yang kita pegang.
  1. Tanya : Untuk puasa di bulan Dzulhijjah syariat puasa di mulai tanggal 1 sampai 10, atau tanggal 9 dan 10 saja, atau bagaimana?.
Jawab: An-Nawawiy Rohimahulloh di dalam “Ar-Riyadh” membuat bab:
فضل الصوم وغيره في العشر الأول من ذي الحجة
“Keutamaan puasa dan selainnya pada sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah”.
Bukan berarti disyari’atkan puasa 10 (sepuluh) hari, karena hari yang ke sepuluh adalah hari nahr (berqurban), pada hari ini diharomkan untuk berpuasa, dan hadits di dalam “Shohih Al-Bukhoriy” dari hadits Abdulloh bin Abbas Rodhiyallohu ‘anhuma menyebutkan perkataan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر
“Tidak ada dari hari-hari di dalamnya amalan sholih lebih dicintai oleh Alloh dari pada hari-hari ini, ya’ni hari-hari sepuluh”.
Amalan sholih di sini sifatnya umum terhadap semua amalan sholih, para ulama menyebutkan puasa masuk di dalamnya, namun untuk melihat kepada dalil apakah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya atau memerintahkannya atau membiarkan siapa yang berpuasa pada hari-hari tersebut?, kita tidak mendapati dalilnya yang jelas, karena tidak adanya kejelasan dalam masalah ini maka hendaknya seseorang melakukan puasa yang jelas dalilnya, seperti puasa Dawud (sehari berpuasa dan sehari berbuka), atau puasa senin kamis, atau dia melakukan puasa kaffarohnya atau puasa nazarnya pada hari-hari tersebut atau bagi jama’ah haji yang tidak bisa berhadyu (menyembelih) untuk dia berpuasa tiga hari yaitu pada tanggal 7, 8 dan 9. Jika seseorang melakukan ini maka Insya Alloh dia telah melakukan salah satu amalan sholih berupa puasa yang sesuai dengan bimbingan As-Sunnah. Wallohu A’lam.
(Pertanyaan dari Malang)
Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu di Darul Hadits Sana’a (1 Dzulhijjah 1435)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar