Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Tanya Jawab - 16 Shafar 1435 H -

بسم الله الرحمن الرحيم
Pertanyaan:
Kebetulan yang dibahas bab sholat, ana mau tanya, bacaan sholat hajat ada yang bilang katanya rokaat pertama baca surat Al-Fatihah 1X (kali), terus surat Al-Kafirun 11X (kali), terus surat Al-Ikhlas 10 X (kali), kemudian rokaat kedua bacaanya sama lalu salam, lalu sholat lagi baca suratnya sama, Al-Fatihah terus Al-Kafirun, jumlahnya sama, kemudian Al-Ikhlasnya yg 20 X  (kali)dan setelah dua rokaat salam lagi, terus begitu, sampai 4 kali salam, jumlah Al-Ikhlasnya sampai 40 X Kali.
Yang ana (saya) tanyakan boleh tidak sholat seperti itu ?.
 Jawaban:
Tidak ada riwayat shohih yang menjelaskan bahwa Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam melakukan sholat istikhiroh dengan membaca surat-surat tertentu, beliau Shollallohu 'Alaihi wa Sallam membaca Al-Fatihah kemudian membaca surat lain yang mudah untuk dibaca dengan tanpa mengulang-ulanginya, setelah itu beliau berdoa dengan doa yang telah beliau Shollallohu 'Alaihi wa Sallam ajarkan.

Adapun sholat yang seperti kamu sebutkan itu maka dia menyelisihi sunnah Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
"من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد".
"Barang siapa melakukan suatu amalan yang amalan itu bukan dari perkara kami maka dia tertolak".
Dijawab oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim di pertahanan Alu Manna' pada malam Jum'at 16 Shofar 1435.
Pertanyaan:
Apakah boleh seorang meruqyah dalam keadaan orang yang sakit itu ditempat yang jauh?
جزاكم الله خيرا. 
Jawaban:
Sebagian kaum muslimin melakukan hal itu, dan dalam pelaksanaannya mereka berbeda-beda, kalau seseorang meruqyah dengan mengambil bekas orang sakit yang jauh itu semisal bajunya atau rambutnya atau yang semisalnya maka hal demikian ini menurut sebagian mereka tidak mengapa, dan ruqyah seperti itu tidak kita dapati riwayatnya bahwa Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam melakukannya:
"وخير الهدي هدي رسول الله صلى الله عليه وسلم".
"Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam".
Cukup bagi seseorang mendoakaannya dengan kesembuhan sebagaimana yang dilakukan oleh salafush sholih. Wallohu A'lam wa Ahkam.
Dijawab oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy pada 16 Shofar 1435 di pertahanan Alu Manna'.
Tanya Jawab Lainnya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar