Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

DOSA DOSA BESAR YANG DIANGGAP SEBAGAI MAKAR




               
بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Sesungguhnya manusia dalam menjalankan makar berbeda-beda modelnya, sudah sangat banyak kita dapati di tengah-tengah masyarakat kita, ketika mereka melakukan makar maka mereka tidak lepas dari menjerumuskan diri-diri mereka ke dalam dosa yang beraneka ragam modelnya, terkadang mereka menganggap dosa itu kecil atau remeh namun mereka tidak menyadari ketika mereka menerapkannya di dalam makar mereka maka berubahlah dosa tersebut menjadi besar dan bertumpuk-tumpuk karena madhorat dan mafsadatnya (lihat tulisan "MENGINGKARI KEMUNGKARAN DENGAN MEMBUAT KERUSAKAN").
Sepandai-pandainya orang yang membuat makar maka pasti makarnya akan hancur:
{وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]
"Dan makarnya mereka itu adalah hancur". (Fathir: 10).
Lebih-lebih kalau makar tersebut direncanakan untuk memudhoratkan atau mengganggu hamba-hamba Alloh yang beriman maka sungguh pasti akan hancur makar tersebut, Alloh Ta'ala berkata:
{وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ} [آل عمران: 54]
"Dan mereka membuat makar (tipu daya), dan Alloh membalas makar mereka itu. Dan Alloh adalah sebaik-baik pembalas tipu daya". (Ali Imron: 54).
Dan Dia berkata:
{وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ} [النمل: 50]
"Dan mereka membuat makar dengan sungguh-sungguh dan Kami membuat makar (pula) dengan sebenar-benar makar, dan mereka tidak menyadari". (An-Naml: 50).
Para pembuat makar terkadang merasa bangga karena mereka merasa berhasil dalam makar mereka, namun mereka tidak menyadari kalau ternyata mereka diulur-ulur dalam membuat makar tersebut:
{اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا (43) أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا (44)} [فاطر: 43، 44].
"Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena makar (mereka) yang jahat, dan tidaklah makar yang jahat itu akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tidaklah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (ketentuan Alloh yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu, maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian terhadap sunnah Alloh, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Alloh itu. Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Alloh baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Alloh adalah Al-'Alim (Maha mengetahui) lagi Al-Qodir (Maha Kuasa)". (Fathir: 43-44).
Mereka tidak menyadari di tengah-tengah menjalankan makar itu kalau Alloh Ta'ala seret mereka ke dalam kesesatan disebabkan penyelisihan mereka terhadap kebenaran dan disebabkan pula perbuatan mereka dengan melakukan makar kepada orang-orang yang beriman:
{فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [النور: 63]
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih". (An-Nuur: 63).
Tidaklah manusia terjatuh ke dalam kesesatan atau mereka bertambah sesat melainkan karena:
Pertama: Mereka memusuhi hamba-hamba Alloh Ta'ala yang beriman, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
«إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ».
"Sesungguhnya Alloh telah berkata: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan dengannya". Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari hadits Abu Huroiroh.
Kedua: Penyelisihan mereka kepada syari'at dan bermudah-mudahnya mereka dalam meninggalkan sunnah Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam.
Abu Bakr Ash-Shiddiq Rodhiyallohu 'Anhu berkata:
"لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ، فَإِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ".
"Tidaklah aku meninggalkan sesuatupun yang dahulu Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam melakukannya melainkan aku mengamalkannya, karena sesungguhnya aku takut jika aku meninggalkan sesuatu dari perkaranya aku akan menyimpang (tersesat)". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari Aisyah Rodhiyallohu 'anha.
Ini yang berkaitan dengan meninggalkan beramal terhadap sunnah, lalu bagaimana dengan yang mengamalkan larangan-larangan syari'at? atau yang mengadakan sesuatu yang tidak pernah Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam adakan? maka tentu tidak diragukan lagi bahwa mereka akan lebih mudah untuk terseret ke dalam penyimpangan dan kesesatan:
{فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [النور: 63]
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih". (An-Nuur: 63).
Dan Alloh Ta'ala berkata:
{وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ} [النساء: 14]
"Dan barangsiapa yang mema'siati Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, maka niscaya Dia (Alloh) akan memasukkannya ke dalam neraka, dia kekal di dalamnya; dan baginya azab yang menghinakan". (An-Nisa': 14).
Semoga apa yang kami tulis ini sebagai pengetuk hati kaum muslimin untuk sadar dan bertambah sadar dengan tidak lagi melakukan makar terhadap kaum muslimin yang lainnya.
Dan semoga tulisan ini juga menjadi salah satu sebab diberikannya hidayah kepada umat manusia untuk mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Rosululloh Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam.
Kami memohon kepada Alloh supaya Dia menjadikan tulisan ini bermanfaat, sebagaimana kami memohon kepada-Nya untuk mengampuni kami, kedua orang tua kami, saudara-saudara kami.
 وصَلَّى اللَّهُ على مُحَمَّد وَآلِهِ وَصَحْبِه وَسَلِّم
والحمد لله رب العالمين
Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy
Di Darul Hadits Dammaj-Yaman
Pada hari Sabtu-Dhuha, 16 Rojab 1434 Hijriyyah


MEMBUNUH ORANG YANG BERIMAN 

Tidaklah suatu pembunuhan yang dilakukan oleh pelakunya secara bersengaja melainkan karena memiliki tujuan, diantara tujuan pembunuhan adalah untuk menghentikan orang yang akan dibunuh dari kegiatan kesehariannya, jika dia seorang da'i maka tujuan dibunuhnya supaya da'wahnya da'i tersebut terputus atau berhenti, jika dia adalah seseorang yang mengingkari kemungkaran maka tujuan dibunuhnya supaya kemungkaran tidak teringkari lagi sehingga si pembunuh tersebut bertambah leluasa dalam melakukan kemungkaran.
Membunuh jiwa seorang mu'min dengan pembunuhan yang disengaja adalah termasuk dari dosa-dosa terbesar, karena dia termasuk dari dosa-dosa terbesar maka ancaman dan hukumnya besar pula.
Al-Imam Ahmad meriwayatkan di dalam "Musnad"nya dengan sanad hasan, dari hadits Abu Idris, beliau berkata: Aku mendengar Mu’awiyyah –dan dia sedikit haditsnya dari Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam-, beliau berkata: "Aku mendengar Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
« كُلُّ ذَنْبٍ عَسَى اللهُ أَنْ يَغْفِرَهُ، إِلَّا الرَّجُلُ يَمُوتُ كَافِرًا، أَوِ الرَّجُلُ يَقْتُلُ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا».
"Semua dosa semoga Alloh mengampuninya, kecuali seseorang yang mati dalam keadaan kafir atau seseorang yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja".
Dan Alloh Ta'ala juga berkata:
{وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا} [النساء: 93]
"Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja maka balasannya adalah Jahannam, dia kekal di dalamnya dan Alloh murka kepadanya, dan Dia mela'natnya serta menyediakan azab yang besar baginya". (An-Nisa': 93).
At-Tirmidziy dan yang selainnya meriwayatkan dari hadits 'Amr bin Dinar, dari Abdulloh bin Dinar, dari Abdulloh bin 'Abbas Rodhiyallohu 'anhuma dari Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
«يَجِيءُ المَقْتُولُ بِالقَاتِلِ يَوْمَ القِيَامَةِ نَاصِيَتُهُ وَرَأْسُهُ بِيَدِهِ وَأَوْدَاجُهُ تَشْخَبُ دَمًا، يَقُولُ: يَا رَبِّ، قَتَلَنِي هَذَا، حَتَّى يُدْنِيَهُ مِنَ العَرْشِ».
"Orang yang dibunuh akan datang pada hari kiamat dengan (membawa) orang yang membunuhnya, dengan memegang jambul (rambut depan) dan kepalanya dengan tangannya dan urat lehernya mengalirkan darah, dia berkata: Wahai Robbku! Orang ini membunuhku sampai (orang yang membunuh tersebut) dihinakannya dari Al-'Arsy".

 MENCELA DAN MENCACI KAUM MUSLIMIN

Asy-Syaikhon meriwayatkan di dalam "Shohihaihima" dari hadits Syu'bah, dari Zubaid, dari Abu Wail, dari Abdulloh bin Mas'ud, beliau berkata: Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ».
"Mencela seorang muslim adalah (perbuatan) kefasikan dan membunuhnya adalah (perbuatan) kekafiran".


 DUSTA, KHIANAT DAN MENGINGKARI JANJI

Dusta merupakan salah satu ciri dari ciri-ciri para hizbiyyun, Al-Wadi'iy Rohimahulloh berkata sebagaimana di dalam "An-Nashihatu wal Bayan" (hal. 116): Rukun hizbiyyah ada tiga:
Pertama: Dusta,
Kedua: Tipu muslihat, dan
Ketiga: Talbis (menyamarkan antara kebenaran dengan kebatilan).
Disamping dia sebagai tanda atau ciri dari ciri-ciri para hizbiyyun dia juga termasuk salah satu dari tanda atau ciri orang-orang munafiq, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
«مِنْ عَلَامَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلَاثَةٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ».
"Termasuk dari tanda-tanda orang munafiq adalah tiga; Jika berkata dia dusta, jika dia berjanji maka dia selisihi (janjinya) dan jika diberi amanah dia berkhianat". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari hadits Abu Huroiroh.
Di dalam suatu riwayat dari hadits Abdulloh bin 'Amr Rodhiyallohu 'anhuma ada padanya tambahan:
«وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ».
"Dan jika dia berselisih maka dia berbuat jahat".

 NAMIMAH (ADU DOMBA)

Namimah hukumnya adalah harom, dan dia termasuk dari dosa besar, karena ancamannya adalah neraka.
Setiap perbuatan yang ancamannya adalah neraka maka dia teranggap sebagai dosa besar.
Al-Imam Al-Bukhoriy Rohimahulloh berkata di dalam "Ash-Shohih":
"بَابٌ: النَّمِيمَةُ مِنَ الكَبَائِرِ".
"Bab: Namimah termasuk dari dosa-dosa besar".
Namimah memiliki dua ma'na:
Pertama:
"نقل الكلام بين الناس بقصد الإفساد".
"Menukil perkataan di antara manusia dimaksudkan (dengannya) membuat kerusakan".
Kedua:
"هو الذي يتسمع على القوم وهم لا يعلمون ذلك ثم ينقل ما سمعه منهم".
"Dia yang mendengar atas (perkataan) suatu kaum dan mereka tidak mengetahui demikian itu kemudian dia menukil apa yang dia mendengarkannya dari mereka".
Setelah Al-Imam Al-Bukhoriy Rohimahulloh membuat bab tersebut, beliau membawakan dalil-dalil, lalu menyebutkan bab baru:
"بَابُ مَا يُكْرَهُ مِنَ النَّمِيمَةِ".
"Bab apa-apa yang dibenci dari namimah".
Setelah bab tersebut beliau membawakan dua ayat, lalu beliau berkata: "Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Manshur, dari Ibrohim, dari Hammam, beliau berkata: Kami bersama Huzaifah, maka dikatakan kepadanya:
"إِنَّ رَجُلًا يَرْفَعُ الحَدِيثَ إِلَى عُثْمَانَ، فَقَالَ لَهُ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَتَّاتٌ»".
"Sesungguhnya seseorang menyandarkan satu perkataan kepada Utsman, maka Hudzaifah berkata kepadanya: Aku mendengar Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata: "Tidak akan masuk Jannah orang yang melakukan qottat".
Qottat pada hadits ini berma'na namimah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam "Shohih"nya dari hadits Abu Wail dari Huzaifah dengan lafadz:
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ».
"Tidak akan masuk Jannah orang yang berbuat namimah".


 GHIBAH

Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bertanya kepada para shohabatnya:
«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟»
"Taukah kalian apa itu ghibah?", mereka (para shohabat) berkata:
"اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ".
"Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tahu". Beliau berkata:
«ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ».
"Kamu menyebutkan saudaramu dengan apa yang dia membenci (menyebutkan)nya". Dikatakan kepada beliau:
"أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟".
"Apa pendapatmu kalau (benar ada) pada saudaraku atas apa yang aku katakan?", beliau berkata:
«إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ».
"Jika ada padanya apa yang kamu katakan maka sungguh kamu telah menggibahinya, dan jika tidak ada padanya maka sungguh kamu telah membuat kedustaan padanya". Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Huroiroh.
Siapa saja yang menggibahi orang lain maka dia telah melakukan makar kepadanya, Alloh Ta'ala berkata tentang kisah Nabi-Nya Yusuf 'Alaihis Salam:
{وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (30) {فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ} [يوسف: 30-31] .
"Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al-Aziz (permaisuri) menggoda anak angkat (pangeran)nya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada pangerannya itu adalah sangat mendalam, sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata", maka tatkala sang permaisuri mendengar makar (ghibah) mereka, diundanglah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangan-tangan mereka dan mereka berkata: "Maha sempurna Alloh, ini bukanlah manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia". (Yusuf: 30-31).

 MENCARI-CARI AIB KAUM MUSLIMIN

Merupakan suatu kewajiban dan keharusan bagi siapa saja yang bekerja sebagai jasus (memata-matai) orang-orang mu'min atau dipekerjakan sebagai jasus dalam memata-matai orang-orang mu'min untuk bertaubat kepada Alloh Ta'ala, karena memata-matai orang-orang mu'min adalah termasuk salah satu dari dosa-dosa besar.
Tidaklah seseorang memata-matai orang-orang mu'min melainkan karena dia memiliki dzon (sangkaan) kepada mereka, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا».
"Berhati-hatilah kalian dari sangkaan, karena sesungguhnya sangkaan itu adalah paling dustanya perkataan, dan janganlah kalian saling mencari-cari aib dan saling memata-matai". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari Abu Huroiroh.
Ini sangat jelas tentang keharomannya, Alloh Ta'ala berkata:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ} [الحجرات: 12].
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian berbanyak sangka, sesungguhnya sebagian sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kalian saling memata-matai dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain, apakah suka salah seorang diantara kalian memakan bangkai saudaranya yang sudah mati? maka tentu kalian merasa jijik (benci)". (Al-Hujarot: 12).
Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
«مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ المُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ».
"Barang siapa yang mencari-cari (membongkar) aib saudaranya seorang muslim maka Alloh akan membongkar aibnya". Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dari Nafi' dari Abdulloh bin Umar.
Dan merupakan salah satu kelancangan dari para jasus yang memata-matai orang-orang mu'min ketika sudah mendapatkan apa yang dimata-matai maka langsung mereka beberkan di hadapan manusia, ini termasuk pula kesalahan dan dosa besar, dari Mu'awiyyah, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
«إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ».
"Sesungguhnya kamu jika mencari-cari (memata-matai) aib-aib manusia maka kamu telah menyobek-nyobek (merusak) mereka atau barangkali kamu akan membinasakan mereka". Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ath-Thobariy.
Abu Darda' berkata:
"كَلِمَةٌ سَمِعَهَا مُعَاوِيَةُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَفَعَهُ اللهُ بِهَا".
"Ini adalah kalimat yang Mu'awiyyah mendengarkannya dari Rosululoh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, Alloh telah memberikannya manfaat dengannya".

                   MEMBANTU ORANG DENGAN NIAT SUPAYA DIPUJI 

Tidak boleh bagi seseorang untuk membantu orang lain dengan niat mencari pujian atau sanjungan, karena ini termasuk dari syirik kecil, bila seseorang berbuat seperti ini maka dia tidak diberi pahala atas bantuannya, Alloh Ta'ala berkata:
{وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا} [الفرقان: 23]
"Dan Kami hadapkan kepada apa yang telah mereka lakukan dari suatu amalan, lalu Kami menjadikannya seperti debu yang berterangan". (Al-Furqon: 23).
Tidak diragukan lagi bahwa orang yang suka pujian dan sanjungan atau menampakan sesuatu yang tidak ada padanya akan terhujati dengan perkataan Alloh Ta'ala:
{لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [آل عمران: 188].
"Janganlah kamu mengira tentang orang-orang yang mereka bergembira terhadap apa-apa yang mereka kerjakan dan mereka senang supaya dipuji tentang perbuatan yang tidak pernah mereka kerjakan, maka janganlah kamu mengira bahwasanya mereka terbebas dari azab, dan bagi mereka adalah azab yang pedih". (Ali Imron: 188).

 MENGAMBIL KEMBALI PEMBERIAN YANG SUDAH DIBERIKAN 

Orang yang memberi suatu pemberian kemudian mengambil lagi pemberiannya maka dia tidak ada bedanya dengan anak kecil yang masih ingusan, bahkan dia persis dengan anjing, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
«العَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ».
"Orang yang mengambil kembali pemberiannya seperti anjing yang muntah lalu memangsa kembali muntahannya". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari Abdulloh bin Abbas.

MENUDUH ORANG ORANG YANG BERIMAN DENGAN TUDUHAN KEJI YAITU ZINA. HOMOSEX DAN SEMISALNYA

Alloh Ta'ala berkata:
{إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ المُحْصَنَاتِ الغَافِلاَتِ المُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ} [النور: 23].
"Sesungguhnya orang-orang yang mereka melemparkan tuduhan kepada wanita-wanita suci dengan tuduhan berbuat zina maka mereka dila'nat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang besar". (An-Nur: 23).
Dan Dia juga berkata:
{وَالَّذِينَ يَرْمُونَ المُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلاَ تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الفَاسِقُونَ إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 5].
"Dan orang-orang yang mereka melemparkan tuduhan kepada wanita-wanita yang suci kemudian mereka tidak mendatangkan 4 (empat) saksi maka mereka dicambuk dengan 80 (delapanpuluh) cambukan dan tidaklah diterima persaksian mereka selama-lamanya, dan mereka itu adalah orang-orang yang fasiq, kecuali orang-orang yang mereka bertaubat  setelah itu dan mereka melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Alloh adalah Al-Ghofur (Maha Pengampun) lagi Ar-Rohim (Maha Penyayang)". (An-Nur: 5).
Dari ayat tersebut sangat jelas menerangkan bahwasanya siapa saja yang menuduh orang-orang beriman dengan tuduhan zina atau homoseks sementara dia tidak bisa mendatangkan empat saksi maka dia dihukum cambuk dengan 80 (delapan puluh) cambukan, kalau dia terbebas dari hukuman ini karena mungkin makarnya kuat maka dia mendapatkan hukuman yang lain berupa tidak diterimanya persaksiannya selama-lamanya ketika di dunia, bersamaan dengan itu dia dila'nat di kehidupan dunia dan begitu pula ketika di akhirat nanti masih mendapatkan la'nat dan ditambah dengan azab yang pedih sebagaimana penjelasannya pada ayat An-Nur (23) tersebut.

 MENDANAI PARA PEMBUAT DOSA

Barangsiapa yang terus mendanai atau memfasilitasi para pembuat dosa maka Alloh Ta'ala akan mela'natnya, Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam berkata:
«وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا»
"Dan la'nat Alloh atas orang yang menaungi pelaku dosa".
Perkataannya "muhdits" masuk di dalamnya pelaku bid'ah dan pelaku seluruh kema'siatan sebagaimana telah dikatakan oleh para ulama.



Demikian tulisan yang ringkas ini, semoga bermanfaat untuk kami, kedua orang tua kami dan siapa saja yang membacanya dan yang menyebarkannya.
وصَلَّى اللَّهُ على مُحَمَّد وَآلِهِ وَصَحْبِه وَسَلِّم
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والحمد لله رب العالمين.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar