Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).
Tampilkan postingan dengan label hukum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hukum. Tampilkan semua postingan

Hukum Pemilu: Syubhat Pak Firanda tentang PEMILU

Hukum Pemilu Ustadz Firanda
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله، وبعد:
 
Pada kesempatan ini kita akan sedikit menunjukan kepada anda tentang rangkaian dari kata-kata pak Firanda MA.Lc., yang mana kita telah melihat betapa tinggi semangatnya dalam berda’wah, namun sangat disayangkan banyak penyelewengan padanya, dia telah menyelisihi prinsip dan pokok terpenting dalam beragama:
 
فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا“.
 
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya maka hendaknya dia beramal dengan amalan yang sholih”.
Dan kita telah melihat pendapat, perbuatan dan prilaku pak Firanda MA. Lc. yang menyelisihi amalan sholih, diantaranya: