Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Tanggapan Terhadap SYUBHAT ABU HAZIM Yang Tidak Sehat

Tanggapan terhadap subhat abu hazim
Bismillah
Assalamualaikum akhi
Ini ada di situs :
http://mahad-ittibaussunnah.blogspot.com/2015/03/tahdzir-untuk-situs-ashhabulhaditswordp.html?m=103:22
Bagaimana sikap kita thdp situs tsb ? 
Jazakallahu khairan
Apakah ustadz ustadz di Yaman mengenai situs di atas03:23
* apakah ustadz di yaman mengenal situs di atas Akhi ? Ittibaus sunnah ?03:23 
(Pertanyaan dari KEPRI) ---------------> tanggapan subhat 5  

t1PNG sound1
t1PNG sound2
t1
PNG sound3
t1
PNG sound4
t1
PNG sound 5
img_1490552_48579547_64

TANGGAPAN TERHADAP SYUBHAT ABU HAZIMYANG TIDAK SEHAT

بسم الله الرحمن الرحيم
:الحمد لله رب العالمين، وبعد
Dengan sebab mendengarkan apa yang dikatakan oleh Abu Hazim: “…KAYA SEKARANG ITU MUKHOTAB SENDIRI, DI KAMAR SENDIRI, NGOMONG SA’ KARAP DEWE….”, dengan sebab itu supaya tidak ada dzon (sangkaan) lagi maka kami bersengaja di sini menuliskan supaya dibaca dan diresapi.

Komentarnya terhadap perkataan kami sebagaimana yang dia sebutkan seperti ini:
“AMBIL POSISI KIRI DINGINNYA ANGIN MALAM”, dengan kata-kata ini kemudian dia katakan kepada para pendengar: “BAYANGKAN”.
Dari ucapannya “BAYANGKAN”, ini menampilkan dirinya kalau dia sangat sensitif (peka), cukuplah bagi Abu Hazim yang bayangkan sendiri pemikiran joroknya, kasihanilah anak-anak kecil yang mendengarkan!, janganlah Abu Hazim memerintahkan mereka untuk membayangkan sesuatu yang dia suka bayangkan!. Pemikiran sensitif semasa IAIN janganlah dibawa-bawa kepada anak-anak, orang yang telah memposisikan dirinya untuk ribath (jaga di perbatasan) Dammaj maka mereka mengetahui betapa dinginnya angin malam, adapun yang ribut seperti Abu Hazim ini maka cukuplah baginya merasakan dinginnya malam sesuai bayang-bayangnya, janganlah memaksakan dua keadaan yang berbeda:
(هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ)
“Apakah keduanya sama dalam permisalan?, tidakkah kalian mengambil pelajaran!”.
Adapun perkataan Abu Hazim:
“ORANG-ORANG PEMBUAT BID’AH”, maka kami tanyakan kepadanya: Kebid’ahan mana yang kami buat?, kalaulah benar ada maka tidak ada pilihan bagi kami melainkan hanya mengikuti As-Sunnah dan meninggalkan bid’ah, apa yang nampak pada kami berupa kesalahan, kekeliruan atau ada bid’ah seperti yang dikatakan itu maka kami Insya Alloh langsung meninggalkannya:
(وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِم)
“Dan tidaklah keberadaan bagi seorang mu’min dan tidak pula seorang mu’minah jika Alloh dan Rosul-Nya telah memutuskan suatu perkara akan ada bagi mereka pilihan yang lain dari perkara mereka”.
Tentang kue ulang tahun adalah buktinya, anda wahai Abu Hazim membantah kesalahan kami dalam memahami masalah tersebut tidak ada gunanya, sebelum anda berkomentar dengan menegangkan urat lehermu, itu kami telah tinggalkan kesalahan tersebut, tulisan kami “Muqaddimah Kitabil Buyu'” telah kami sebutkan tentang yang benar, juga sudah kami tanggapi pada komentar dari si majhul, bimbingan Salim bin Abdillah Rohimahulloh yang kami pegang:
فسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم أحق أن تتبع
“Sunnah Rosulillah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lebih berhak untuk diikuti”.
Al-Auza’iy Rohimahulloh mengatakan:
ندور مع السنة حيث دارت
“Kami akan berputar bersama As-Sunnah ketika dia berputar”.
Wahai Abu Hazim! anda dan si majhul yang menulis komentar di situs dengan meneriakan masalah tersebut tidak ada bedanya dengan teriakan para hizbiyyun tentang masalah “imam tsaqolain”?. 
Apa tanggapan anda wahai Abu Hazim dan si majhul yang bersamamu tentang komentar para hizbiyyun itu?, jika kamu dan si majhulmu mendiamkan mereka dalam masalah tersebut maka bisa jadi kamu sekeyakinan dengan mereka!, dan bila kamu dan si majhulmu menginkari mereka maka perbuatan kalian berdua sekarang ini telah mencabik-cabik kalian:
(كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ)
“Betapa besarnya kemurkaan di sisi Alloh ketika kalian mengatakan terhadap apa yang kalian tidak mengerjakannya”.
Adapun perkataanmu wahai Abu Hazim: “MINTA REKOMENDASI…..”, maka Alhamdulillah kami menyadari diri kami sangat membutuhkan tazkiyyah (rekomendasi pensucian) diri, namun tazkiyyah ini kami tidak mengharapkan kecuali hanya dari Robb kami Alloh Ta’ala semata:
(هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ)
“Dia adalah A’lam (Paling Mengetahui) tentang siapa yang bertaqwa”.
Kebiasaan anda suka mencari rekomendasi dan mencari dukungan di kalangan para masyayikh supaya men-sah-kan TN-mu maka jangan paksa-paksakan kami ingin sepertimu:
(قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيدًا)
“Katakanlah cukuplah bagi Alloh sebagai saksi di antaraku dan di antara kalian”.
Adapun perkataanmu wahai Abu Hazim bahwa kami: “MENJATUHKAN SYAIKH MUHAMMAD HIZAM..DICELA HABIS-HABISAN…”, maka ini mengherankan, bukankah dahulu anda yang mengirimkan syubhat Luqman Ba’abduh berupa buku “Celaan Bertubi-tubi” dan CD suaranya?, apakah anda sebelum mengirimnya anda copy terlebih dahulu sehingga sekarang baru anda paste-kan dengan mengganti nama Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy dengan nama kami?:
(وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُواَ)
“Dan jika kalian berkata maka berbuat adillah kalian!”.
Perkataanmu bahwa kami: “MEMBUAT TIPU DAYA” maka bukankah ini menjelaskan tentang dirimu sendiri, perkataanmu: “…..HADITS SEPI”, bukankah seharusnya anda menyadari sendiri ucapanmu dalam komentarmu itu sepi dari menyebutkan hadits?, orang yang masih bisa mendengar kaget denganmu karena kamu mengaku berhadits namun ucapanmu dan komentar yang keluar dari lisanmu hanyalah “hadats” bukan “hadits”?!. Bukankah itu adalah tipu daya yang sangat nyata?, lebih-lebih lagi perkataanmu: “MEMBOLEHKAN UNTUK HADIR DI TEMPAT SURURIYYUN”, dua ucapanmu itu mirip dengan yang diucapkan oleh adikmu Abu Arqom di dalam group “Gubuk…” bukankah itu adalah tipu daya semata?, pembolehan kami ketika itu sangat jelas yaitu bila dauroh mereka bersama masyayikh Ahlissunnah di masjid umum, lalu anda sekarang lancang dengan menyebutkan di tempat sururiyyun!, dan masalah inipun telah kami perjelas tentang tidak bolehnya.
Kemudian perkataanmu “Sururiyyun” bukankah perkataanmu ini hasil taqlid-anmu dari mantan ustadzmu Ja’far Umar Tholib?, bisa jadi sekarang dia mulai merinci vonis tersebut!, adapun anda maka masih tetap berpegang dengan ro’yi-nya yang dulu, betapa setianya anda?, apakah itu hasil panen dari sifat dan cirimu:
سمعت الناس يقولون شيئًا فقلته
“Aku mendengar manusia mereka mengatakan tentang sesuatu maka aku mengatakannya”.
Adapun perkataanmu tentang kami sebagai: “AL-ALLAMAH… INI PARAH SEKALI…”, maka ini juga hasil copy paste, yang menyebutkan semisal ini adalah para pembawa berita kepadamu, juga kawanmu Kholiful Hadi pernah ucapkan di depan para santri dengan penggelaran seperti itu, betapa kasihannya dirimu yang suka mencopy paste?!. Ucapanmu itu kamu anggap remeh dan kamu jadikan sebagai olok-olokan dan ejek-ejekan, anda mau katakan begitu atau mau katakan “ashhabul hadats” atau yang lainnya dari ejekan-ejekan sebagaimana telah dikatakan kepada kami dari selainmu maka tidak ada balasan dari kami melainkan perkataan Alloh Ta’ala:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ) إلى قوله: (وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابَ)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok kaum yang lainnya, bisa jadi keberadaan yang diperolok itu lebih baik dari mereka yang mengolok”. -sampai perkataan-Nya: “Dan janganlah kalian memanggil dengan gelar ejekan”.
Adapun perkataanmu wahai Abu Hazim: “SEBAGIAN MENGATAKAN: YUHIBBUZHZHUHUR …SENANG UNTUK TERKENAL” maka anda tidak perlu bersusah payah mengadakan dauroh masyayikh karena tujuanmu dari pertama kamu mengadakan dauroh supaya zhuhur dan ucapanmu jelas supaya menyaingi dauroh Luqmaniyyin!, ketika syaikhon pertama datang menginap di Cianjur anda pun tergila-gila, dan anda waras ketika syaikhon sudah berada di tempatmu. Kalau anda mengatakan tentang kami …SENANG UNTUK TERKENAL” bukankah prilakumu tersebut pantas dan lebih layak untuk dikatakan dengan perkataan itu?!. 
Supaya anda lebih terkenal lagi maka semoga tulisan ini, begitu pula tanggapan kami berupa suara semakin menambahmu lebih terkenal.
Perkataanmu itu tidak ada bedanya dengan Al-Mar’iyyun yang mana mereka menjadikan kitab “Thobaqot Lisyaikhina” sebagai bukti bahwa Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy kata mereka “… SENANG UNTUK TERKENAL”, apakah mereka merasa lebih mengetahui isi hati orang?, apakah anda wahai Abu Hazim akan berani menghukumi para masyayikh seperti penghukuman tersebut karena ada dari mereka memberi taqdim pada tulisan dengan tanpa dimintai untuk ditaqdim,padahal yang minta supaya hanya dikoreksi, apakah anda akan mengatakan dari mereka itu seperti yang anda katakan kepada kami?!. Masalah isi hati adalah masalah hamba dengan Robbnya Alloh Ta’ala, hanya Alloh Ta’ala saja yang mengetahuinya:
(وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ)
“Dan Alloh adalah Al-‘Alim (Maha Mengetahui) terhadap isi-isi hati”.
Adapun perkataan anda wahai Abu Hazim: “ALASANNYA MASALAH TN…”, janganlah anda kaburkan masalah sebagaimana para hizbiyyun ketika tidak menerima vonis Syaikhuna Yahya Al-Hajuriy terhadap Abdurrohman Al-Adniy mereka pun katakan: “Alasannya masalah tasjil…”. Dengan adanya TN-mu itu membuatmu semakin tidak waras, sekadar contoh ucapanmu: “YANG MENJADIKAN AL-ALLAMAH ABU AHMAD MUHAMAD AL-LIMBORIY TIAP MALAM MIMPI….”, dengan terlalu pintarnya menerapkan teori yang dia dapati dari IAIN maka orang yang menjadi korban kebid’ahannya diapun lemparkan ke kami:
(وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا)
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan dengan tanpa kesalahan yang mereka perbuat maka sungguh mereka telah melakukan kedustaan dan dosa yang nyata”.
Pengajar dan para pengurus di pondokmu bukan hanya kamu wahai Abu Hazim!, berapa orang yang sudah meninggalkanmu!, berapa orang lagi dulu bersamamu kemudian meninggalkanmu, apakah mereka hanya akan “ngge ngge to…., ngomong sa’ karapmu dewe”, mereka akan tertawa bila mendengar ucapanmu tersebut, anda mengingkari adanya fitnah dari bid’ahmu sementara mereka mempersaksikan dan menetapkan:
إن المثبت مقدم على النافي
“Sesungguhnya yang menetapkan itu adalah dikedepankan atas yang meniadakan”.
Yang mengetahui fitnah-fitnah dari bid’ahmu dan juga para korban baik dari ikhwan mau pun akhwat sebagai saksi atasmu, di dunia ataupun di akhirat nanti, dengan ucapanmu itu membuat mereka tertawa kepadamu!.
Adapun perkataanmu: “BILANG KAMI MUBTADI BIAR SAJA….”, maka bukankah ini bertolak belakang dengan sikapmu, kalau anda berprinsip “biar saja” lantas kenapa anda berkoar-koar seperti itu?, kenapa anda menampakan diri seperti orang yang mabuk?!, siapa yang anda perintahkan?:
(أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ)
“Mengapa kalian memerintahkan manusia dengan suatu kebaikan, dan kalian melupakan diri-diri kalian, dan kalian adalah membaca Al-Kitab, tidakkah kalian memikirkan?!”.
Lebih nampak lagi dengan prilakumu dalam memperkuat hakekatmu yang sebenarnya adalah pemutar balikan fakta dan kedustaan serta penyamaranmu, bukankah perbuatanmu ini telah menampakan perwujudan dari “arkanul hizbiyyah” yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Wadi’iy Rohimahulloh?, pada ucapanmu ini lebih menperjelas akan hal itu: “LEBIH ANEH DULU BAGAIMANA MENGAJUKAN PERTANYAAN KE SYAIKH YAHYA…. BETUL-BETUL TUDUHAN DUSTA”.
Dengan perkataanmu itu anda ingin mentalbis dan menipu para pendengar, siapa yang anda maksud dari orang yang mengajukan pertanyaan tersebut?, kalau anda dan para pemilik TN menganggap atau menuduhkan kepada kami yang mengajukan pertanyaan tersebut maka keberadaan kalian memang semakin jelas membuat tipu daya, dan tipu daya kalian ini akan bertambah jelas:
(وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ)
“Dan tipu daya mereka akan lenyap”.
Ketika diajukan pertanyaan tersebut, waktu itu kami baru beberapa hari di Dammaj, ketika kami mendengar ada tanggapan miring dari orang-orang Luqman Ba’abduh tentang isi pertanyaan maka kami tanyakan tentang pertanyaan itu siapa yang buat dan dari mana sumber-sumber kejadiannya?, merekapun menyebutkan dari fulan dan juga dari fulan, sumbernya banyak, mereka menyebutkan bahwa yang menulis pertanyaan adalah fulan dan fulan.
Dan gambaran tersebut diambil dari berbagai TN di Indonesia, namun karena Abu Hazim ini memiliki makar, dia pun menyimpulkan bahwa seakan-akan semua pertanyaan itu hujatan atasnya, apalagi dia perjelas dengan ucapannya: “BETUL-BETUL TUDUHAN DUSTA”, dengan kelicikannya, supaya bid’ah dan kemungkaran di TN-nya tertutupi dan tidak digugat, dia pun memunculkan kemungkaran besar yang bukan di TN-nya, supaya orang-orang mengalihkan perhatian darinya dan supaya menilai TN-nya bebas dari mukholafah:
من غشنا فليس منا
“Barang siapa yang menipu kami maka dia bukan termasuk dari kami”.
Demikian tanggapan yang singkat ini sebagai tambahan terhadap tanggapan melalui suara. Walhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar