Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Diantara Tanggapan Terhadap Pertanyaan Seputar Jaringan ISIS (Daulah Islamiyyah)

isis3
TANYA:
“Kenapa daulah Islamiyyah disebut khawarij?.
Apakah karena mereka membantu saudara muslim Ahlussunnah yang dibantai rezim syiah?.
Apakah karena daulah Islamiyyah melawan syiah,Amerika dan sekutunya, kemudian mereka dikatakan khawarij?.
Jika yang berjihad mengorbankan harta, jiwa dan darahnya untuk menolong muslim Ahlussunnah yang dibantai syiah, yang digempur Amerika dan sekutunya disebut khawarij, lalu siapa yg disebut mujahidin saat ini?”.

JAWAB: ISIS atau yang dinamai dengan daulah Islamiyyah dikatakan sebagai khowarij karena mengkafirkan pemerintah kaum muslimin dan menghalalkan darah kaum muslimin yang mereka bersama pemerintah tersebut, perbuatan dan keyakinan seperti ini adalah dosa dari dosa-dosa besar yang mengakibatkan pelakunya masuk ke dalam neraka, Alloh Ta’ala berkata:
(وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا)
“Dan barang siapa membunuh seorang mu’min dalam keadaan bersengaja maka balasannya adalah jahannam, dia lama di dalamnya, Alloh murka kepadanya, dan Dia mela’natnya serta menyediakan baginya azab yang pedih”.
Tidak hanya itu yang dilakukan oleh kaum khowarij, namun mereka juga memisahkan diri-diri mereka dari kaum muslimin dan pemimpin mereka, dengan membentuk jama’ah tersendiri sebagaimana kaum khowarij di zaman Ali bin Abi Tholib membentuk jama’ah tersendiri dan mereka bersatu dalam suatu kampung yang kemudian dinamai mereka dengan Haruriyyah.
Tidaklah mereka keluar dari pemerintahan Ali bin Abi Tholib melainkan karena sebab Ali bin Abi Tholib telah damai dengan Muawiyyah bin Abi Sufyan, dan juga Ali tidak menghalalkan harta dan kehormatan Muawiyyah dan orang-orang yang bersamanya, dengan itu mereka menuduh Ali tidak berhukum dengan hukum Alloh, yang pada akhirnya mereka menantang dan mengumumkan perlawanan terhadap penguasa Ali bin Abi Tholib.
Keadaan khowarij pada awalnya bangkit menampakan pembelaan kepada Ali, mereka ketika sudah membantai Utsman bin Affan maka mereka bergegas membai’at Ali dan membelanya, mereka memerangi siapa saja yang mereka anggap sebagai musuh-musuh Ali bin Abi Tholib, kemudian mereka berbelok haluan dengan memusuhi Ali, dengan anggapan karena berhukum dengan selain hukum Alloh, dan kita bisa bandingkan dengan ISIS (daulah Islamiyyah) ini, pada awalnya menampakan pembelaan kepada Ahlissunnah dengan memerangi syi’ah, namun akan tampak hakekat mereka ketika nanti Ahlussunnah mengingkari dan menyelisihi mereka?!.
Termasuk dari sifat khowarij dari sejak munculnya adalah meneriakan jihad, membela penguasa Ali bin Abi Tholib, membela kaum muslimin, karena ketika itu mereka menganggap Muawiyyah dan siapa saja yang bersamanya adalah termasuk orang-orang kafir, ketika Ali menginginkan adanya perdamaian dengan saudaranya Muawiyyah maka khowarij tidak terima, mau mereka tetap perang, mau mereka “jihad” dan “jihad”, namun jihad mereka tanpa didasari ilmu, maka benar apa yang kami katakan:
كل جهاد لم يؤكد بعلم، فإلى زيغ مصيره
“Setiap jihad yang tidak dikuatkan dengan ilmu, maka kepada penyimpangan tempat kembalinya”.
Para khowarij generasi pertama sangat bersemangat jihad, hingga mereka tidak terima adanya perdamaian, ketika Ibnu Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma menegakan hujjah kepada mereka, ternyata mereka sangat lemah dalam keilmuan dan pemahaman.
Kalaupun mereka sangat bersemangat jihad seperti itu maka keadaan mereka bukanlah mujahidin yang sesungguhnya, karena mujahidin yang sesungguhnya adalah mereka berperang untuk meninggikan kalimat tauhid dan merealisasikan konsekwensi kalimat tauhid tersebut:
(وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ)
“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan supaya keberadaan agama semuanya bagi Alloh”.
Demikian tujuan jihad untuk menghilangkan dan melenyapkan fitnah berupa kesyirikan dan perantara-perantara kepadanya, bukan sekedar mengibarkan bendera hitam yang tertuliskan kalimat tauhid atau menulisnya ke pengikat kepala, atau meninggikannya dengan ditancap ke bukit-bukit, namun ditinggikan kalimat tauhid dengan cara jihad syar’iy dan dengan cara merealisasikan konsekwensinya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله
“Barang siapa yang berjihad untuk menjadikan kalimat Alloh adalah tinggi maka dia adalah di jalan Alloh”.
Diantara konsekwensi kalimat tauhid sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Abul Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohmatulloh ‘Alaihi adalah:
امتثال الأوامر واجتناب النواهي
“Melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan”.
Betapa banyak larang-larangan yang telah dilakukan oleh ISIS dan betapa banyak pula perintah-perintah yang mereka tinggalkan?!.
Dijawab oleh: 
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (16/5/1436).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar