Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

Jadilah Kalian Sebagai Penolong Allah



Jadilah Kalian Sebagai Penolong Allah

بسم الله الرحمن الرحيم
أما بعد‏ الحمد لله رب العالمين

Ini adalah rangkaian penjelasan seputar permasalahan yang berkaitan dengan jihad di Dammaj, pada tulisan ini terdapat nasehat dan dorongan untuk berpartisipasi dalam mewujudkan jihad, baik dengan jiwa, harta dan doa, yang kami tulis di matras Wathon Dammaj dengan menggunakan HP. Semoga apa yang kami tulis ini bermanfaat.  
JADILAH KALIAN SEBAGAI PENOLONG ALLOH
Satu
Alloh Ta'ala memerintahkan orang-orang yang mengaku beriman untuk membuktikan keimanan mereka dengan cara menolong-Nya, ya'ni menolong agama-Nya, sebagaimana yang Dia katakan di dalam surat Ash-Shof ayat (14). Pada ayattersebut kita diperintah untuk menolong agama-Nya sebagaimana Al-Hawariyyun menolong agama Alloh dengan bimbingan rosul-Nya Isa bin Maryam. Pada ayat tersebut terdapat faedah yang indah dan mewah yang menerangkan tentang keutamaan Al-Hawariyyun (para shohabat nabi Isa). Orang-orang Nashoro sebelum diutusnya Ahmad (ya'ni Muhammad)Shollallohu 'Alaihi wa Sallam mereka sangat memuliakan Al-Hawariyyun,karena mereka memperoleh ilmu dari kitab Injil dengan sebab Al-Hawariyyun, merekalah yang meneruskan da'wah 'Isa 'Alaihis Salam, karena perjuangan mereka yang begitu berharga maka kaum Nashoro yang hidup di zaman sebelum diutusnya Ahmad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam mereka memuliakan Al-Hawariyyun, tidaklah mereka disebut melainkan dengan kebaikan dan kecintaan. Berbeda dengan penganut agama Syi'ah, mereka mencela, mela'nat dan menjatuhkan kehormatan para shohabat Nabi, tidak hanya para shohabat, nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam-pun mereka hina, dikatakan mencintai wanita berzina ya'ni Aisyah Ummul Mu'minin Rodhiyallohu 'Anha. Tidak hanya itu, namun mereka lancang juga dengan merubah-rubah dan menambah-nambah Kitabulloh Al-Qur'an, perbuatan mereka tidak jauh beda dengan kaum Nashoro yang hidup di zaman setelah diutusnya nabi Al-Ummiy ya'ni Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, mereka memiliki kesamaan tujuan dan cita-cita ya'ni berupaya untuk menghancurkan agama Alloh  dan mematikan cahaya-Nya, namun Alloh tidak akan membiarkan mereka akan tetapi Dia akan tetap mengokohkan agama-Nya sebagaimanaperkataan-Nya di dalam surat Ash-Shof ayat (8-9). Demikian yang bisa kami tuliskan pada pertemuan pertama ini di matras Wathon-Dammaj padahari Selasa 24 Dzulhijjah 1434

NASEHAT UNTUK YANG BAIK HATI

NASEHAT UNTUK YANG BAIK HATI.

Dengan nama Alloh yang Ar-Rohmaan (Maha Pengasih) lagi Ar-Rohiim (Maha Penyayang).

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam. Kemudian dari pada itu: Telah sampai berita kepada kami tentang niat baik saudara-saudari kami kaum muslimin di Tanah Airku Indonesia, bahwa mereka melakukan pengumpulan dana atau bantuan untuk saudara-saudari mereka di bumi Dammaj semoga Alloh menjaganya dan menjaga kaum muslimin di dalamnya.

Perjalanan Hidup Abul 'Abbas Harmin


RINGKASAN KETERANGAN
TENTANG
PERJALANAN HIDUP ABUL 'ABBAS HARMIN 

Ditulis Oleh:
Abu Muhammad Anas bin Salim Al-Limboriy
'Afallohu 'Anhu

Diberi Keterangan Oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy
'Afallohu 'Anhu

Kesabaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan Para Sahabatnya


KESABARAN ROSULULLOH SHOLLALLOHU 'ALAIAHI WA SALLAM
DAN PARA SHOHABATNYA

Ditulis Oleh:
Abu Muhammad Anas bin Salim Al-Limboriy
'Afallohu 'Anhu


Diberi Catatan Kaki Oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy
'Afallohu 'Anhu


Tujuan Syari'at Islam

Klik gambar untuk DOWNLOAD pdf


KATA PENGANTAR
(ABU AHMAD MUHAMMAD BIN SALIM AL-LIMBORIY)


بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Ini adalah salah satu bagian dari tulisan saudara kami Abul 'Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohimahulloh wa Askanahu Jannatal Firdausil A'la' yang kami salin dari buku induknya "URGENSI TAUHID DALAM PENEGAKAN SYARI'AT ISLAM".
Di dalam buku tersebut terdapat sub pembahasan yang beliau Rohimahulloh telah memberinya judul yaitu: "TUJUAN SYARI'AT ISLAM".
Semoga Alloh 'Azza wa Jalla menjadikan apa yang beliau tulis ini bermanfaat untuk dirinya, putra-putrinya, saudara-saudarinya dan keluarganya serta siapa saja yang menginginkan kebaikan, yang beliau Rohimahulloh telah mendahului mereka:
{رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [الحشر: 10].
"Ya Robb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau menjadikan kedengkian di dalam hati kami kepada orang-orang yang beriman; Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau adalah Ar-Ro'uf (Maha Penyantun) lagi Ar-Rohim (Maha Penyayang)". (Al-Hasyr: 10).

Hukum Mihrob Masjid Dalam Islam




بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله رَبّ العَالَمِينَ.أمّا بعدُ:

Telah sampai pertanyaan kepada Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy yang berbunyi:

Apa hukum masjid yang ada mihrobnya, karena ada ustadz lulusan Dammaj mengatakan bahwa masjid ada mihrobnya tasyabbuh dengan gereja?, padahal masjid di Dammaj juga ada mihrobnya, juga masjid Nabawiy ada mihrobnya, mana yang benar dalam masalah ini?".

Sesaat Lagi Semua Akan Mati


PENDAHULUAN

بِسمِ الله الرَّحمنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَحْمَدُهُ، وَأَسْتَعِينُهُ، وَأَسْتَنْصِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أمَّا بَعدُ:
Alloh Ta'ala berkata di dalam Al-Qur'an:
{وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ  مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ وَسَكَنْتُمْ فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ} [إبراهيم: 42-45].
"Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Alloh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zholim. Sesungguhnya Alloh memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong. Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zholim: "Waha Robb kami, beri tangguhlah kami  walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan kami akan mengikuti rosul-rosul". (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah dahulu kalian telah bersumpah bahwa sekali-kali kalian tidak akan binasa?. Dan kalian telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagi kalian bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepada kalian beberapa perumpamaan". (Ibrohim: 42-45).
Bila seseorang membaca, merenungi dan meresapi ayat-ayat Al-Qur'an tersebut maka tentu akan membuatnya untuk sadar, bila dia sudah menyadari tentang arti dari sebuah kehidupan maka dia akan bertambah sadar, 

المبادئ المفيدة DASAR-DASAR YANG BERFAEDAH





المبادئ المفيدة
في التوحيد والفقه والعقيدة

DASAR-DASAR YANG BERFAEDAH
TENTANG
TAUHID, FIQIH DAN AQIDAH

HUBUNGAN ANTARA TAUHID DAN SYARI'AT


KATA PENGANTAR
(ABU AHMAD MUHAMMAD BIN SALIM AL-LIMBORIY)

 بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Ini adalah salah satu dari tulisan saudara kami yang mulia Abul 'Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohimahulloh wa Askanahu Jannatal Firdausil A'la' yang kami salin dari buku induknya "URGENSI TAUHID DALAM PENEGAKAN SYARI'AT ISLAM". Beliau Rohimahulloh telah memberi judul pada sub pembahasan tersendiri dengan judul "Hubungan Antara Tauhid dengan Syari'at".

SYARAT YANG TEPAT



Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy 'Afallohu 'anhu.


بسم الله الرحمن الرحيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Telah sampai kepada kami keluhan bahwa ada orang-orang mengatakan bahwa boleh bagi wanita untuk menetap di rumah ustadz atau di asramanya, dia berkata bahwa di "Ash-Shohihul Musnad" ada haditsnya dan ada seorang syaikh menyatakan tidak apa-apa.
Demikianlah cara ahlul bathil dalam menda'wahkan kebatilan mereka, dengan mudah mengatakan ada di kitab itu, lebih hina dan rendah lagi berhujjah dengan "syaikh fulan membolehkan".
Kami tidak mengira kalau ada orang yang menisbatkan diri kepada "sunnah" atau kepada "ilmu" namun ternyata bersikap seperti orang-orang shufi, yang mereka hanya berdalil syaikh fulan atau ulama membolehkan, Laa Ilaha Illalloh.
Sudah lama permasalahan santriwati tinggal di asrama diperbincangkan dan diperselisihkan ternyata ada seseorang yang mengambil andil besar, karena latar belakangnya bisa belajar dan menuntut ilmu dengan cara memanfaatkan santriwati, menikahinya kemudian dia didanai olehnya, setelah itu "habis manis sepak dibuang", disakiti lalu dicerai karena dianggap mengganggunya dalam belajar dan menuntut ilmu, kini dia tampil dengan sekuat tenaga bahkan berani membuat "fatwa tandingan", mungkin supaya dia mendapatkan santriwati baru yang bertempat tinggal di asrama, sehingga dia memanfaatkannya kembali sebagaimana dahulu dia dengan penuh kelicikan memanfaatkan anak wanita orang (santriwati), Na'udzubillahi min syarrihi.

Perkara Perkara Penting Yang Perlu Diketahui Oleh Setiap Muslim



PENDAHULUAN

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Termasuk dari perkara penting yang manusia telah lalai darinya adalah pelaksanaan rukun-rukun Islam yang telah disebutkan oleh Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam yaitu:
«الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا».
"Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, kamu menegakan sholat, kamu nenunaikan zakat, kamu berpuasa Romadhon dan kamu haji ke Ka'bah jika kamu mampu melakukan perjalanan ke sana". Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari Abu Huroiroh dan Muslim dari Umar Ibnul Khoththob.

TOLONG MENOLONG


بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم

الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Pada hari Senin 11 Dzul Qo'dah 1434 telah sampai kepada kami sepucuk surat, diantara isinya adalah permohonan supaya kami memberikan penjelasan yang terkait dengan hadits yang diriwayatkan dari Shohabat 'Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘anhuma bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata :
«إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ».
"Jika kamu meminta sesuatu maka mintalah kepada Alloh  dan jika kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Alloh". Yang menjadi pokok permasalahannya adalah: Bagaimana cara merealisasikan hadits tersebut? dan adakah keterkaitan antara hadits tersebut dengan definisi bahwasanya manusia adalah makhluk sosial?.

PEREALISASIAN HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidziy, beliau berkata: "Ini adalah hadits shohih", hadits tersebut terdapat bimbingan dari Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam untuk putra pamannya Abdulloh, dan juga bimbingan kepada umat Islam secara keseluruhan untuk benar-benar hanya beribadah kepada Alloh Ta'ala, karena yang diinginkan dengan perintah "meminta tolong" adalah ibadah sebagaimana yang Alloh Ta'ala katakan tentang ikrarnya setiap hamba ketika sedang menegakan sholat:
{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: 5]
"Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu-lah kami meminta pertolongan". (Al-Fatihah: 5).
Abul 'Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy Rohimahulloh berkata: "Ayat ini menjelaskan tentang tauhid".
Abdurrohman bin Nashir As-Sa'diy Rohimahulloh dalam menjelaskan ayat tersebut beliau berkata:
"أي: نخصك وحدك بالعبادة والاستعانة".
"Yaitu: Kami mengkhususkan bagi-Mu saja dalam beribadah dan dalam meminta pertolongan".
Alloh Ta'ala menamakan "al-isti'anah" (meminta pertolongan) sama dengan "al-mas'alah" (permohonan) sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Huroiroh Rodhiyallohu 'anhu tatkala seseorang di dalam sholatnya membaca:
{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}.
"Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu-lah kami meminta pertolongan". Maka Alloh Ta'ala berkata:
«هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ».
"Ini antara-Ku dan antara hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang telah dia minta".
Dari keterangan ini maka bertambah jelaslah bahwa "al-isti'anah" (meminta pertolongan) dikatakan pula sebagai "al-mas'alah" atau "ad-du'a" (permohonan) sebagaimana yang telah dikatakan oleh Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam kepada Mu'adz bin Jabal:
«فَلَا تَدَعْ أَنْ تَقُولَ فِي كُلِّ صَلَاةٍ: "رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحَسَنِ عِبَادَتِكَ"».
 "Janganlah kamu meninggalkan untuk berdo'a pada setiap sholatmu: "Wahai Robbku tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu". Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa'iy.
Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin Rohimahulloh telah membuat penjelasan tentang masalah ini, beliau berkata:
"فدعاء المسألة هو دعاء الطلب أي طلب الحاجات وهو عبادة إذا كان من العبد لربه، لأنه يتضمن الإفتقار إلى الله تعالى واللجوء إليه، واعتقاد أنه قادر كريم واسع الفضل والرحمة. ويجوز إذا صدر من العبد لمثله من المخلوقين إذا كان المدعو يعقل الدعاء ويقدر على الإجابة كما سبق في قوله القائل يا فلان اطعمني.
"Doa permohonan adalah doa tuntutan, yaitu menuntut kebutuhan-kebutuhan, dan dia adalah ibadah jika dia dari seorang hamba (meminta kepada) Robbnya, karena sesungguhnya dia mengandung kefaqiran kepada Alloh Ta'ala dan pengharapan kepada-Nya, dan meyakini bahwasanya Dia adalah Al-Qodhir (Maha Mampu) lagi Al-Karim (Maha Mulia) dan Wasi' Al-Fadhl wa Ar-Rohmah (Maha luas keutamaan dan rohmat-Nya). Dan dia boleh jika bersumber dari seorang hamba kepada yang semisalnya dari para makhluk, jika yang diseru itu memahami seruannya dan mampu untuk memenuhinya sebagaimana telah lewat pada perkataannya orang yang berkata: "Wahai Fulan berilah kamu makan kepadaku!".
Dan perkataan beliau yang terakhir ini: "… jika yang diseru itu memahami seruannya dan mampu untuk memenuhinya….", maka perlu adanya rincian, karena tidak setiap orang itu boleh dimintai pertolongan, sekadar contoh: Ada orang yang memiliki harta yang sangat banyak, tentu dia mampu untuk menolong, bersamaan dengan itu tidak dibolehkan bagi seseorang untuk meminta hartanya, karena Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam telah melarang dari meminta-minta, beliau berkata:
«لَا تَسْأَلِ النَّاسَ شَيْئًا»
"Janganlah kamu meminta kepada manusia sesuatupun". Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Tsauban.
Adapun kalau meminta tolong berupa tenaganya dan dia mampu untuk memenuhinya maka ini boleh, sebagaimana yang telah Alloh Ta'ala terangkan tentang kisah Nabi Musa 'Alaihis Salam:
{وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ} [القصص: 15]
"Dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Isroil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun), maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepada Musa, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa memukulnya, dan matilah musuhnya itu". (Al-Qoshshosh: 15).
Dengan ayat ini menunjukan tentang bolehnya meminta tolong kepada orang lain dengan syarat dia harus mampu, dia masih hidup, dan dia hadir (berada di sampingnya), jika seseorang membantu saudaranya dalam perkara ini maka hal ini sebagai bentuk sosialitas yang dianjurkan sebagaimana Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam telah berkata kepada para shobabatnya untuk menolong Salman Al-Farisiy: 
«أَعِينُوا أَخَاكُمْ».
"Tolonglah oleh kalian saudara kalian!". Dengan adanya pertolongan itu maka Salman Al-Farisiy berkata:
«فَأَعَانُونِي بِالنَّخْلِ: الرَّجُلُ بِثَلَاثِينَ وَدِيَّةً، وَالرَّجُلُ بِعِشْرِينَ، وَالرَّجُلُ بِخَمْسَ عَشْرَةَ، وَالرَّجُلُ بِعَشْرٍ، يَعْنِي: الرَّجُلُ بِقَدْرِ مَا عِنْدَهُ، حَتَّى اجْتَمَعَتْ لِي ثَلَاثُ مِائَةِ وَدِيَّة».
"Maka mereka menolongku dengan (bibit-bibit pohon) korma, seseorang (membawa) tiga puluh bibit, ada seorang pula (yang membawa) dua puluh bibit, ada seorang pula yang (membawa) lima belas bibit, ada seorang (membawa) sepuluh bibit, ya'ni seseorang (membawa) sesuai dengan kesanggupannya, sampai terkumpul untukku 300 (tiga ratus) bibit".
Adapun syarat yang kami sebutkan "dia harus mampu, dia masih hidup, dan dia hadir (berada di sampingnya)" sebagai bentuk pengingkaran terhadap sebagian manusia yang mengaku beragama Islam namun mereka meminta kepada sesuatu yang tidak memiliki kemampuan untuk menolong, adapula dari mereka meminta kepada orang yang sudah mati, sebagaimana mereka beradatangan di kuburan Sunan Ampel di Surabaya lalu meminta pertolongan kepada Sunan Ampel, ada juga dari mereka naik haji kemudian mereka mendatangi kuburan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam lalu meminta pertolongan kepadanya sambil menyeru "Ya Habibiy!...", adapula yang meminta tolong kepada orang yang tidak hadir sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang di salah satu kampung di sekitar Jogjakarta, ketika gunung merapi akan meletus maka masyarakat meminta pertolongan kepada Mbah Marijan dengan mengangkat suara padahal kediaman Mbah Marijan jauh dari kediaman mereka, hal demikian itu karena mereka mengakui bahwa Mbah Marijan sakti dan mengetahui ilmu ghoib, ketika Mbah Marijan memerintahkan mereka untuk membuat sesajian dan diletakkan di halaman-halaman rumah mereka, merekapun melakukannya, Mbah Marijan dengan kesombongannya mengaku bahwa dialah pemegang kunci gunung merapi, gunung merapi melutus atau tidak tergantung dia yang menentukan, memang Mbah Marijan ini dukun pendusta, ternyata mati konyol juga:
{مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا} [الكهف: 5]
"Mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) melainkan kedustaan". (Al-Kahfi: 5).
Ini persis dengan yang terjadi di kampung Nasiri (Seram Barat), karena pernah terjadi banjir, maka masyarakat Nasiri merasa cemas dan takut, dengan sebab itu, muncullah seorang dukun memberitahu masyarakat Nasiri untuk mempersembahkan sesembelihan berupa ayam-ayam kampung untuk roh-roh atau penghuni sungai, masyarakat Nasiri-pun melakukan apa yang disarankan oleh si dukun pendusta itu, pengurus masjid Nasiri (pak modim dan jajarannya) mulai melakukan penyembelihan ayam-ayam itu, yang mereka peruntukan untuk roh-roh atau penghuni sungai.
Mereka mengira bahwa dengan perbuatan ini akan menyelamatkan mereka, mereka tidak sadar kalau perbuatan mereka ini adalah kesyirikan yang sangat besar, dengan perbuatan mereka itu membuat Alloh Ta'ala murka, lalu Alloh Ta'ala datangkan banjir yang lebih besar, dengan banjir itu menghanyutkan puluhan dari rumah-rumah masyarakat setempat.
Demikian hukuman yang Alloh Ta'ala timpakan atas mereka di kehidupan dunia ini, jika mereka tidak akan bertaubat dari kesyirikan itu maka sungguh Alloh Ta'ala akan menyediakan neraka Jahannam bagi mereka, disebabkan kesombongan dan keengganan mereka dari berdoa kepada-Nya dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, Dia berkata:
{إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} [غافر: 60].
"Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku maka dia akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (Ghofir: 60).
Dengan kejadian ini sungguh teringat bagi kami, ketika di Limboro para "pbitsa" (dukun-dukun) mulai bermunculan maka ada seseorang menyampaikan kepada Hisyam bin Abdulloh Al-Limboriy Rohimahulloh bahwa ada dari seorang "pbitsa" yang duduk di pinggir pantai di tanjung Limboro Kecil, lalu menyihir ombak-ombak yang di hadapannya, maka Hisyam bin Abdulloh Al-Limboriy Rohimahulloh berkata: "Pbitsa pateba (dukun parlente), paling pendusta".
Ketika terjadi gempa bumi di Bantul-Jokjakarta dan sekitarnya, kami bersama beberapa kawan sebagai tim medis ke daerah tersebut maka masyarakat berbondong-bondong berdatangan ke tempat kami, ada salah seorang yang dia mengaku sebagai penjaga Keraton dalam keadaan pincang, karena kakinya terkena rerobohan bangunan disebabkan gempa bumi, dia datang ke kami dengan keadaan seperti itu namun masih bisa bangga dan masih memuji-muji orang-orang Keraton, dia mengatakan bahwa tanduknya Sulthon Keraton adalah sakti, kalau orang sakit lalu memeluknya maka langsung sembuh…., ketika mendengarkan perkataannya maka ada salah seorang dari kawan kami berkata kepadanya: "Bagaimana dengan keraton dalam gempa ini, apakah dia juga rusak?", diapun berkata: "Rusak bahkan temboknya roboh!", langsung dia dibantah: "Katanya sakti, mana kesaktiannya?, kamu juga kena rerobohan terus mana pertolongan dari mereka yang sakti-sakti itu?". Orang tersebut hanya bisa berkata: "Iya ya?!!!", diapun pergi dari kami dalam keadaan meragukan kesaktian kesulthonan dan jajarannya yang ada di keraton.
Demikian yang bisa kami jelaskan, semoga Alloh menjadikan apa yang kami jelaskan ini bermanfaat untuk kami, kedua orang tua kami, saudara-saudara kami dan siapa saja yang menginginkan kebaikan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ