Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Buletin Jum’at : Edisi 7/Jum’at 3/Shofar/1436H – Kewajiban Mengikuti Dalil

Buletin 7
KLIK GAMBAR UNTUK DOWNLOAD!
KEWAJIBAN MENGIKUTI DALIL


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله، والصلاة والسلام على رسول الله
:أما بعد
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkata:
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilan oleh kalian apa-apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Robb kalian, dan janganlah kalian mengikuti para wali dari selain-Nya, sangat sedikitlah kalian mengambil pelajaran”.
Pada ayat ini sangat jelas adanya perintah dari Alloh Ta’ala kepada kita untuk menerima apa saja yang telah dibawa oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, tidak boleh bagi kita untuk menerima dan mengambil pendapat-pendapat para ulama kita yang menyelisihi apa saja yang dibawa oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Abdillah Muhammad bin Idris yang dikenal dengan Al-Imam Asy-Syafi’iy Rohimahulloh berkata:
(إذا قلت قولًا خالف حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعلموا أني راجع عنه في حياتي وبعد موتي)
“Jika aku berkata dengan suatu perkataan yang dia menyelisihi hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam maka ketahuilah oleh kalian sesungguhnya aku mencabut dari perkataanku tersebut semasa hidupku dan sesudah kematianku”.
Bila seseorang sudah mengetahui perkataan Imam yang mulia ini maka dia berkewajiban untuk tidak menerima perkataan atau mazhab beliau bila itu menyelisihi dalil yang telah dibawa oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, Alloh Ta’ala berkata:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah keberadaan bagi seorang mu’min dan seorang mu’minah jika Alloh dan Rosul-Nya telah memutuskan tentang suatu perkata untuk mereka memilih dari perkara mereka dan barang siapa berma’siat kepada Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh Dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”.
Dan kokohnya keimanan seseorang bergantung kepada pengikutannya kepada dalil yang dibawa oleh Ar-Rosul, bila dia semakin berpegang teguh kepada dalil maka keimanannya semakin bertambah dan barang siapa tidak mengikuti dalil maka keimanannya berkurang, Alloh Ta’ala berkata:
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka sekali-kali tidak, demi Alloh tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim terhadap apa yang mereka perselisihkan diantara mereka, kemudian tidak didapati pada diri-diri mereka rasa berat terhadap apa-apa yang kamu putuskan, dan mereka menerima dengan sebenar-benar penerimaan”.
Bila seseorang menginginkan untuk memperoleh tambahan dan kekokohan iman serta menginginkan supaya dosa-dosanya diampuni maka hendaknya dia mengikuti apa saja yang dibawa oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, Alloh Ta’ala berkata:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (wahai Rosulloh): Jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku niscaya Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Alloh adalah Al-Ghofur lagi Ar-Rohim”.
TANYA:
Saya pernah menegur seseorang yang salah dalam sholatnya, terus dia marah, seorang tua bilang kepadaku biarkan saja yang penting dia sholat, apakah dibenarkan alasan ini?.
JAWAB:
Boleh bagi seseorang ketika melihat orang lain salah dalam sholatnya untuk dia menasehatinya dan memberitahukannya dengan tata cara sholat yang benar, sebagaimana Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika melihat salah seorang yang salah dalam sholatnya maka beliau memberitahukannya dengan yang benar.
Tidak dibenarkan beralasan dengan alasan “yang penting dia sholat”. Semoga Alloh merohmati Ustadzuna Abul ‘Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohimahulloh yang perhatian terhadap masyarakatnya dengan menda’wahkan kepada mereka bagaimana sholat yang benar, beliau dahulu sering menyebutkan kepada mereka bahwa amalan semisal sholat tidak akan diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kecuali dilakukan dengan mencontoh atau mengikuti sholatnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.
Kalaulah seandainya seseorang diberi keluasan untuk memilih tata cara sholat dengan semaunya maka tentu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam akan membiarkan orang yang salah dalam sholatnya tersebut, namun beliau memerintahkannya untuk kembali sholat dengan mengajarinya tata cara sholat yang benar, beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pernah sholat di atas mimbar supaya diteladai tata cara sholat beliau sebagaimana perkataannya:
صلوا كما رأيتموني أصلي
“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat”.
Inilah keberadaan agama Islam, diatur dengan suatu peraturan yang tidak bisa dirubah-rubah, dan bahkan dipersyaratkan dengan mengikuti peraturan tersebut, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد»
“Barang siapa mengadakan perkara baru di dalam perkara (agama) kami ini, yang dia bukan bagian darinya maka dia tertolak”.
Dalam suatu riwayat:
«من عمل عملًا ليس عليه أمرنا فهو رد»
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang dia bukan dari perkara (agama) kami maka dia tertolak”.
Berbeda dengan agama selain Islam, mereka dengan bebas membuat peraturan dalam beragama dengan itu agama mereka pun rusak dan berubah.

MUTIARA SALAF

* Al-Imam Asy-Syafi’iy Rohimahulloh dahulu ditanya tentang hadits shohih:
أتقول به؟
“Apakah kamu akan berkata dengannya?”.
Maka berubah wajah beliau, lalu berkata:
(أترى على وسطي زنارًا، أم تراني أعبد في كنيسة؟! أقول: صَحَّ الحديثُ، وتقول: أتعمل به؟!)
“Apakah kamu melihat pada pinggangku ada suatu pengikat? ataukah kamu melihatku beribadah di dalam gereja? aku katakan: Ini adalah haditsnya shohih dan kamu katakan apakah kamu akan mengamalkan dengannya?”.
* Imam Daril Hijroh Abu Abdillah Malik bin Anas Rohimahulloh berkata:
(كلٌّ يؤخذ من قوله ويُرد إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم)
“Setiap orang diambil dari perkataannya dan ditolak kecuali Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”.
* Al-Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al-Murji’y Rohimahulloh berkata:
(لا يحل لأحد أن يأخذ أو يقول عنا ما لم يعلم من أين أخذنا).
“Tidak halal bagi seseorang untuk dia mengambil atau berkata dari kami selama dia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya”.
* Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Rohimahulloh berkata:
(لا تقلدني ولا تقلد مالكًا ولا الشافعي، وخذ من حيث أخذنا).
“Janganlah kamu taqlid (membeo) kepadaku dan jangan pula taqlid kepada Malik, dan jangan pula kepada Asy-Syafi’iy dan ambillah olehmu dari mana kami mengambil”.
* Al-Imam Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy Rohimahulloh berkata:
فلسنا ندعو الناس إلى مذهبنا فليس لنا مذهب إلا كتاب ربنا وسنة نبينا صلى الله عليه وسلم، ولسنا ندعو الناس إلى اتباعنا فلسنا أهلا لأن نتبع، بل ندعو الناس إلى كتاب الله وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فهما الأمان من الضلال
“Tidaklah kami menyeru manusia kepada mazhab kami, tidaklah bagi kami suatu mazhab pun melainkan kitab Robb kami (Al-Qur’an) dan sunnah Nabi kami Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidaklah kami menyeru manusia kepada pengikutan kepada kami, bukanlah kami orang yang layak untuk diikuti, bahkan kami menyeru manusia kepada Kitabulloh (Al-Qur’an) dan sunnah Rosulillah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dengan pemahaman yang terjaga dari kesesatan”.
* Al-Imam Abul ‘Abbas Ahmad Al-Harroniy Rohimahulloh berkata:
ولا يجب على أحد من المسلمين تقليد شخص  بعينه من العلماء في كل ما يقول، ولا يجب على أحد من المسلمين التزام مذهب شخص معين غير الرسول صلى الله عليه وسلم في كل ما يوجبه ويخبره به، بل كل أحد من الناس يؤخذ من قوله ويترك إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم.
“Dan tidaklah wajib atas seseorang dari kalangan kaum muslimin untuk taqlid (membebek) kepada person orang tertentu dari para ulama terhadap apa yang dia katakan, dan tidak wajib pula bagi seseorang dari kaum muslimin pengharusan bermazhab dengan mazhab person tertentu selain Ar-Rosul Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam pada setiap yang diwajibkannya dan dikhobarkannya dengannya, bahkan setiap orang diambil dari perkataannya dan ditinggalkan kecuali Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar