Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).
Tampilkan postingan dengan label limboro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label limboro. Tampilkan semua postingan

Jadilah Kalian Sebagai Penolong Allah



Jadilah Kalian Sebagai Penolong Allah

بسم الله الرحمن الرحيم
‎أما بعد‏‎ الحمد لله رب العالمين

Ini adalah rangkaian penjelasan seputar permasalahan yang berkaitan dengan jihad di Dammaj, pada tulisan ini terdapat nasehat dan dorongan untuk berpartisipasi dalam mewujudkan jihad, baik dengan jiwa, harta dan doa, yang kami tulis di matras Wathon Dammaj dengan menggunakan HP. Semoga apa yang kami tulis ini bermanfaat.  
JADILAH KALIAN SEBAGAI PENOLONG ALLOH
Satu
Alloh Ta'ala memerintahkan orang-orang yang mengaku beriman untuk membuktikan keimanan mereka dengan cara menolong-Nya, ya'ni menolong agama-Nya, sebagaimana yang Dia katakan di dalam surat Ash-Shof ayat (14). Pada ayattersebut kita diperintah untuk menolong agama-Nya sebagaimana Al-Hawariyyun menolong agama Alloh dengan bimbingan rosul-Nya Isa bin Maryam. Pada ayat tersebut terdapat faedah yang indah dan mewah yang menerangkan tentang keutamaan Al-Hawariyyun (para shohabat nabi Isa). Orang-orang Nashoro sebelum diutusnya Ahmad (ya'ni Muhammad)Shollallohu 'Alaihi wa Sallam mereka sangat memuliakan Al-Hawariyyun,karena mereka memperoleh ilmu dari kitab Injil dengan sebab Al-Hawariyyun, merekalah yang meneruskan da'wah 'Isa 'Alaihis Salam, karena perjuangan mereka yang begitu berharga maka kaum Nashoro yang hidup di zaman sebelum diutusnya Ahmad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam mereka memuliakan Al-Hawariyyun, tidaklah mereka disebut melainkan dengan kebaikan dan kecintaan. Berbeda dengan penganut agama Syi'ah, mereka mencela, mela'nat dan menjatuhkan kehormatan para shohabat Nabi, tidak hanya para shohabat, nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam-pun mereka hina, dikatakan mencintai wanita berzina ya'ni Aisyah Ummul Mu'minin Rodhiyallohu 'Anha. Tidak hanya itu, namun mereka lancang juga dengan merubah-rubah dan menambah-nambah Kitabulloh Al-Qur'an, perbuatan mereka tidak jauh beda dengan kaum Nashoro yang hidup di zaman setelah diutusnya nabi Al-Ummiy ya'ni Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, mereka memiliki kesamaan tujuan dan cita-cita ya'ni berupaya untuk menghancurkan agama Alloh  dan mematikan cahaya-Nya, namun Alloh tidak akan membiarkan mereka akan tetapi Dia akan tetap mengokohkan agama-Nya sebagaimanaperkataan-Nya di dalam surat Ash-Shof ayat (8-9). Demikian yang bisa kami tuliskan pada pertemuan pertama ini di matras Wathon-Dammaj padahari Selasa 24 Dzulhijjah 1434

Perkara Perkara Penting Yang Perlu Diketahui Oleh Setiap Muslim



PENDAHULUAN

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Termasuk dari perkara penting yang manusia telah lalai darinya adalah pelaksanaan rukun-rukun Islam yang telah disebutkan oleh Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam yaitu:
«الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا».
"Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, kamu menegakan sholat, kamu nenunaikan zakat, kamu berpuasa Romadhon dan kamu haji ke Ka'bah jika kamu mampu melakukan perjalanan ke sana". Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dari Abu Huroiroh dan Muslim dari Umar Ibnul Khoththob.

UNGKAPAN







ungkapan
untuk
ulama dan yang memberi PENJELASaN




Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy
Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan mengampuni saudara-saudarinya






http://assaabiquunalawwaluun.blogspot.com
1434


بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Berikut ini kami akan paparkan tentang suatu ungkapan umum yang sebagian manusia mengkhususkan atau menganggapnya hanya sebagai hak ulama:

UNGKAPAN FATWA (FATAWA')

Tatkala jawaban-jawaban kami terhadap pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh saudara-saudari kami kaum muslimin di Tanah Airku Indonesia sudah terkumpulkan menjadi 3 (tiga) jilid maka mulailah para komentator berbicara, lebih-lebih ketika melihat judul berbahasa Arobnya "Fatawa' Syar'iyyah" mereka pun serentak berkata: "Kalimat fatawa' khusus untuk ulama', tidak pantas untuk selain ulama", atau perkataan mereka "Tidak pantas mengumpulkan Tanya jawab seperti itu".
Dengan sebab itu pada kesempatan ini kami akan sebutkan tentang ma'na "fatwa" sehingga dengan itu menjadi catatan bagi para komentator itu:
Para ahli bahasa Arob mengatakan:
"وأَفْتَاه فِي الأَمر: أَبانَه لَهُ".
"Dan aku memfatwakan kepadanya dalam suatu perkara, yaitu aku menjelaskan tentang perkara tersebut kepadanya". Lihat "Lisanul Arob" (15/147).
Dari ungkapan "aftah" ini masuk keumuman setiap orang yang memberikan penjelasan atau menerangkan tentang suatu permasalahan, tidak ada pengkhususan, jika ada yang mengkhususkan maka membutuhkan dalil syar'iy!.
Mereka para ahli bahasa juga mengatakan:
"وَيُقَالُ: أَفْتَيْت فُلَانًا رُؤْيَا رَآهَا إِذا عَبَّرْتَهَا لَهُ".
"Dan dikatakan: Aku memberi fatwa kepada Fulan tentang ru'yah (mimpi) yang dia melihatnya, jika aku menta'birkan (menafsirkan) tentang mimpi tersebut kepadanya". Lihat "Lisanul Arob" (15/147).
Orang yang menafsirkan mimpi bermacam-macam, masuk di dalamnya keumuman perkataan "fatwa", jika kita mengatakan kepada seseorang yang berbicara atau yang sedang menafsirkan mimpi: "Dia berfatwa, maka ini tidak bisa diingkari karena ini hanya dalam sisi bahasa saja".
Mereka juga mengatakan:
"وأَفْتَيْتُه فِي مسأَلته إِذا أَجبته عَنْهَا".
"Dan aku memfatwakannya pada permasalahannya, jika aku menjawab masalah tersebut darinya". Lihat "Lisanul Arob" (15/147).
Ini juga masuk pada keumuman setiap orang yang menjawab suatu pertanyaan maka tidak mengapa dikatakan "telah berfatwa", siapa mengingkari ungkapan ini maka hendaknya dia membawakan hujjah dan dalilnya kalau memang tidak boleh digunakan?.
Dan di dalam sebuah perkataan orang-orang Arob:
"أَن قَوْمًا تَفَاتَوا إِليه".
"Bahwasanya suatu kaum tafatauw kepadanya", ma'nanya adalah:
"تَحَاكَمُوا إِليه وَارْتَفَعُوا إِليه فِي الفُتْيا. يُقَالُ: أَفْتَاه فِي المسأَلة يُفْتِيه إِذا أَجابه".
"Mereka meminta hukum kepadanya, dan mereka mengangkat (masalah) kepadanya dalam pemberian fatwa, dikatakan: "Dia memfatwakan dalam suatu masalah, difatwakan jika dia menjawabnya". Lihat "Lisanul Arob" (15/147).
Dan dalam hadits sihir, Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) berkata kepada istrinya Aisyah:
"أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ".
"Dia telah memberika fatwa kepadaku ketika aku meminta fatwa kepadanya". Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy di dalam "Ash-Shohih" (no. 5763) dan Muslim di dalam "Shohih"nya (no. 2189).
Ibnu Hajar Rohimahulloh di dalam "Fathul Bariy" (10/228) telah menjelaskan ma'na dari perkataan ini, beliau berkata:
"فِي رِوَايَةِ الْحُمَيْدِيِّ أَفْتَانِي فِي أَمْرٍ اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَيْ أَجَابَنِي فِيمَا دَعَوْتُهُ فَأَطْلَقَ عَلَى الدُّعَاءِ اسْتِفْتَاءً لِأَنَّ الدَّاعِيَ طَالِبٌ وَالْمُجِيبَ مُفْتٍ أَوِ الْمَعْنَى أَجَابَنِي بِمَا سَأَلْتُهُ عَنْهُ لِأَنَّ دُعَاءَهُ كَانَ أَنْ يُطْلِعَهُ اللَّهُ عَلَى حَقِيقَةِ مَا هُوَ فِيهِ لِمَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَمْرِ".
"Di dalam riwayat Al-Humaidiy aftaaniy fii amrinis taftaituhu fiih yaitu Dia mengabulkanku terhadap apa yang aku berdoa kepada-Nya, fatwa diitlakan pada doa karena orang yang berdoa adalah menuntut (meminta), dan yang mengabulkan adalah orang yang berfatwa atau ma'na telah mengabulkanku terhadap apa yang aku telah meminta-Nya tentangnya, karena sesungguhnya doanya supaya Alloh menampakannya atas keadaan yang sebenarnya dari apa yang dia berada pada kesamaran dari suatu perkara".
Jadi penggunaan ungkapan "fatawa" tergantung kepada penyandarannya, jika itu disandarkan kepada ulama maka jelas khusus ulama, misalnya "Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Bazz", jika disandarkan kepada MUI (Majelis Ulama Indonesia) maka khusus untuk mereka, jika disandarkan kepada thulaib maka dikatakan "Fatawa At-Thulaib" atau bila disandarkan kepada tukang sihir maka dikatakan "Fatawa As-Sahir".

Kesimpulan:
Ungkapan bahasa atau adat istiadat tidak bisa langsung ditolak begitu saja, akan tetapi dibutuhkan dalil tentang terlarangnya ungkapan tersebut, jika ada dalil yang menyelisihinya maka langsung ditolak, namun bila tidak ada dalilnya maka kembali kepada hukum asal penggunaannya yaitu boleh-boleh saja.
Abdurrohman As-Sa'diy Rohimahulloh berkata di dalam "Al-Qowa'idul Hisan" (hal. (62 pada kaedah yang kedua puluh satu:
"القرآن يجري في إرشاداته مع الزمان والأحوال في أحكامه الراجعة للعرف والعوائد".
"Al-Qur'an berjalan dalam bimbingannya bersama zaman, keadaan-keadaan dalam hukum-hukumnya yang rojih terhadap kebiasaan dan adat istiadat". 
Betapa banyak ungkapan atau adat istiadat yang tidak menyelisihi syari'at, Al-Qur'an berjalan bersamanya dan ada pula yang didiamkan, maka kembali kehukum asal.  
Diantara contoh ungkapan yang sudah merupakan kebiasaan orang Arob adalah:
"بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي".
Dan ungkapan ini tetap digunakan di dalam Islam, karena Al-Qur'an begitu pula As-Sunnah tidak mengingkarinya dan tidak pula mengkhususkan penggunaannya kepada orang tentu, ulama atau pun orang awam boleh mengucapkannya, Al-Bukhoriy meriwayatkan dari hadits Abu Huroroh, beliau berkata:
"فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ".




UNGKAPAN SYAIKH

Sangat mengherankan, ketika ada seorang khotib dan juga dia sebagai da'i Ilalloh yang sering keluar da'wah, ketika dia berkhutbah di masjid Ahlissunnah Dammaj, berkatalah seseorang yang mendengarkan khutbahnya: "Masya Alloh, syaikh yang khutbah tadi benar-benar mantap dan bagus", ketika ada orang-orang mendengarnya maka mereka pun mengatakan: "Dia bukan syaikh?, dia itu teman sebelajar dengan kami, siapa yang mengatakan dia syaikh, syaikh Fulan tidak mengatakan kalau dia sudah syaikh?".
Demikianlah kalau seseorang mempersempit penggunaan dari ungkapan "syaikh", padahal di dalam syari'at, kebiasaan dan adat istiadat dalam penggunaan ungkapan tersebut adalah umum, sama saja penggunaannya kepada ulama atau kepada siapa yang layak untuk dikatakan sebagai "syaikh", Alloh (تعالى) berkata di dalam Al-Qur'an tentang perkataan dua wanita sholihah:
{وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ} [القصص: 23]
"Dan bapak kami adalah syaikh (orang tua) yang lanjut usia". (Al-Qoshshosh: 23).
Di dalam "Musnad Ahmad" (no. 807) juga di dalam "As-Sunan Al-Kubro Lil Baihaqiy" (no. 1453), bahwasanya Ali Rodhiyallohu 'anu berkata:
"لَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو طَالِبٍ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ قَدْ مَاتَ".
"Tatkala Abu Tholib telah mati, maka aku mendatangi Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), lalu aku berkata: Sesungguhnya pamanmu yang syaikh (tua) itu telah mati".
Bagi orang yang belum mengetahui keadaan Abu Tholib tentu akan menganggap bahwa dia adalah orang baik karena Ali menggunakan ungkapan "syaikh", namun kalau orang mengetahui bahwa ungkapan "syaikh" ini penggunaannya umum yaitu masuk di dalamnya ulama dan bukan ulama, yang baik dan yang sesat, yang tua dan yang muda maka tentu dia tidak akan menganggap bahwa Abu Tholib orang baik atau ulama, hal ini diperjelas lagi dalam hadits Ali Rodhiyallohu 'anu yang diriwayatkan oleh Ahmad di dalam "Al-Musnad" (no. 1093) dan Al-Baihaqiy di dalam "As-Sunan Al-Kubro Lil Baihaqiy" (no. 193), Ali Rodhiyallohu 'anu  berkata:
"لَمَّا مَاتَ أَبُو طَالِبٍ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ".
"Tatkala Abu Tholib telah mati, maka aku mendatangi Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), lalu aku berkata: Sesungguhnya pamanmu yang syaikh (tua) lagi sesat telah mati".
Bahkan pengunaan ungkapan "syaikh" ini masyhur di kalangan Arob, para mahasiswa di universitas Saudi Arobi biasa kalau mereka dikatakan sebagai "masyayikh" (para syaikh), bahkan dosen-dosen mereka dikatakan sebagai "asatidz" (para ustadz), kebiasaan seperti ini kalau penggunaannya di Indonesia kebalikannya, orang yang lebih tinggi ilmunya dianggap sebagai "syaikh", adapun da'i biasa atau pengajar maka dia dikatakan sebagai "ustadz".
Kita tidak mengingkari dalam kitab "Harbus Sadisah" kedua penulisnya menyebutkan beberapa orang-orang qobilah Dammaj yang meninggal dengan ungkapan "As-Syaikh Fulan, dan Asy-Syaikh Fulan", orang yang tidak mengenal mereka tentu akan menganggap bahwa "mereka itu adalah termasuk ulama", namun orang yang mengenal mereka tentu akan mengatakan "Si Fulan itu adalah syaikh qobilah", begitu pula orang-orang menyebutkan bahwa penulis buku "Sekte Salafy Berdarah" adalah Asy-Syaikh Idahram, orang yang berakal yang mengetahui keadaan Idahram ini tentu akan mengatakan: "Bukan syaikh yang baik akan tetapi syaikh dhol, atau syaikh shufiy".
Jadi ringkasan dari permasalahan ini adalah tidak dibenarkan bagi siapa pun untuk mempermasalahkan ungkapan "fatwa" atau "syaikh" tersebut, jika ada yang mempermasalahkan atau menganggapnya sebagai kekhususan untuk ulama maka dia tidak ada bedanya dengan orang-orang yang menyatakan: "Jubah adalah pakaian khusus untuk ulama", atau "Imamah adalah khusus untuk ulama".
Demikian penjelasan singkat ini, semoga bermanfaat untuk kami dan yang menginginkan kebenaran.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

PEMBATAL PEMBATAL KEISLAMAN



بسم الله الرحمن الرحيم
Al-Imam Abul Hasan Muhammad An-Najdiy -semoga Allah merahmatinya- berkata:
Ketahuilah sesungguhnya pembetal-pembatal Islam ada sepuluh[1]:

PEMBATAL YANG PERTAMA
Berbuat syirik dalam beribadah kepada Alloh (تعالى).
Alloh (تعالى) berkata:
{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ} [النساء: 48]
“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa orang yang mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, dan Dia mangampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki”. (An-Nisa`: 116).
Dan Alloh (تعالى) berkata:
{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]
 “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka sesungguhnya Alloh mengharamkan baginya jannah (surga) dan ditempatkan di neraka. Dan tidak ada seorang pun penolong bagi orang-orang yang zholim itu”. (Al-Maidah: 72).
Dan yang termasuk dari kesyirikan adalah menyembelih untuk selain Alloh (تعالى), seperti menyembelih untuk jin atau untuk kuburan.

PEMBATAL YANG KEDUA
Orang yang menjadikan diantaranya dan diantara Alloh (تعالى) para perantara, lalu dia berdoa, meminta dan bertawakkal kepada mereka. Maka orang dia telah kafir dengan sepakatan (ulama).

PEMBATAL YANG KETIGA
Orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu tentang kekafiran mereka, atau juga membenarkan pendapat mereka maka dia telah kafir.

PEMBATAL YANG KEEMPAT
Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi (صلى الله عليه وسلم) lebih sempurna dari petunjuknya, atau meyakini bahwa hukum selain  hukum Rosulullah (صلى الله عليه وسلم) lebih baik, seperti orang yang mengutamakan hukum thoghut maka dia adalah kafir.

PEMBATAL YANG KELIMA
Orang yang membenci sesuatu dari apa-apa yang telah datang dengannya Rosululloh (صلى الله عليه وسلم), walaupun dia mengamalkannya maka dia telah kafir.

PEMBATAL YANG KEENAM
Orang yang mengolok-olok sesuatu dari agama Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) atau mengejek pahala (yang diberikan) oleh Alloh, atau mengolok-olok hukuman Alloh maka dia telah kafir. Dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):
{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)} [التوبة: 65، 66]
 “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab: Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah: Apakah kepada Alloh, ayat-ayat-Nya, dan Rosul-Nya kalian perolok-olok? Tidak perlu kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir setelah kalian beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kalian (karena mereka telah bertaubat), niscaya Kami akan menyiksa segolongan yang lain, kerana sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa”. [At-Taubah: 65-66].

PEMBATAL YANG KETUJUH
Menyihir, diantaranya adalah menjadikan seseorang berpaling dari sesuatu dan cenderung kepadanya. barangsiapa yang melakukan perbuatan ini atau meridhoinya maka dia telah kafir.
Dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):
{وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ} [البقرة: 102].
“Dan tidaklah keduanya mengajarkan (sihir) kepada seseorangpun sampai keduanya mengatakan: Sesungguhnya kami adalah ujian bagimu, maka janganlah kamu kafir”. (Al-Baqoroh: 102).

PEMBATAL YANG KEDELAPAN
Membantu orang-orang musyrik dan menolong mereka dalam memusuhi orang-orang Islam.
Dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):
{وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [المائدة: 51].
 “Barangsiapa di antara kalian yang menjadikan mereka (orang-orang kafir) sebagai kawan setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhilim”. (Al-Maidah: 51).

PEMBATAL YANG KESEMBILAN
orang yang meyakini bahwasanya sebahagian manusia memiliki keluasan untuk keluar dari syari`at Muhammad (صلى الله عليه وسلم), sebagaimana  telah ada keluasan  bagi Khidhir untuk keluar dari syari`at Musa (عليه السلام) maka dia adalah kafir.

PEMBATAL YANG KESEPULUH
Berpaling dari agama Alloh (تعالى), dan tidak mau mempelajarinya dan tidak pula mengamalkan dengannya.
Dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):
{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ} [السجدة: 22].
“Dan siapakah yang lebih zholim dari orang-orang yang telah diberi peringatan dengan ayat-ayat Robbnya, kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berdosa”. (As-Sajdah: 22).
Dan tidak ada perbedaan pada seluruh pembatal-pembatal ini, sama saja dengan bermain-main (dalam melecehkan) atau benar-benar (melecehkan) atau juga orang yang takut kecuali orang yang dipaksa (melakukan demikian itu).
Dan semuanya (dari pembatal-pembatal tersebut) adalah paling besar bahayanya, dan kebanyakan orang telah terjatuh padanya, maka seharusnya bagi setiap muslim berhati-hati darinya dan takut darinya terhadap dirinya.
Kita berlindung kepada Alloh dari segala sesuatu yang mengundang kemurkaan-Nya dan kepedihan siksaan-Nya.
وصلى الله على خير خلقه محمد وآله وصحبه وسلم
سبحانك اللهم وبِحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليه.
Alhamdulillah selesai diterjemahkan buku ini pada hari Jum'at sebelum Maghrib.
Semoga Alloh memberi berkah kepada ilmu kita dan membantu kita untuk melaksanakan perintah-Nya dan membantu kita untuk menjauhi larangannya.
Dan mudah-mudahan Alloh (تعالى) memberikan manfaat dengan buku kecil ini kepada Islam dan kaum muslimin.




[1] Abu Ahmad Al-Limboriy semoga Alloh mengampuninya berkata: "Penulis Rohimahulloh pada tulisannya ini hanya menyebutkan sepuluh pembatal-pembatal keislaman, apa yang beliau sebutkan di sini hanya garis besarnya, karena pembatal-pembatal keislaman sangatlah banyak, tidak hanya dikhususkan pada sepuluh perkara, dan Alhamdulillah kami telah sebutkan diantara cabang-cabang dari yang kesepuluh tersebut pada tulisan kami "Mutammimah Nawaqidul Islam".