Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Tidak Ada Kehidupan Dengan Tanpa macam-macam Air

لا حياة بدون مياه  “Tidak ada kehidupan dengan tanpa macam-macam air”.
IMG-20141201-WA0000
Kebenaran teori ini berdasarkaan dalil-dalil, diantaranya Alloh Ta’ala berkata:
(وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ)
“Dan Alloh adalah menciptakan segala dabbah dari air”.
Dabbah adalah makhluk Alloh yang hidup di alam ini, dengan sifat-sifat sebagaimana pada kelanjutan ayat:
(فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ)
“Diantara mereka ada yang berjalan di atas perutnya, diantara mereka ada pula yang berjalan di atas kedua kaki, dan diantara mereka ada yang berjalan di atas empat kaki, Alloh menciptakan apa saja yang Dia kehendaki, sesungguhnya Alloh atas segala sesuatu adalah Al-Qodir (Maha Mampu)”.

IMG-20141201-WA0001Dari makhluk (ciptaan) Alloh yang Dia sebut dengan dabbah ini Dia klasifikasi menjadi tiga:
Pertama: Yang berjalan dengan perut seperti ular, nipan atau kaki seribu dan yang semisalnya.
Kedua: Yang berjalan dengan dua kaki seperti manusia, ayam, kaswari, kera dan yang semisalnya. 
Ketiga: Yang berjalan dengan empat kaki seperti kambing, sapi, onta, kucing, singa, anjing dan yang semisalnya.
Semua jenis binatang tersebut adalah dabbah, semuanya tidak akan bisa hidup dengan tanpa adanya macam-macam air, Alloh berkata tentang Anak Adam:
(أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ)
“Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina (air mani)”.
Dan Dia perjelas lagi masalah sejenis air ini sebagaimana perkataan-Nya:
(الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ * ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ)
“Dia Yang membuat segala sesuatu, Yang telah Dia menciptakannya, dan Dia memulai menciptakan manusia dari tanah, kemudian menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina”.
Dari dalil-dalil ini menunjukan bahwa sumber kehidupan Anak Adam adalah dari tetesan air mani.
Setelah Anak Adam dilahirkan di muka bumi ini maka dia akan membutuhkan kepada macam-macam air, begitu pula dabbah yang lainnya serta tumbuh-tumbuhan membutuhkan kepada macam-macam air, Alloh Ta’ala berkata:
(الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّىٰ * كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰٰ)
“Yang Dia telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan, dan Dia telah menjadikan bumi itu sebagai jalan-jalan serta Dia menurunkan dari langit air lalu Kami keluarkan dengan sebab air tersebut jenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam, makanlah oleh kalian dan peliharalah oleh kalian binatang-binatang ternak kalian, sesungguhnya demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.
Tidak hanya dabbah yang sangat membutuhkan kepada macam-macam air namun tumbuh-tumbuhan pun sangat membutuhkannya, sebagaimana keterangannya pada ayat tersebut.
Dan pada tumbuh-tumbuhan juga ada yang mengeluarkan air yang dibutuhkan oleh manusia, bila manusia keracunan karena makanan maka mereka membutuhkan kepada air degan (kelapa muda), begitu pula bagi orang yang sakit karena masuk angin maka dia membutuhkan kepada air jahe merah dan masih sangat banyak dari macam-macam air yang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup, maka dari sini kami menyebutkan pada teori ini dengan menggunakan istilah “miyah” (macam-macam air).
Dan lebih jelas lagi dalam masalah ini apa yang dialami oleh seorang penuntut ilmu di zaman dahulu, dia menempuh perjalanan jauh kemudian kehabisan bekal, hingga dia meminum air kencingnya sendiri, dengan sebab itu dia pun bisa hidup hingga sampai ke tujuannya. Ini menunjukan bahwa manusia dan seluruh dabbah serta tumbuh-tumbuhan tidak akan lepas dari kebutuhannya kepada macam-macam air, oleh karena itu kami tetapkan pula teori:
المياه تنال الحياة
“Macam-macam air adalah dia mengalirkan kehidupan”.
Demikian sekilas dari teori ini, namun bagaimana pun juga kebutuhan manusia terhadap air tidak akan melebihi kebutuhan mereka kepada ilmu, dengan kesimpulan ini maka kami katakan:
الناس بحاجة إلى العلم أكثر من حاجتهم إلى المياه فإنهم يحتاجون إلى المياه في كل يوم عشر مرات أو أقل منها، وأما العلم فهم يحتاجون إليه في كل وقت
“Manusia memiliki kebutuhan terhadap ilmu lebih banyak dari pada kebutuhan mereka kepada macam-macam air, karena sesungguhnya mereka membutuhkan macam-macam air dalam setiap hari sepuluh kali atau lebih sedikit darinya, adapun ilmu maka mereka membutuhkan kepadanya pada setiap waktu”.
Disampaikan oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (8/2/1436).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar