Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Patokan Penilaian

Tanya: Kepada Yth Ustadz Abu Ahmad: Ana baru dalam mengenal dakwah salafi ini. Cuma ada orang yang berkata kepada ana, dia berkata: Bahwa salafiyyun ini kurang perhatiannya kepada Alqur’an baik dari sisi hafalannya, kemantapan hafalan (mutqin), serta penguasaan qiraat sab’ah dan tradisi sanad Alqur’an. Orang tersebut berkata bahwa salafiyyun kurang (atau minoritas) dalam penguasaan ilmu-ilmu Alqur’an serta minim dari Qari’, khususnya salafiyyin zaman ini.
istiqomah
Jawab: Para salafiyyun berbeda-beda kemampuan mereka dalam menghafal Al-Qur’an, ada yang sangat mudah menghafal Al-Qur’an dan ada yang sangat susah, hal ini memang nyata kita dapati pada saudara-saudari kita terkhusus para menuntut ilmu, namun bukan ini yang jadi patokan penilaian, karena ini bukan hanya pada umat belakangan yang penuh kelemahan ini, namun di zaman kenabian sudah didapati banyak pula dari para shohabat yang tidak menghafal Al-Qur’an (30 juz), tidak ada satu riwayat pun menyebutkan bahwa para shohabat semua mereka menghafal Al-Qur’an (30 Juz), maka dengan itu ketika Ash-Shiddiq melihat para penghafal Al-Qur’an dari para shohabat sudah berkurang (banyak yang terbunuh), beliapun memutuskan untuk dikumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab yang dinamai dengan mushhaf. 
Begitu pula di zaman Amirul Mu’minin Umar Ibnul Khoththob Rodhiyallohu ‘anhu, beliau sangat membutuhkan para penghafal Al-Qur’an, ketika ada permintaan dari Mesir untuk diutuskan seseorang ke sana beliau merasa masih membutuhkan, kemudian beliau mengutuskan Abdurrohman bin Muljam (yang ketika itu dia masih istiqomah), diutus ke Mesir dalam keadaan beliau membutuhkannya untuk mengajarkan Al-Qur’an, ini sebagai dalil kalau di zaman tersebut memang para penghafal Al-Qur’an teranggap sedikit.

Begitu pula yang berkaitan dengan macam-macam qiro’at, tidak kita dapati semua para shohabat menguasainya, shohabat yang mulia Umar Ibnul Khoththob terkenal paling luas ilmunya bersamaan dengan itu ketika beliau mendengar seorang shohabat yang lain membaca dengan suatu qiro’ah yang berlainan dengannya maka beliau mengingkari, padahal itu adalah benar adanya dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana beliau benarkan bacaan shohabat tersebut begitu pula beliau benarkan bacaan Umar, maka apakah kemudian orang bangga yang berbicara tersebut akan mengatakan dirinya lebih pintar dari Umar?!, apakah dia akan mengatakan bahwa Umar kurang perhatian kepada Al-Qur’an dan berbagai macam qiro’at?!:
(وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا)
“Dan janganlah kamu mengucapkan apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya”.
TANYA: Benarkah salafiyyun minoritas dalam jumlah para qori’ atau syaikhul qurro’?.
JAWAB: Iya benar, bukan berarti kemudian memfokuskan para thullab untuk menekuni bidang ini dengan banyak melalaikan pada bidang lainnya, sangat jarang kita dapati ada dari thullab keluaran dari murid seorang qori’ tersebut menjadi da’i atau menjadi pengajar pada bidang aqidah atau lughoh, kalaupun ada maka dia awalnya dari murid orang lain atau pernah belajar kepada orang lain lalu pindah ke dia hingga bisa dia manfaatkan menjadi pengajar padanya, adapun kalau dia mengkader da’i maka sangat lemah, dan bahkan apa yang dia bangga-banggakan pada dirinya berupa penguasaan akan berubah dan turun drastis, bisa jadi hafalannya akan rusak atau akan hilang dengan sekejap, karena apa yang dia miliki atau yang dia kuasai adalah pemberian dari Alloh sebagai ujian padanya, kapan dia gunakan untuk kebanggaan pada dirinya atau melecehkan para salafiyyun dengan apa yang dia kuasai maka Alloh akan tampakan di depan matanya akibat dari semua itu:
(لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ)
“(Dijelaskan demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu bangga terhadap apa yang telah Dia berikan kepada kalian”.
TANYA: Benarkah orang orang asy’ari (khususnya orang Mesir dan Suriah) lebih perhatian kepada Alquran baik dari sisi hafalan, qira’ah, tradisi sanad periwayatan Alqur’an.
JAWAB: Walaupun mereka memiliki perhatian seperti itu, tidaklah menjadikan mereka termasuk dari Ahlul Qur’an, karena Ahlul Qur’an adalah merealisasikan tuntunan-tuntunan Al-Qur’an yang telah diajarkan oleh Ar-Rosul Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau datang tidak hanya membawa Al-Qur’an namun ada yang semisal dengannya yaitu As-Sunnah:
(كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ)
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rosul diantara kalian, dia membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami dan mensucikan kalian dan mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) kepada kalian, serta mengajarkan kepada kalian apa-apa yang dahulunya kalian tidak mengetahui”.
Sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Al-Ustadz Abu Kholifah Abdul Ghofur Al-Lumajangiy Al-Jawiy Rohimahulloh ketika berkata kepada salah seorang kawannya yang lemah hafalannya:
“Walaupun antum seperti itu keadaan antum, namun antum lebih baik dari pada para hizbiyyun, walaupun mereka banyak hafalan, akan tetapi mereka menyimpang, sedangkan antum istiqomah”.
Adapun masalah hafalan atau periwayatan maka ini bukanlah patokan:
ليست العبرة بكثرة الرواية وإنما العبرة هي الاستقامة
“Bukanlah pelajaran adalah dengan banyaknya riwayat, dan hanyalah pelajaran itu adalah keistiqomahan”.
TANYA: Benarkah orang-orang hizbiyun menjadikan hal ini (kurangnya perhatian terhadap Alqur’an) sebagai celah untuk menyerang salafiyyun?.
JAWAB: Bukanlah para hizbiyyun yang menjadikan perkara ini sebagai celah namun orang yang berbicara tersebut yang menjadikannya sebagai celah untuk menyikat para salafiyyin.
TANYA: Benarkah katanya salafiyyun lebih perhatian terhadap kitab-kitab para ulama?.
JAWAB: Begitulah memang keadaan para salafiyyun, mereka perhatian kepada kitab-kitab para ulama, baik kitab yang berkaitan dengan Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Bukan berarti kemudian mereka melalaikan satu diantara yang lainnya, mereka mempelajari kitab-kitab para ulama dengan tujuan:
لفهم كتاب الله تعالى وسنة نبيه صلى الله عليه وسلم
“Untuk memahami Kitabulloh Ta’ala dan sunnah Nabi-Nya Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”.
TANYA: Bagaimana mendudukkan perkataan para ulama salaf bahwa mereka tidak akan mempelajari ilmu-ilmu Islam yang lain jika belum hafal Alquran?.
JAWAB: Itu tidak semua mereka, bila seseorang mempersyaratkan harus menempuh seperti perkataan tersebut maka sungguh sangat memberatkan umat dan bahkan bisa menghalangi mereka dari mengenal berbagai ilmu-ilmu Islam, yang mengambil perkataan tersebut dan menerapkannya secara mentah-mentah maka kita tidak akan mendapatkan pada murid-muridnya akan tampil sebagai para da’i atau para penceramah melainkan hanya menjadi imam sholat jama’ah kalaupun dia tidak futur atau tidak hilang hafalannya.
Banyak dari para shohabat dahulu mempelajari ilmu-ilmu lain di sela-sela turunnya wahyu, mereka mempelajari As-Sunnah dan mempelajari Al-Ahkam (hukum-hukum) serta mempelajari iman, Jundub bin Abdillah Rodhiyallohu ‘anhu berkata:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيْمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيْمَانًا”.
“Dahulu kami bersama Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan kami adalah para pemuda yang kuat, kami mempelajari iman sebelum kami akan mempelajari Al-Qur’an, maka bertambahlah dengannya keimanan”.
TANYA: Benarkah banyak salafiyyun yang belum hafal Alqur’an namun sudah melompat mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya padahal belum hafal Alqur’an?.
Demikian pertanyaan ana, Semoga Ustadz Abu Ahmad dan yang lainnya selalu diberkahi Allah.
(Pertanyaan dari Riau).
JAWAB: Iya memang benar, karena sebagian mereka melihat sesuai keadaan mereka, ada dari mereka ke markiz ulama hanya dalam waktu yang sangat singkat, terkadang setahun atau lebih atau kurang dari itu, bila mereka mengejar hafalan Al-Qur’an atau terfokus hanya kepadanya maka bisa jadi mereka belum menghafalnya sudah datang saatnya untuk pulang, maka dengan keadaan seperti ini hendaknya mereka mengambil ilmu-ilmu yang paling dibutuhkan sehingga ketika kembali bisa memberikan manfaat kepada orang lain, sebagaimana keadaan beberapa shohabat ketika mereka datang kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mereka berkata:
فمرنا بأمر نخبر به من ورائنا
“Maka perintahkanlah kepada kami dengan suatu perintah supaya kami kabarkan dengannya kepada orang-orang yang di belakang kami”.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengajarkan kepada mereka tentang iman dan rukun-rukunnya serta Islam dan rukun-rukunnya, lalu beliau berkata:
احفظوه وأخبروه من وراءكم
“Hafallah oleh kalian perkara-perkara tersebut lalu kabarkanlah dia kepada orang-orang di belakang kalian”.
Demikian rata-rata para penuntut ilmu yang datang ke majlis para ulama, terkadang mereka hanya beberapa bulan dan sangat sedikit ada dari mereka sampai sepuluh tahun, dengan melihat sempit dan pendeknya waktu mereka maka mereka memgambil apa saja yang paling mereka butuhkan. Wallohu A’lam.
Dijawab oleh:
Abu Ahmad Al-Limboriy (15/2/1435).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar