Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Pengganti Mandi Junub Bagi Orang Yang Sakit

cooltext115767427437472cooltext115767427498132
TANYA: Apabila suami istri pada malam hari berhubungan, otomatis keduanya harus mandi junub. Bagaima tata cara mandi junub apabila salah satu dari suami/istri punya penyakit asma, sedangkan pada saat subuh udara terasa dingin dan di khawatirkan punya asma bisa kambuh… apakah salah satu dari suami/istri mandi saat hendak sholat subuh pada waktunya ataukah ada keringanan bagi yang punya sakit asma.?

Keringanan yang dimaksud adalah yang punya sakit asma membersihkan kemudian wudhu kemudian sholat dan mandi junubnya pada saat udara tidak dingin lagi. Ataukah yang punya sakit asma wajib mandi sebelum sholat subuh.
Jazakallah khair atas jawabannya. (Pertanyaan dari Makassar).
JAWABAN: Ketika seseorang junub dan dia tidak bisa menggunakan air dingin karena sakit yang dideritanya, bila dia tetap memaksakan mandi maka akibatnya akan menambah derita sakitnya, kalau keadaannya seperti itu maka jangan dia mandi sehingga dia tidak termasuk dari orang-orang yang disebutkan di dalam Al-Qur’an:
(وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا)
“Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Alloh bagi kalian adalah Ar-Rohim (Maha Penyayang)”.  
Asy-Syaikh Al-‘Allamah Yahya Al-Hajuriy Hafizhohulloh berdalil dengan ayat tersebut bahwa menjaga kesehatan adalah perkara yang dituntut, beliau berkata:
والمحافظة على الصحة أمر مطلوب، فإن الله قد أباح للمسافر الفطر في رمضان، وأباح للحاج حلق شعر رأسه إذا كان به أذى، وأباح أيضًا التيمم عند اشتداد البرد
“Dan penjagaan terhadap kesehatan adalah perkara penting, karena Alloh benar-benar telah membolehkan bagi orang yang safar untuk berbuka puasa pada bulan Romadhon, dan Dia membolehkan orang yang haji untuk mencukur rambut kepalanya, jika ada padanya gangguan, dan Dia juga membolehkan tayammum ketika sangat dingin”.
Setelah beliau membawakan dalil berupaya ayat seperti yang kami sebutkan tersebut, beliau berkata:
كل ذلك حفاظًا على صحة الإنسان.
“Semua demikian itu adalah penjagaan terhadap kesehatan bagi manusia”.
Ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak sanggup mandi karena akan menambah sakitnya maka baginya bertayammum, dan jangan dia berwudhu karena wudhu tidak teranggap sebagai pengganti mandi junub, namun yang menempati kedudukan mandi junub atau penggantinya adalah bertayammum, dengan dalil hadits Abu Musa Al-Asy’ariy bahwa Ammar Rodhiyallohu ‘Anhuma mengatakan:
بعثني رسول الله صلى الله عليه وسلم في حاجة فأجنبت، فلم أجد الماء، فتمرغت في الصعيد كما تمزغ الدابة
“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengutusku pada suatu keperluan, lalu aku junub, dan aku tidak mendapatkan air, maka akupun bergulung-gulung di debu sebagaimana bergulung-gulungnya binatang melata”. 
Beliau Rodhiyallohu ‘Anhu di sini berijtihad dengan ijtihad seperti itu, ketika beliau mengabarkan kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam akan perbuatan beliau maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam membimbinganya sambil berkata:
إنما كان يكفيك أن تقول بيدك هكذا
“Hanya saja cukup bagimu untuk kamu lakukan dengan tanganmu begini”.Yaitu:
ضرب بيده الأرض ضربة واحدة، ثم مسح الشمال على اليمين، وظاهر كفيه، ووجه
“Beliau melekatkan dengan tangannya ke tanah dengan sekali peletakan kemudian beliau mengusap yang kiri atas yang kanan, dan punggung telapak tanggannya lalu mengusap wajahnya”.
Dengan keterangan tersebut dapat kita simpulkan bahwa dianjurkan bertayammum pada tiga keadaan:
Keadaan pertama:
Kalau yang junub tidak sanggup menggunakan air, karena sakit yang ada padanya, bila dia memaksakan menggunakan air maka akan memudhorotkannya dan menambah parah pada sakitnya maka baginya bertayammum.
Keadaan kedua:
Yang junub memiliki keterbatasan air yang sangat, dalam artian kalau dia gunakan air tersebut untuk mandi junub maka dia tidak akan bisa lagi minum, dengan sebab itu akan memudhorotkannya maka baginya bertayammum, Alloh Ta’ala berkata:
(لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا)
“Tidaklah Alloh akan membebani suatu jiwa melainkan sesuai dengan apa yang Dia telah berikan kepadanya”.
Keadaan ketiga:
Dia sedang safar, ketika dia tidak mendapatkan air maka baginya bertayammum, Alloh Ta’ala berkata:
(وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)
“Dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau kalian menjima’i wanita-wanita, lalu kalian tidak mendapati air maka bertayammumlah kalian dengan debu yang baik, usaplah oleh kalian wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian dengannya, tidaklah Alloh menginginkan untuk menyusahkan kalian, akan tetapi dia menginginkan untuk mensucikan kalian, dan supaya Dia menyempurnakan ni’mat-Nya kepada kalian, supaya kalian bersyukur”.
Ayat ini termasuk dari dalil tentang tiga keadaan tersebut, Wallohu A’lam.
Semoga Alloh menyembuhkan kami dan menyembuhkan penanya dan keluarga penanya serta melindungi kita semua dari fitnah dan kejelekan.
Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afahulloh (28/5/1436).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar