Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Dakwah Karena Allah

img_1490552_48579547_64
Mohon dimintakan pembahasan nasehat untuk permasalaan para dai yang mengaku ahlussunnah, namun menjadikan agama sebagai ladang penghidupan. Seperti taklim mingguan atau bulanan kesana kemari, kekota A kekota B dll, dengan harapan panitia kajian memberikan amplop UMR yang sudah dimaklumi. (Pertanyaan dari Indramayu).
JAWAB: Tidak bisa menghukumi dengan pemutlakan seperti itu, karena ada dari orang-orang berkeinginan untuk mengadakan kajian atau ta’lim rutin bersama da’i fulan namun da’i tersebut tidak diberi biaya transportasi, pada hari pertama da’i tersebut datang dengan mengendarai angkutan umum atau kereta atau pesawat namun pada kajian berikutnya dia tidak akan datang lagi karena memikirkan biayanya, maka da’i seperti ini tidak bisa dihukumi dengan mengharapkan amplop atau mengharapkan penghidupan dari ta’limnya tersebut, dan hendaknya bagi mereka yang mengadakan kajian dengan para da’i untuk memperhatikan masalah ini, terkhusus bagi para da’i yang jauh, tentu membutuhkan biaya besar. Berbeda kalau  hanya ditempuh dengan jalan kaki, maka ini tidak memerlukan biaya.

Tidak datangnya para da’i pada acara dauroh yang akan mereka  isi karena sebabnya adalah masalah ongkos transportasi, berbeda kalau yang mengadakan ta’lim siap mengantar jemput da’inya dengan kendaraan pribadinya, bila seperti ini keadaannya kalau kemudian da’inya, tidak mau datang karena tidak diberi amplop maka ini yang menjadi permasalahan?!. 
Mengharapkan imbalan atau penghidupan dari berda’wah ini merupakan penyakit hizbiyyah, yang dia menyelisihi da’wah salafiyyah, Alloh Ta’ala berkata tentang da’wah para rosul:
(قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ)
“Katakanlah: Tidaklah aku akan meminta kepada kalian dari upah, dia bagi kalian, tidaklah ada upah bagiku kecuai dari Alloh, dan Dia atas segala sesuatu adalah Syahid (Menyaksikan)”.
Dan di sana kita dapati pula, memang ada dari para da’i senang menghadiri undangan untuk mengisi dauroh atau kajian rutin karena menginginkan amplop atau keni’matan-keni’matan duniawi atau ingin rekreasi, ini bisa diketahui dengan prilaku para da’i tersebut, sebagaimana pernah kita dengarkan ada dari para da’i senang keluar da’wah di daerah-daerah yang jauh, seperti ke Ambon, diantara mereka mengatakan: Biar nanti bisa makan colo-colo, makan ikan bakar, juga bisa jalan-jalan ke pantai-pantai atau ke pulau-pulau, semua ini menunjukan kalau memang sudah tidak murni untuk berda’wah di jalan Alloh akan tetapi ada yang dimaukan di balik itu. Dan lebih diperjelas lagi, ketika pulang ke murid-murid maka merekapun mengisahkan perjalanan da’wah mereka sambil memberikan motovasi “Belajar yang giat, nanti kalian dibutuhkan ke sana kemari… nanti kalian akan dapatkan amplop… dapat ini dan dapat itu”. Keadaan seperti ini menunjukan tujuan mereka keluar da’wah tidak murni karena Alloh. Wallohu A’lam.
Dan diantaranya pula yang menunjukan hal itu, adanya dari para da’i, awalnya ketika mereka baru kembali dari tempat belajarnya menampakan akhlak yang mulia, terkadang menampakan tawadhu’, zuhud dan hidup sederhana, ketika diminta untuk mengisi kajian atau mengisi dauroh di suatu kota, sesampainya di terminal dia tidak mau naik angkutan ber-AC, maunya dia naik angkutan yang sederhana atau yang biasa dikenal dengan “kelas ekonomi”, orang-orang pun kagum padanya. Ketika sudah mulai tergiur dengan amplop dan kemewah-mewahan, berikutnya dia sudah “gensi” dan enggan untuk naik kelas ekonomi, maunya harus angkutan yang lebih istimewa, karena sudah terus menerus, hingga lebih tergiur, yang tadinya hanya perjalanan antara kota, cukup dengan angkutan atau kereta, sekarang dia menginginkan harus dengan pesawat, dia pun menggunakan pesawat, keadaan pun berbalik, senang ke sana kemari supaya mendapatkan keni’matan-keni’matan duniawi, dan supaya bisa menyebarkan kebid’ahannya dan memperkuat hizbiyyahnya. Allohulmusta’an.
Dijawab oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Ghofarohulloh (23/5/1436).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar