Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

CARA UNTUK MENJADI PENGIKUT SETIA ROSULULLOH MUHAMMAD SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM

CARA UNTUK MENJADI PENGIKUT SETIA ROSULULLOH MUHAMMAD
 SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM

                                  بسم الله الرحمن الرحيم .الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره. أما بعد:

Berikut ini kami akan menyebutkan diantara cara untuk menjadi pengikut setia Nabi kita Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam:

1. Meminta petunjuk kepada Alloh Ta'ala dan berdoa langsung hanya kepada-Nya dengan benar-benar merenungi dan menghayati kandungan bacaan doa sebagaimana di dalam surat Al-Fatihah:
"اهدنا الصراط المستقيم، صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين".
"Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat".


2. Mempelajari sunnah dan perjalanan hidup Rosululloh Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam.

3. Tidak mengambil pendapat para ulama kecuali pendapat itu memiliki dalil dari Al-Qur'an dan dari Al-Hadits yang shohih.

4. Bertanya kepada orang yang berilmu tentang suatu permasalahan jika tidak mengetahui ilmunya:
"فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون".
"Bertanyalah kalian kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui".

5. Bertanya tentang kejelekan dengan maksud supaya menghindari kejelekan tersebut, Huzaifah Ibnul Yaman Rodhiyallohu 'Anhu berkata: "Dahulu manusia bertanya kepada Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena takut akan menimpaku".
Beliau dan beberapa shohabat bertanya kepada Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam tentang ciri-ciri kelompok yang muncul setelah meninggalnya beliau.

5. Berusaha untuk bisa mengetahui mana jalan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, Alloh berkata kepadanya:
"قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني".
"Katakanlah: Ini adalah jalanku, aku menyeru kepada Alloh di atas ilmu, aku dan orang yang mengikutiku".
Jadi landasan da'wah Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam dan para pengikut setianya adalah di atas ilmu, oleh karena itu Al-Bukhoriy di dalam "Shohih"nya pada "Kitabul Ilmi" berkata:
"باب العلم قبل القول والعمل".
"Bab ilmu sebelum berkata dan berbuat".
Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar mereka itulah Ahlussunnah wal Jama'ah, mereka bersatu di dalam satu jama'ah yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah di atas pemahaman salaful ummah (para pendahulu umat yang sholih).
Banyak orang mengaku sebagai Ahlussunnah namun bukanlah pengakuan yang menjadi ukuran, namun ukurannya adalah pembuktian, maka ketika kaum Yahudi dan Nashroni mengaku sebagai kekasih Alloh maka Alloh membantah:
"قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين".
"Katakanlah: Datangkan bukti kalian jika kalian adalah orang-orang yang benar".

6. Berdoa kepada Alloh dan mengikhlaskan doa hanya kepada-Nya dengan meminta untuk ditampakan kebenaran sebagai kebenaran dan dimudahkan untuk mengikutinya dan berlindung kepada-Nya dari kesesatan dan dari para penyerunya.

7. Membaca kisah atau sejarah salafush sholih (para pendahulu yang sholih) dalam meniti jalan dalam mencari kebenaran seperti kisah Salman Al-Farisiy dan yang selain beliau.

Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy

Tulisan Ilmiyyah Lainnya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar