Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

AKHLAQ NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM


AKHLAQ NABI
SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
DALAM PENGARAHAN DAN KRITIKAN




 Ditulis oleh:
Abul 'Abbas Khidhr Al-Mulkiy


 

MUQADDIMAH
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا, أشهد أن لا إله إلا الله إقرارا به وتوحيدا, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله تسليما مزيدا.
أمــا بعد:
          Allah 'azza wa jalla berkata:
﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  [الأحزاب/21].
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah". (Al-Ahzab: 21).
            Ayat ini merupakan arahan dan bimbingan bagi seseorang untuk senantiasa mencontoh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam bermuamalah, berumah tangga, bermasyarakat atau berbangsa dan bernegara. Dan salah satu prilaku Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang patut untuk diteladani adalah akhlaqul karimah, yang mana dengan akhlaq itu seseorang akan semakin sempurna keimanannya, sebagaimana dalam hadits hasan yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam "Musnadnya" (Juz: 2, hal. 527, no. 10829) dari hadits Abu Hurairoh Rodhiyallohu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
﴿أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا.
"Orang-orang mu'min yang paling sempurna keimanannya adalah bagi mereka yang paling bagus akhlaqnya"[1].
            Dan perlu diktehui bahwa seseorang itu dikatakan bagus akhlaqnya manakalah berakhlaq dengan Al-Qur'an, sebagaimana akhlaq teladan kita Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu berakhlaq dengan Al-Qur'an, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam "Shohihnya" (no. 1773) bahwa Aisyah ditanya tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia berkata:
﴿فَإِنَّ خُلُقَ نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ الْقُرْآنَ.
"Sesungguhnya akhlaq Nabiullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Qur'an".
            Maka beranjak dari sini kita akan sebutkan akhlaq Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam memberi arahan yang sangat bagus, ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dihadapkan dua permasalahan yaitu dengan kedatangan dua pihak yang berbeda, para pembesar kaum musyrikin dan shahabat yang buta maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan dua permasalahan itu tampak dengan jelas akhlaq Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sangat bagus yaitu berakhlaq dengan Al-Qur'an dalam menghadapi dua pihak yang disebutkan tadi, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an, Allah ta'ala berkata:
﴿عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6) وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8) وَهُوَ يَخْشَى (9) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى﴾ (10) [عبس/1-10].
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman), dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya"[2]. ('Abasa: 1-10).
            Allah 'azza wa jalla memberikan teguran kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar lebih memperhatikan orang mu'min yang mengikutinya dibanding menfokuskan perhatian kepada musuh-musuhnya dari kalangan pembesar-pembesar musyrikin Quraisysy, ini menunjukkan betapa bagusnya akhlaq Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar-benar memperhatikan orang-orang yang mengikutinya, berlemah lembut dan memberikan yang terbaik kepada mereka yang mengikutinya. Adapun bagi yang mengumumkan permusuhan dan kebencian kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras kepada mereka, sebagaimana Allah 'azza wa jalla katakan:
﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾  [الفتح/29]
"Muhammad adalah Rasulullah, beliau dan orang-orang yang bersamanya sangat keras kepada orang kafir dan berkasih sayang (berlemah-lembut) diantara mereka". (Al-Fath: 29).
Dan Allah Ta'ala perintahkan rasul-Nya dan para pengikutnya untuk bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir dan orang yang bermuka dua; baik itu dari kalangan munafiqin atau orang-orang yang serupa dengan mereka, Allah Ta'ala berkata:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾  [التوبة/73].
"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya". (At-Taubah: 73).
            Adapun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang bodoh (dari kalangan awam)[3] sangat jelas akhlaqnya, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriny dalam "Shohihnya" (no. 216) dari Anas bin Malik Rodhiyallohu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seorang Arob Badui kencing di dalam masjid, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka (shahabat): "biarkan dia".
          Coba cermati! Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mencegah para shahabatnya untuk melarang si Badui tadi sampai si Badui tadi selesaikan hajat (kencing)nya, dan dalam hadits yang lain kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam perintahkan shahabatnya untuk menyiram bekas kencing tadi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memarahi atau mencela para shahabatnya karena mau mencegah si Badui dan tidak pula memarahi atau mencela si Badui tadi, tapi disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menasehati si Badui tadi dengan penuh akhlaqul karimah, sebagai arahan dan bimbingan kepada para shahabatnya sekaligus si Badui tadi.
            Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat tidak suka bila orang-orang yang mengikutinya disakiti atau dipersulit urusannya, walaupun yang melakukannya itu shahabatnya sendiri atau orang-orang mu'min setelahnya, lebih-lebih kalau yang menyakiti itu dari kalangan orang sesat maka tentu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat marah. Lihatlah apa sikap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap shahabatnya yang mulia Mu'adz bin Jabal ketika beliau Rodhiyallohu 'anhu mengimami manusia yang di dalam shalatnya itu tentu ada sebagian shahabat maka ternyata membuat berat sebagian manusia akibat panjangnya sholatnya, sebagaimana disebutkan dalam "Shohih Ibnu Hibban" (Juz: 6, hal. 155), ketika disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam marah karena shahabatnya Mu'adz bin Jabal membuat resah dan memberat-beratkan orang-orang mu'min yang lainnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tegas berkata kepada Mu'adz bin Jabal:
} أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذ أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذ  {
"Apakah kamu tukang fitnah ya wahai Mu'adz?!, Apakah kamu tukang fitnah ya wahai Mu'adz?!".
            Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat kasih sayang dengan orang-orang yang mengikutinya, sehingga beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam "Shohih Al-Bukhariy" (no. 13) dari hadits Husain, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada orang-orang yang mengikutinya:
﴿لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه﴾.
"Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri".
            Allah Ta'ala perintahkan rasul-Nya untuk merendah dan lemah lembut serta terus senantiasa bersama orang-orang yang mengikutinya, sebagaimana Allah Ta'ala katakan:
﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾  [الشعراء/215].
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman". (Asy-Su'araa: 215). Dan Allah Ta'ala juga berkata:
﴿وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ  [الحجر/88].
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang mu'min". (Al-Hijr: 88).
            Allah Ta'ala tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk merendahkan diri terhadap orang-orang yang bermuka dua (yang bisa diterima di hizbullah dan di hizbusy syaithan), tapi yang Allah Ta'ala perintahkan adalah untuk merendahkan diri dan bersama orang-orang yang mengikuti rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan benar. Maka apakah pantas kemudian ada dari salah seorang diantara kalian rela menggibahi dan menyakiti saudaranya sesama salafiyyin karena mengharapkan kesalafiyyahnya kaum mutawaqifin atau kaum hizbiyyin dengan rela merendahkan diri dan senang bersama mereka?! Adapun bagi musuh-musuh Islam atau orang yang masuk kategori muslim kemudian menyimpang dari jalan yang lurus dan memusuhi orang-orang yang mengikut sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka sudah sepantasnya bagi untuk ditahzir sesuai dengan perbuatan mereka yang memusuhi al-haq dan ahlinya, bahkan Allah subhanah telah mengumumkan permusuhan dengan mereka, telah diirwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dalam "Shohihnya" (no. 6137) dari Abu Huroirah Rodhiyallohu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
 ﴿إن الله قال من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب
"Bahwasanya Allah telah berkata: Barang siapa memusuhi wali-wali-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan permusuhan dengannya".
              Dengan muqaddimah yang sedikit ini cukup sebagai penjelasan tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai gambaran global, insya Allah pada bahasan selanjutnya pada bagian-bagiannya kami akan sebutkan sebatas waktu yang kami miliki, dan sebatas sepengetahuan kami diserta dengan jawaban atas kerancuan-kerancuan pola pikir orang-orang yang terkontaminasi dengan faham miring yang dilandasi dengan perasaan dan dugaan semata.
Ditulis oleh Al-Faqir illah Abul 'Abbas Khidhr Al-Mulkiy di Darul Hadits Dammaj-Sho'da-Yaman pada hari Juma'at pagi/3 Sya'aban 1430 H.
BAB I
GUGATAN ATAS DUGAAN PENJELASAN TENTANG TUDUHAN MIRING TERHADAP KRITIKAN DALAM MAKALAH-MAKALAH KAMI
            Setelah tersebar luas tulisan kami dalam makalah-makalah yang kami susun, maka banyak bermunculan komentar baik itu berupa saran atau kritikan; baik itu kritikan membangun maupun kritikan miring yang tidak membangun sama sekali, sungguh benar perkataan Allah Ta'ala:
﴿وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً  [الأنبياء/35]
"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan)". (Al-Anbiya': 35). Juga perkataan-Nya:
﴿وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا﴾  [الفرقان/20]
"Dan Kami jadikan sebagian kalian fitnah (cobaan) atas sebagian yang lain. Dan bisakah kamu bersabar?". (Al-Furqan: 20). Diantara komentar itu adalah:

1.1 Panggilan Jelek Buat Luqman Ba'abduh Al-Hizbiy!

Komentar satu
"Pada beberapa makalah Abul 'Abbas menyebutkan bahwa ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh adalah penjahat da'wah, padahal beliau adalah ustadz kibar dan telah dipanggil sebagai syaikh oleh Syaikh Kholid Adz-Dzufairiy, tapi Abul 'Abbas dengan tak berakhlaq memanggilnya seperti itu!".
Tanggapan:
Pemberian gelar seperti itu kepada Luqman Ba'abduh adalah sesuai dengan posisi dan keberadaan dia, dan ini tidak bisa dikatakan kami tidak memiliki akhlaq! Karena manusia paling berakhlaq adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah berkata kepada Hamal bin Malik An-Nabighah sebagaimana dalam "Shohih Al-Bukhariy" (no. 5426) dari Abu Huroirah Rodhiyallohu 'anhu:
﴿إنما هذا من إخوان الكهان   
"Dia (Hamal) termasuk saudara-saudaranya dukun".
            Apa yang menyebabkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan seperti itu? Tidak lain karena Hamal menentang hukum yang telah ditetapkan oleh syari'at dengan melantunkan sajak yang persis dengan lantutan para dukun yang isi sajaknya semisal ucapan para dukun yang menentang syari'at maka selayak untuknya menyandang gelar tersebut. Begitu pula orang-orang yang tidak mengikuti bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk tidak berboros-borosan dan melampui batas  dalam kehidupan dunia ini, Allah Ta'ala sebutkan mereka dengan saudara-saudaranya syaithan, Allah Ta'ala berkata:
﴿إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا  [الإسراء/27].
"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Robbnnya". (Al-Isra': 27). Maka dari sini tidak salah bagi kami untuk menyebut Laskar Jihad Aswaja dengan julukan syaithan-syaithan khowarij karena sifat dan sikap mereka ketika itu melampui batas dan berbuat seenak nafsu mereka serta berboros-borosan dengan harta (minta-minta) untuk Mukernas (Musyawarah Kerja Nasional) dan kegiatan-kegiatan lainnya yang sangat menyelisihi syari'at. Julukan yang kami berikan kepada mereka seperti itu karena mengambil hukum dari dua dalil tersebut, dan ternyata pengambilan hukum yang kami lakukan memiliki salaf, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan orang-orang seperti mereka syaithanul khowarij (Lihat Kutub wa Rosail wa Fatawa Ibnu Taimiyyah: Juz. 19, hal. 89).
            Adapun Luqman Ba'abduh sangat cocok menyandang gelar penjahat da'wah karena dengan kejahatannya yang ada, dari sejak dia menjabat sebagai wakil panglima Laskar Jihad dan bertugas di Ambon tampak sekali kejahatannya terhadap kaum muslimin dan penguasa serta dengan mudah menghalalkan darah yang harom untuk ditumpahkan. Begitu pula penganiayaan, pemukulan dan kezholiman dilakukan, baik itu dia lakukan sendiri atau melalui para pengikutnya dia. Maka cukuplah untuk Luqman Ba'abduh menyandang gelar itu. Begitu pula makarnya terhadap Darul Hadits Dammaj yang dia termasuk salah satu keluaran darinya, yang kemudian menampakan permusuhan dengan hinaan dan celaan serta kedustaan dan pemutar balikan fakta dia lakukan terhadap Darul Hadits Dammaj dan masyayikhnya, maka itu merupakan bagian dari kejahatan dia pula!.
Komentar Dua          
Abul 'Abbas juga menyebut ustadz Luqman dengan Siluman, yaitu dengan menghapus huruf Q (si Lu man) dan menyebut seorang wanita pembelanya dengan julukan Kuntilanak!.
Tanggapan:
Sebagaimana telah disebutkan tadi pemaparannya (pada tanggapan komentar I), maka penyebutan siluman kepada dia sesuai keadaan dia yang berpaling dari ayat-ayat Allah ta'ala, sebagaimana dalam Al-Qur'an Allah ta'ala menyebutkan bahwa orang semisal dia itu seperti anjing[4], Allah ta'ala berkata:
﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177)  [الأعراف/175-178].
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim". (Al-A'raf: 175-177).
                Ayat ini sangat pantas untuk diberikan kepada salah seorang ibu rumah tangga yang bernama Nikmatus Tsaniyah atau Ummu Abdillah ketika mendapati e-mail kami bergegas menghubungi kami dengan sok memberi nasehat yang isi nasehatnya berupa tuduhan dusta, ketika kami memperingatkannya untuk jangan menghubungi kami (karena tidak selayakanya istri orang coba-coba menghubungi anak orang lain) dan kami memperingatkannya agar jangan masuk fitnah; dengan memberikan dua pilihan kalau ingin selamat silahkan urusi tanggung jawabmu sebagai seorang ibu rumah tangga, sibukan diri dengan tanggung jawab keluarga dan ilmu serta ibadah. Dan kalau ingin binasa silahkan masuk dalam fitnah hizbiyyah Abdurrohman Al-Adeniy! maka dengan pilihan itu ternyata malah membuatnya semakian menjadi-jadi dan terus bersemangat menyerang kami "maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)", Kemudian dari situ mulailah menuduh kami dengan berbagai tuduhan, mulai dari tudahan maling intelektuil (mencuri terjemahan Dzulqarnain), dan mengkampanyekan kami jijik dan terakhir berani mendustakan dirinya bahwa dia adalah wanita haraki dengan menyebarkan di internet tentang aib kami dengan cara pendustaan dan pemutar balikan fakta namun secara tidak dia sadari ternyata membongkar aibnya sendiri, kemana kawan-kawan kuliahnya yang menjadi saksi atas kedustaannya? Kemudian dengan melihat upaya yang begitu luar biasa maka kami memberinya gelar Kuntilanak, itu disebabkan perbuatannya dia semisal Kuntilanak, yang berupaya membongkar aib-aib kami dengan cara dusta dan licik yang sudah terkubur, namun sayang ketika dia melihat tanah yang meninggi seolah-olah kuburan maka dia dengan semangatnya langsung menggali tanah itu mengiranya itulah kuburan mayat (aib) kami untuk dia santap habis namun karena tidak ada yang didapati maka dia berani berdusta dan bercerita tentang aib kami dengan memutar balikan fakta, dalam rangka membela silumannya, sungguh Allah ta'ala telah berkata:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ [الحجرات/12]
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang". (Al-Hujarat: 12).
            Dan tidak ada seorangpun dari manusia yang suka memakan mayat[5] melainkan dari kuntilanak atau dari binatang buas dan atau orang-orang yang ditipu oleh syaithan semisal Jumanto yang menggali kubur untuk memakan bangkai karena saran dan wasiat dari dukun-dukun syaithan.
 Komentar Tiga        
            Orang yang berakhlaq adalah orang yang lembut dan halus tutur katanya! Dan bisa bergaul dan diterima di mana saja dan kapan saja!
            Tanggapan:
            Demikian itu merupakan wawasan yang dibangun di atas perasaan dan merupakan pandangan yang sempit serta impian yang memiliki jangkauan luas, sekadar contoh JT (Jama'ah Tabligh), siapa yang tidak kenal JT? Hampir kalangan awam mengenal mereka dan kagum dengan kelembutan dan tutur kata mereka, mereka menampakan di hadapan manusia kalau mereka paling penyabar, khuruj (keluar keliling) disakiti, diejek dan sebagainya mereka sabar. Namun coba anda sewaktu-waktu menjelaskan kesesatan, kesyirikan, kebid'ahan dan serta jelaskan kitab pusaka mereka Fadhilah 'Amal maka akan tampak watak asli mereka. Ucapan kasar, keji, celaan, cacian dan bahkan ancaman fisik akan mengenaimu, tidak sekali atau dua kali tapi sudah banyak kali kejadian dan bahkan kami mendengarkan mereka mengatakan: Salafy adalah musuh kita!.
            Begitu pula realita membuktikan bahwa betapa banyak para penggemar proposal, tukang minta-minta dan para pengemis tampak kelembutan dan tutur kata mereka yang halus dalam melaksakan aktivitasnya, dengan kelembutan dan tutur kata yang manis mereka mampu menyihir para muhsinin, sungguh perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
﴿إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا ، وَإِنَّ فِي الشِّعْرِ حِكْمَةً
"Sesungguhnya penuturan itu adalah sihir, dan sesungguhnya syi'r adalah hikmah". Apakah kemudian orang-orang semisal mereka itu dikatakan orang yang berakhlaq mulia?!
Komentar Empat       
            Telah kita lihat makalah-makalah yang dikirimkan isinya hanya pemecah-belahan persatuan dan menjadikan ukhuwah koyak, informasi-informasi yang berkaitan dengan itu pun miring-miring. Yang seyogyanya seseorang itu menjadi penyebab kebaikan dan menyeru kepada kemaslahatan serta memberi maslahat kepada orang lain juga memperhatikan kemaslahatan ikhwah dan ukhuwah!.
            Tanggapan:
            Perkara yang sudah diketahui sebelumnya bahwa keberadaan orang-orang yang berada di atas al-haq itu akan menjadi penyebab terpisahkannya antara orang-orang yang jelek dengan orang-orang yang shalih, karena sudah merupakan ketentuan bahwa kebenaran tidak akan pernah bersatu dengan kesesatan, dari Ibnu 'Umar Rodhiyallohu 'anhu, beliau berkata: Berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
 }لاَ يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا{ وَقَالَ : }يَدُ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ {
"Allah tidak akan menyatukan umat ini di atas kesesatan selama-lamanya". Dan beliau berkata: "Tangan Allôh bersama al-jama'ah"[6]. Allah Ta'ala juga berkata:
}فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ { [يونس/32].
"Maka (Dzat yang demikian) itulah Allôh Rabb kalian yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimana kalian dipalingkan (dari kebenaran) ." (Yunus: 32).
            Demikian adanya anggapan dan sifat percaya diri dalam semangat memberi kebaikan atau syafa'at ke orang lain, dengan upaya seperti itu sangat dikhawatirkan dia dengan metode batil dan prilaku penyelewengan justru menyeru kepada kejelekan dan kemudharatan, bagaimana mungkin dikatakan menyeru kebaikan atau memberi syafa'at kepada orang lain sementara pemberian syafa'at itu diperoleh secara batil, sekadar contoh: Memberi dana kepada orang lain atau memberi untuk pembangunan masjid dan ma'had dengan hasil proposal (minta-minta) atau dengan hasil riba (bunga Bank) maka itu bukan memberi kebaikan tapi memberi kotoran dan keterpurukan. Begitu pula seseorang mengaku menyeru kepada kebaikan dan mengaku berda'wah kepada Allah Ta'ala namun ternyata menjerumuskan kepada kesesatan hizbiyyah atau mengajak manusia untuk berjihad (sebagaimana du'at LJ dulu), namun ternyata mengarahkan dan menjerumuskan mad'u kedalam faham dan tindakan khowarij, maka perumpamaan mereka itu seperti Iblis dan syaithan, Allah Ta'ala berkata:
﴿فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى (120) فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آَدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121)  [طه/120-122].
"Kemudian syaithan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabb dan sesatlah ia kemudian Robbnya memilihnya. Maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk". (Thohaa: 120-122).
            Demikianlah petunjuk dan akhlaq jelek iblis dan syaithan serta orang-orang yang mengikuti jejaknya, adapun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengikut setianya adalah paling bagus akhlaqnya dan paling bagus petunjuknya, diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dalam "Shohihnya" (no. 6849) bahwa Abdullah Rodhiyallohu 'anhu berkata:
﴿إن أحسن الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم وشر الأمور محدثاتها و {إن ما توعدون لآت وما أنتم بمعجزين}.
"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur'an) dan sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. {Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya}".[7].

1.2 Vonis Miring Terhadap Ash-Shhabul Jam'iyah!

Komentar Lima      
            Abul 'Abbas dengan mudahnya menjuluki Luqman bin Muhammad Ba'abduh dan menjuluki du'at yang membela jam'iyat sebagai penjilat dan pengalap berkah yayasan!
            Tanggapan:
            Adapun penyebutan kami seperti itu dikarenakan kejujuran mereka mengakuinya sendiri, sebagaimana Asyakri bin Jamaluddin Al-Bughisiy dengan penuh percaya diri mengatakan: "Mendulang berkah dengan membikin Yayasan Salafiyyah" terus apa yang didulang dari yayasan? Tidak lain adalah harta, sebagaimana dia sebutkan sendiri: supaya mendatangkan masyayikh ke Indonesia! Kami katakan iya itu salah satunya! Diantaranya pula supaya bisa umroh atau keliling ke Saudi Yaman atas da'wah, terus dari mana itu semua kalau bukan dari proposal (minta-minta) atas nama yayasan?!
            Adapun julukan yang kami berikan kepada mereka seperti karena kami memiliki dasar dari As-sunnah Ash-Shohihah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling terbaik akhlaqnya telah memerintahkan shahabat yang mulia Salman Al-Farisiy untuk mengisahkan riwayat hidupnya kepada para shahabat, maka Salman mengisahkannya, diantara kisahnya beliau Rodhiyallohu 'anhu menjelaskan keadaan uskup (guru)nya bahwa gurunya tersebut mengajak umat untuk bersedekah ternyata hasil sedekahnya dipakai untuk kepentingan isi perutnya dan menunmpuknya untuk kepentingan pribadinya, maka Salman mencelanya dan begitu pula umatnya mencela uskup tersebut, setelah diberitahu oleh Salman tentang akhlaq jeleknya, maka jenazah sang uskup tadi di salib dan dilempari batu oleh kaummnya. (Lihat Kisah Shohihnya dalam kitab "Ash-Shohihul Musnad Mimma Lasia fish Shohihain Lil Imam Al-Wadi'iy; Juz. 1, hal. 267-272, no. hadits 440).        
Komentar Enam
            Memang Abul 'Abbas itu tidak berakhlaq sama sekali masa ustadz kita; ustadz Luqman, Afifudin, Sarbini dan ustadz Asyakri serta yang bersama mereka dibilang ustadz kabair, dunguh, ruwaibidhah, jahil dan bodoh, pada terkhusus ustadz Luqman itusudah jadi syaikh, diakui oleh syaikh Abdullah (Al-Mar'i) juga syaikh Kholid tapi Abul 'Abbas anggap dia sepsh-Shohihul Musnad, bukankah syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab tersebut bahwasanya minta-minta itu termasuk dosa besar (kabair)? Bukankah dengan mengemisnya mereka itu sudah layak disebut pelaku dosa besar? Belum lagi dosa lainnya yang telah mereka lakukan dulu, yang keji dan mengerikan (baca; LJ) juga kedustaan dan tipu muslihat mereka itu bukanlah suatu dosa yang ringan atau kecil tapi itu adalah dosa besar. Di riwayatkan oleh Imam Bukhari dalam "Shahihnya" (no. 5977) dari Anas bin Malik Rodhiyallohu 'anhu beliau berkata:
ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - الْكَبَائِرَ ، أَوْ سُئِلَ عَنِ الْكَبَائِرِ فَقَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ » . فَقَالَ « أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ - قَالَ - قَوْلُ الزُّورِ - أَوْ قَالَ - شَهَادَةُ الزُّورِ ».
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebutkan tentang dosa besar atau ditanya tentang dosa besar maka beliau berkata: "Syirik kepada Allah, membunuh jiwa, durhaka kepada kedua orang tua". Lalu berkata lagi: "Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar?" Lalu beliau berkata: "(yaitu) perkataan dusta (palsu) atau persaksian palsu".
            Adapun tentang kebodohan dan kedunguan mereka, maka layak mereka menyandangnya karena ketika orang itu waras dan sehat akalnya maka tidak akan condong menjerumuskan dirinya kedalam dosa besar atau dosa kecil, hanyalah orang yang dungu dan para pengikut hawa nafsu yang sudah tahu dosa akan tetapi masih saja cemplung di dalamnya sungguh benar perkataan sebagian salaf sebagaimana dalam "Tafsir Ibnu Katsir" (4/408):
كل من عصى الله فهو جاهل، وقرأ: { ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ } إلى قوله: { إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ } [النحل: 119].
"Setiap yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah bodoh, lalu membaca ayat: "Kemudian, Sesungguhnya Rabbmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya" Sampai perkataan-Nya: "Sesungguhnya Rabbmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [An-Nahl: 119].


BAB II
ORANG YANG TIDAK BERAKHLAQ DAN PEMECAH BELA SUKANYA BERKATA KASAR, PEDAS DAN MENYAKITKAN
            Seandainya ada yang mengatakan seperti pada judul Bab II ini secara mutlak (tanpa ada rincian) maka sungguh jelas kalau dia adalah orang yang tidak berakhlaq dan bodoh terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Sohihah serta manhaj salafush sholih, dan kalaulah benar Kholiiful Hadii mengatakan seperti itu maka kami terangkan lagi: Bahwa wajar dia berkata begitu, karena latar belakangnya mendukung keberadaannya, ketika dia di Dammaj rajin keluar masuk maktabah (perpustakaan) dan menyibukan diri pada bidang lughoh (bahasa Arob) dan fiqih serta ushulnya (namun ternyata didapati sebagian fiqihnya miring) dan ketika di Dammaj dia menjadikan bidang manhaj dan aqidah shohihah hanya sebagai sampingan jadi wajar kalau didapati sebagian aqidahnya terdapat kesalahan atau didapati manhajnya terpuruk. Dia sebenarnya sudah merasa kalau dirinya seperti itu, sebagaimana dia katakan sendiri: Ana ingin belajar lagi, tapi ana ingin belajar di Saudi!
            Mungkin akan ada yang bertanya: Kenapa harus milih belajar ke Saudi? kenapa tidak ke Dammaj saja? Maka kemungkinan jawabannya: Supaya seperti Dzulqarnain bisa cari dana (ajukan proposal) sambil belajar. Atau mungkin jawabannya seperti perkataan ahlu ilmi: "Kalau mau (makan) daging ke Saudi, kalau mau ilmu ke Dammaj!".
Banyak orang tidak mau ke Dammaj karena lantaran di Dammaj hidup dan kebutuhan apa adanya, atau karena lantaran dia majruh (dikritik) maka dia takut ke Dammaj. Atau karena di Dammaj tegas mengikuti sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mengharomkan minta-minta jadi takut tidak boleh lagi ajukan proposal (minta-minta).

Tanggapan judul Bab II:

            Tidak ada kebimbangan dan keraguan lagi bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum diangkat sebagai rasul dipercaya sebagai orang yang terbaik dan berakhlaq terpuji, sebagaimana disebutkan oleh Ummul Mu'minin Khodijah Rodhiyallohu 'anha tentang akhlaq dan prilaku Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  dan diakui oleh siapa saja (Lihat Shohihul Bukhoriy, no. 3, 6982) dan bahkan ketika itu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dijuluki dengan "Al-Amin", namun ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam diangkat sebagai rasul, Allah Ta'ala perintahkan supaya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memberi peringatan, sebagaimana perkataan-Nya:
﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)﴾ [المدثر/1، 2]
"Hai orang yang berselimut! Bangkitlah dan berilah peringatan!". (Al-Mudtatsir: 1-2). Ketika rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai memberi peringatan dan mulai menjarh (mengkritik atau mencela) sesembahan-sesembahan dan tokoh-tokoh sesat semisal Abu Lahab (yang celaan terhadapnya ada dalam satu surat dalam Al-Qur'an) maka mulailah disirnakan julukan yang bagus tadi dari diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mereka ganti julukan itu dengan tukang sihir, pendusta, gila dan sesat serta julukan-julukan jelek lainnya, tidak ada sama sekali pada diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan dengan ketegasan dan keberanian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mengatakan al-haq membuat kaum musyrikin kepedasan telinganya ketika mendengarkan suara dan tahdziran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan membuat hati mereka merintih kesakitan, maka kemudian mereka membuat banyak makar untuk menghinakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan serta mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah pemecah belah persatuan kaum Quraisysy dan ucapan yang semisal itu. Maka kami katakan: Memang benar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memecah belah (memisahkan) manusia antara yang baik dan yang jelek, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhoriy dalam "Shohihnya" (no. 7281) dari Jabi bin 'Abdillah bahwa:
﴿محمد صلى الله عليه و سلم فرق بين الناس        
"Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam membedakan (memisahkan) manusia".
Berkata Asy-Syaikh An-Nashih Al-Amin Yahya bin 'Ali hafidzahullah: Yaitu memisahkan manusia antara yang sholih dengan manusia yang jelek, antara yang kafir dan mu'min".
PENUTUP
Demikian tulisan yang singkat dan sederhana ini sebagai tanggapan ringkas terhadap kerancuan-kerancuan dan pola pikir yang miring, serta sebagai tantangan untuk para komentator, adapun dalil-dalil yang sedikit meluas yang berkaitan dengan masalah ini telah kami singgung dalam kitab "An-Nuktatus Suada' fii Quluubis Sufaha'" edisi revisi yang terbaru.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله.
Selesai ditulis oleh Al-Faqir Ilallah Abul 'Abbas Khidhir Al-Mulkiy, di Darul Hadits Dammaj-Sho'da-Yaman pada hari Sabtu menjelang azan Zhuhur/4 Sya'ban 1430 H.

[1] Hadits ini hasan, sebagaimana dihasankan oleh Al-Imam Al-Wadi'iy dalam "Ash-Shohihul Musnad" (Juz: 2, hal. 350, no. 1327/penerbit Darul Atsar Shon'a-Yaman/cetakan ketiga/tahun 1426 H.
[2]  Telah disebutkan oleh ahli tafsir tidak hanya satu orang yang menyebutkannya bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi para pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Bersamaan dengan itu datang Abdullah Ibnu Ummi Maktum ingin bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sesuatu perkara agama lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bermuka masam dan berpaling darinya maka turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: Juz 8, hal. 319).
                Ini sekaligus teguran dan pelajaran untuk sebagian du'at salafiyyin yang sangat dan paling mengharapkan kesalafiyannya sebagian du'at mutawaqifin atau du'at hizbiyyin yang akibatnya mereka rela menghibahi dan menyakiti hati sebagian salafiyyin!
[3]  Penyebutan orang bodoh di sini hanya pada kalangan awam, karena didapati sesuai kenyataan bahwa ada orang-orang bodoh dari kalangan orang-orang terpelajar dan khabar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukan akan benarnya ada orang bodoh dari kalangan yang menampakan ilmu dan menampakan amal sholih semisal khowarij, sebagaimana dalam "Shohih Al-Bukhariy" (no. 3415) dari 'Ali Rodhiyallohu 'anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
 ﴿يأتي في آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من خير قول البرية﴾.
"Akan datang suatu kaum di akhir zaman nanti yang orang-orang tersebut masih ingusan (mudah umurnya), yang dungu pemahamannya, yang mereka berkata dengan perkataan manusia yang paling terbaik (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam)".
[4] Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menyebutkan orang yang menghalalkan darah kaum muslimin, memberontak kepada penguasa muslim sebagai anjing-anjing neraka, sebagaimana dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah dalam "Sunannya" (no. 173) dari Ibnu Abi Aufah, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
﴿الخوارج كلاب النار﴾
"Khowarij adalah anjing-anjingnya neraka".
[5] Sengaja kami tidak sebut dengan bangkai, karena untuk menyesuaikan dengan perkataan si Ummu Abdillah dengan tanpa malu mengatakan "Si Picisan Mayat-mayat Cinta". Demikian penampakan latar belakangnya dia, kalau memang dia adalah anak gaul, sebagaimana telah mengkhabarkan kepada kami teman-teman kuliah Nikmatus Tsaniyah bahwa Nikmatus Tsaniyah memang gaul dan sering melantuntkan kata-kata semisal itu. Namun sangat disayangkan ternyata perkataan hina dan keji lagi kotor semisal itu dipakai oleh pembebek Luqman Ba'abduh untuk mengejek kami.
[6] Ini adalah hadits Shohih, sebagaimana terdapat dalam "Al-Mustadrak 'ala Ash-Shohihain lil Hakim" (Juz: 1, hal. 348) dan dalam "Ash-Shohih Al-Musnad" (Juz: 1, hal. 514).
[7]  Al-An'am: 134.

SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI


SEJARAH PENGHINAAN YANG BERTUBI-TUBI
SEMUANYA MEREKA HINA TERMASUK PARA NABI
Tanggapan Ringkas Terhadap Buku:
SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI


Sebagai Tanggapan dan Kritikan buat:
Bapak Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj MA. dan Idahram.

Ditulis oleh Abul ‘Abbas Khidhir Al-Mulki –semoga Alloh menjaganya- yang dikenal dengan Muhammad bin Salim.



PENGHINAAN KEPADA ROSULULLOH
صلى الله عليه وسلم))

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه.
أما بعد:
Alloh (تعالى) memerintahkan umat manusia untuk memuliakan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) dan beradab kepadanya, walaupun hanya masalah bertutur kata.
Bila seseorang dibacakan kepadanya hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم)) maka dia tidak akan menentang hadits-hadits tersebut, bila dia memiliki pendapat maka ketika dibacakan hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم)) maka diapun tidak berani mengangkat suaranya melebihi suara orang-orang yang membacakan hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم)) tersebut, karena Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Hujarot" ayat 2 sampai 3:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (3)}.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rosululloh mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Alloh untuk bertaqwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar".

Penghinaan Secara Tidak Disadari
            Pada sampul buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” [untuk selanjutnya disingkat “SEBAL”] tertulis: “Sebuah buku yang secara ilmiah menguak kebenaran ramalan Rasulullah Saw"    
            Tanggapan:
            Pada sub bahasan ini ada dua poin yang perlu ditanggapi:
Pertama: ramalan
Kedua: Saw.

Tanggapan pada poin pertama
Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) adalah makhluk yang paling mulia, Alloh (تعالى) memberinya keutamaan yang tidak diberikan kepada selainnya. Alloh (تعالى) mengangkat derajatnya menjadi seorang nabi dan rosul dan menyampaikan wahyu kepadanya melalui perantara malaikat Jibril (عليه السلام). Beliau صلى الله عليه وسلم)) tidak akan menuturkan kata-kata melainkan sesuai dengan yang diwahyukan kepadanya, sebagai perkataan Alloh (تعالى) dalam surat "An-Najm" ayat 3 sampai 4:
{وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)}.
“Dan tidaklah beliau berucap menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.
                Setelah jelas bagi kita bahwa setiap apa yang diucapkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) adalah wahyu maka apakah pantas kalau kemudian kita mengatakan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) melakukan ramalan? Ketahuilah ini termasuk salah satu dari bentuk nyata perendahan dan penghinaan terhadap Rosululloh صلى الله عليه وسلم)), karena ramalan itu merupakan jurus yang digunakan oleh para dukun, maka apakah pantas Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) disamakan dengan para dukun yang suka meramal?
            Ketahuilah –semoga Alloh memberikan hidayah kepada kami dan kepada kalian- bahwa para dukun ramalannya terkadang benar dan terkadang salah, maka kalau istilah “menguak kebenaran ramalan itu cocoknya hanya kepada para dukun, adapun Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) maka tidak ada lagi keraguan atas setiap apa yang beliau katakan.       
            Adapun ramalan yang dipraktekan oleh para dukun maka sangat kecil kemungkinan benarnya, bahkan ramalan-ramalannya tersebut kesalahan yang paling mendominasinya, karena hasil ramalan mereka didapat dari bantuan para syaithon, yang para syaithon mencurinya dari langit, kemudian disampaikan kepada para dukun dengan dicampur seratus kedustaan sebagaimana yang Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) katakan:
فيكذبون معها مائة كذبة.
"Yang mereka membuat kedustaan pada berita tersebut dengan seratus kedustaan". [HR. Al-Buhkari (no. 3210) dan Muslim (no. 122-(2228)].
            Perbedaannya: Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) mendapatkan wahyu langsung dari Alloh dan semuanya benar, tidak membutuhkan lagi adanya istilah "menguak kebenaran", adapun para dukun mendapatkan bisikan-bisikan dari syaithon yang dinamai dengan ramalan yang kedustaan mendominasinya.
            Dari penjelasan tersebut nyatalah kalau mereka (penerbit buku "SEBAL" dan penulisnya) telah terjatuh pada penghinaan terhadap Rosululloh صلى الله عليه وسلم)).
            Kalau kemudian ada yang berkata: Ungkapan ramalan itu hanya sekedar ungkapan kebiasannya orang-orang maka tidak bisa dikatakan itu sebagai ungkapan penghinaan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم))?. Atau kalau ada yang berkata: Itu tidak dimaksudkan untuk menghina Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) (unsur ketidaksengajaan)!. Maka kami katakan: Orang-orang Arob perkampungan (Arob badui) mereka juga memiliki kebiasan yang sering mereka lakukan, mengangkat suara tinggi dikalangan mereka adalah biasa, namun ketika mereka meninggikan suara di sisi Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) maka Alloh (تعالى) dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم)) tidak memberi toleransi seperti apa yang dikatakan, Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Hujarot" ayat 2 sampai 5:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (3) {إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (4) {وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (5)}.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus amalan (kebaikan) kalian, sedangkan kalian tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rosululloh mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Alloh untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak berakal, dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Alloh adalah Al-Ghofur (Maha Pengampun) lagi Ar-Rohim (Maha Penyayang)".
                Dari ayat tersebut sangat jelas yang meninggikan suara kebanyakannya adalah orang-orang yang tidak berakal, namun apakah Alloh (تعالى) memberikan toleransi dan kebebasan kepada mereka? Wallohi tidak! Bahkan Alloh (تعالى) melarang mereka untuk mengangkat suara mereka kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) supaya amalan kebaikan mereka tidak terhapus, bila mereka tidak menyadari kalau kebiasaan mereka itu adalah suatu kesalahan maka tentu resikonya amalan-amalan sholih mereka yang pernah mereka kerjakan akan terhapus. Maka tidakkah ada yang mau mengambil pelajaran?!.
            Adapun perkataan: Itu tidak dimaksudkan untuk menghina Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) maka ketahuilah bahwa orang-orang munafiqpun bisa membuat alasan seperti itu, Alloh (تعالى) berkata tentang perbuatan mereka sebagaimana dalam surat "At-Taubah" ayat 65 sampai 66:
{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ}.
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka katakan itu), tentulah mereka akan manjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah terhadap Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian akan memperolok-olok?, tidak perlu kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir sesudah kalian beriman".
            Karena mereka menghina Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) tidak memberikan toleransi dan alasan bagi mereka, sebagaimana kisahnya dalam "Tafsir Ibni Katsir" (Juz 4/hal. 171): "Dari Abdullah bin Umar, beliau berkata: Berkata seseorang pada perang Tabuk di suatu masjid: "Tidaklah aku melihat seperti juru baca kita itu, yang paling besar perutnya, paling pendusta lisannya, dan paling penakut ketika berjumpa musuh!. Maka berkata seseorang dalam dalam masjid tersebut: Kamu telah berdusta, kamu ini adalah munafiq, sungguh aku akan mengabarkan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)), lalu orang tersebut menyampaikan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)), maka turunlah Al-Qur'an. Berkata Abdullah bin Umar: Aku melihat orang yang menghina Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) tersebut bergantung di kendaraan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) hingga tertabrak ke batu-batu, sambil berkata: Wahai Rosululloh! Hanyasaja kami tadi bersenda gurau dan bermain-main saja! Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ}.
"Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kalian akan memperolok-olok?, tidak perlu kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir sesudah kalian beriman".
                 Betapa malang nasib orang munafiq tersebut, mengejar Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) untuk mengemukakan alasannya, sampai badannya berbenturan dengan batu-batu, namun alasannya tidak diterima. Maka apa alasan dari penerbit buku "SEBAL" begitu pula apa alasan penulisnya ketika kami paparkan permasalah ini?.
                 Insan yang memiliki akal dan pandangan yang sehat lagi tajam, begitu pula insan terpelajar dan insan akademik tentu tidak akan tergesa-gesa menyambut, menerima dan membenarkan buku "SEBAL" itu, tetapi dia akan berpikir terlebih dahulu, karena orang yang tertinggi seperti Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) saja sudah dihina lalau bagaimana kiranya dengan orang-orang yang rendah dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) semisal para pengikut setianya dari umat ini? Maka tentu hinaan dan kedustaan kepada mereka lebih dahsyat dan berlebih-lebihan –hanya kepada Alloh kami memohon perlindungan-.

Tanggapan pada poin Kedua
                 Pada kesempatan ini kami ingin memperingatkan penerbit buku, penulis (Idahram) dan Prof.Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA., selaku pemberi kata pengantar pada tulisan "SEBAL" dan siapa saja yang memiliki sikap sama dengan mereka untuk berhati-hati berbicara tentang pembawa syariat nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم)), kami melihat bahwa pak prof telah terjerumus ke dalam penghinaan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) secara dia tidak menyadari. Ketahuilah bahwa penulisan setelah nama Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) dengan singkatan (saw) itu adalah suatu kebatilan dan kesalahan yang sangat fatal, kalau para pembaca membacanya secara langsung (Shallallahu 'Alaihi wa Sallam) itu yang diharapkan, tapi kalau mereka membacanya seperti yang tersingkat maka inilah bentuk nyata penghinaan itu.
Orang-orang yang rajin melaksakan sholat berjama'ah di masjid tentu sering mendengar himbauan imam sholat sebelum memulai takbirotul ihrom: Saw, saw, saw sufufakum[1]…..Luruskanlah kalian, luruskanlah kalian, luruskanlah kalian, shaf-shaf kalian!".
Bila maksud dan tujuan imam sholat kalian mengetahuinya maka cobalah pikirkan bagaimana kalau setelah nama nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم)) ditambah dengan kalimat saw, maka apakah pantas?.
                 Setiap orang yang mengaku muslim tentu sudah mengenal sholawat, namun untuk mengamalkan bagaimana sholawat yang benar maka masih perlu dipertanyakan? Alloh (تعالى) dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم)) dengan bentuk sholawat yang paling bagus dan sangat jelas, setelah Alloh (تعالى) dan para malaikat-Nya bersholawat mereka memerintahkan kaum mukminin untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم)), sebagaimana Alloh (تعالى) sebutkan perintah tersebut di dalam Al-Qur'an pada surat "Al-Ahzab" ayat 56:
{إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}.
"Sesungguhnya Alloh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".
                 Coba perhatikan ayat tersebut sangat jelas adanya perintah untuk bersholawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم)) dan adanya pula perintah untuk mengucapkan salam penghormatan kepadanya, maka apakah pantas hanya dengan mengucapkan saw?.
                 Kalau ada tamu datang disuatu rumah dan kamu sebagai penghuni rumah, kemudian tamu tersebut mengetuk pintu sambil mengucapkan salam dengan singatan "aww, aww, aww" maka apakah kamu akan bersenang hati dengannya? Atau ketika kamu berjumpa dengan orang yang kamu anggap sebagai kawanmu namun kemudian dia ketika menjumpaimu mengucapkan salam "aww" maka tentu kamu akan merasa bahwa itu adalah penghinaan kepadamu, maka berpikirlah wahai orang-orang yang berakal!.
                 Di dalam kitab-kitab mazhab Asy-Syafi'iyyah selama kami membaca atau mempelajarinya bersama beberapa masyayikh kami, belum pernah kami dapatkan ada fatwa dari imam-imam mazhab Asy-Syafi'iyyah mengatakan bahwa meringkas sholawat untuk Nabi صلى الله عليه وسلم)) seperti itu hukumnya boleh!, Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) telah memberikan bimbingan yang sangat jelas tentang tata cara bersholawat, di dalam "Shahih Al-Bukhari" (no. 4797) dan “Shahih Muslim” (no. 935) dari hadits Ka'ab bin 'Ujrah –semoga Alloh meridhoinya-, beliau berkata: "Ya Rosululloh adapun salam kepadamu sungguh telah kami tahu, maka bagaimana bersholawat kepadamu? Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata: "Katakanlah kalian:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ».
                 Kalaupun seandainya ada dari imam-imam mazhab As-Syafi'iyyah yang membolehkan meringkas sholawat menjadi "saw" maka tentu kita tidak diperkenankan untuk mengambil pendapat tersebut, yang lebih berhak dan wajib kita ambil adalah perkataan Alloh (تعالى) dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم)), Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Hasyr" ayat 7:
{وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ}.
"Dan apa yang didatangkan oleh Rosul kepada kalian maka terimalah, dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh sangat keras hukumannya".

Penghinaan Secara Disadari
Berkata Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj MA dalam pengantarnya terhadap buku "SEBAL" (hal. 9): “Islam merupakan agama peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam, bukan agama teroris.
Apa yang dikatakan memang benar, Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Anbiya'" ayat 107:
{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ}.
"Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat untuk semesta alam". Keberadaan beliau di tengah-tengah umat sebagai rahmat untuk semesta alam adalah perkara yang sangat disambut oleh orang-orang yang masih memiliki akal pikiran namun bagi orang yang suka menghina maka mereka tidak peduli dengan keberaadan Nabi صلى الله عليه وسلم)) sebagaimana yang Alloh (تعالى) tetapkan. Bahkan mereka menampakan kata-kata, membuat istilah-istilah dan gelar-gelar kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) dengan sesuatu yang sangat jelas sebagai upaya penghinaan dan penjatuhan martabat dan derajat beliau صلى الله عليه وسلم)), namun bagi orang yang masih muslim, masih memiliki iman dan masih memiliki kecintaan kepada Alloh (تعالى) dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم)) tidak akan diam, bahkan mereka akan bangkit untuk membelanya dengan membacakan ayat-ayat Alloh (تعالى) dan sunnah-sunnah Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم)).

Berikut ini diantara beberapa penghinaan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) semasa beliau masih hidup:

  • Penghinaan Abu Lahab
Ketika Nabi صلى الله عليه وسلم)) baru memulai dakwah kepada tauhid, memulai dengan menyeru kerabat-kerabatnya maka bangkitlah seseorang menampakan penghinaan yang nyata, yang dia adalah pamannya sendiri, Al-Imam Al-Bukhari di dalam "Shahih"nya (no. 1494) meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata: "Abu Lahab –semoga Alloh melaknatnya- berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم)): "Kebinasaan bagimu", maka turunlah perkatan Alloh (تعالى) pada surat "Al-Masad" ayat 1 sampai 5:   
{تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)}.
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut".
Tentu bagi orang yang memiliki akal pikiran akan bertanya-tanya: Apa yang menyebabkan Abu Lahab mencela dan menghina keponakannya? Abu Lahab dan kaum musyrik Quraisy melakukan penghinaan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) karena Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) menyeru mereka untuk merealisasikan tauhid ibadah (tauhid uluhiyyah). Alloh (تعالى) sebutkan tentang ejekan dan penghinaan mereka kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) di dalam surat "Shod" ayat 5 sampai 7:
{أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5) وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آَلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ (6) مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الْآَخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ (7)}.
“Mengapa dia menjadikan sembahan-sesembahan itu Ilah yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata):"Pergilah kalian dan tetaplah (menyembah) sesembahan-sesembahan kalian, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Alloh) tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan”.
Jangan kita mengira bahwa kaum musyrikin Quraisy itu tidak bertauhid sama sekali! Justru mereka itu bertauhid pada sebagian kecil permasalahan saja, Alloh (تعالى) jelaskan tentang tauhid mereka itu sebagaimana di dalam surat "Al-Ankabut" ayat 61:
{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ}.
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Alloh", maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”.
            Tidak hanya itu, bahkan mereka menetapkan nama Alloh, sebagaimana kisahnya terdapat dalam “Shohih Muslim” (no. 4732) ketika terjadi perjanjian damai antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin, maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) menyuruh penulisnya:
«اكْتُبْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ».
“Tulislah dengan nama Alloh yang Ar-Rohman (Maha Pengasih) lagi Ar-Rohiim (Maha Penyayang)”. Berkata Suhail (salah seorang tokoh musyrikin): “Adapun tentang nama Alloh maka tidaklah kami mengetahui apa “Dengan nama Alloh yang Ar-Rohman (Maha Pengasih) lagi Ar-Rohiim (Maha Penyayang)” akan tetapi tulislah apa-apa yang kami ketahui: “Dengan nama Alloh”.
            Namun kesesatan mereka telah nyata yaitu menjadikan Alloh (تعالى) tandingan-tandingan dalam beribadah, mereka menjadikan latta dan uzza sebagai perantara ibadah mereka kepada Alloh (تعالى), mereka meminta kepada orang-orang sholih yang sudah meninggal dunia.
Mereka tampak benar-benar merealisasikan tauhid ibadah (tauhid uluhiyyah) ketika petaka sudah di depan mata, Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Ankabut" ayat 65:
{فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}. 
“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh)”.
                Ketika Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) melihat keadaan kaum musyrikin perbuataannya seperti itu, beliau mulai menyeru mereka untuk benar-benar meralisasikan tauhid, disaat lapang maupun sempit, namun apa tanggapan kaum musyrikin? Mereka malah menuduhnya dengan tuduhan dusta, beliau dituduh sebagai tukang sihir, pengacau (teroris), pemecah belah persatuan dan tuduhan-tuduhan dusta lainnya, karena mereka gagal dalam menjalankan makarnya terhadap Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) dan para shohabatnya merekapun menampakan kekerasaan dan teror, ketika Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) sudah hijroh di Madinah dan kaum muslimin sudah memiliki kekuatan maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) mengumumkan perlawan (jihad) terhadap orang-orang musyrik, perlawanan tersebut akan berhenti bila kaum musyrikin merealisasikan konsekwensi dari tauhid yaitu benar-benar memurnikan agama (ibadah) hanya kepada Alloh (تعالى), Allah (تعالى) berkata dalam surat "Al-Anfal" ayat 39:
{وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}.
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Alloh. Jika mereka berhenti (dari kesyirikan), maka sesungguhnya Alloh Maha melihat apa yang mereka kerjakan”.
            Di dalam “Shohih Al-Bukhari” (no, 25) dari Abdullah bin Umar, dan “Shohih Muslim” (no. 135) dari Abu Huroiroh, Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِى وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ».
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi “Bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Alloh, mereka beriman kepadaku dan apa-apa yang aku datang dengannya, jika mereka melaksanakan yang demikian itu maka mereka mendapatkan jaminan (kemanaan) dariku pada darah-darah dan harta-harta mereka kecuali pada haknya, dan perhitungannya atas Alloh”.

  • Penghinaan Dzul Khuwaisiroh
Ketika Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) masih di Makkah (sebelum hijrah ke Madinah) beliau mendapatkan banyak penghinaan dari orang-orang musyrik, beliau dituduh sebagai tukang ramal, tukang sihir dan gila, hal ini sebagaimana Alloh (تعالى) katakan dalam surat "Shod" ayat 4:
{وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ}.
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rosul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta".
            Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Adz-Dzariyat" ayat 52:
{كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ}.
“Demikianlah tidak seorang Rosulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”.
            Setalah beliau hijroh ke Madinah ternyata muncul penghinaan dari seseorang yang mengaku beragama Islam, dia ikut menyusup dalam barisan kaum muslimin, kemudian Alloh (تعالى) menampakan keadaannya secara jelas sehingga manusia mengetahui keadaan yang sebenarnya, ketika Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) membagikan harta rampasan perang, maka tiba-tiba datang Dzul Khuwaisiroh yang dia adalah seseorang dari Bani Tamim, lalu berkata: “Berbuat adillah wahai Muhammad, karena kamu belum berbuat adil!”. Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ بَعْدِي إِذَا لَمْ أَعْدِلْ».
“Celaka kam, siapa yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?!” Berkata Umar: Biarkan aku wahai Rosululloh untuk memenggal lehernya, ini adalah munafiq. Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata: “Biarkan”, ketika Dzul Khuwaisiroh berpaling Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata: “Akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai melewati tenggorokannya, mereka keluar dari agama Islam ini bagaikan anak panah yang tembus keluar dari binatang buruannya. Mereka memerangi orang-orang Islam dan membiarkan penyembah berhala”. [HR. Al-Bukhari (no. 3414) dari Abu Said, Muslim (no. 2496), Ibnu Majah (no. 172) dari Jabir bin Abdillah]. 
            Dari hadits tersebut dapat diperik faedah diantaranya:
  1. Hukum Mencela Nabi صلى الله عليه وسلم)).
            Al-Imam An-Nawawi –semoga Alloh merahmatinya- menukil perkataan Qadhi ‘Iyadh: "Hukum syar’i bahwa siapa yang mencela Nabi صلى الله عليه وسلم)) adalah kafir dan dibunuh. Dan pada hadits tersebut tidak disebutkan bahwa Dzul Khuwaisiroh dibunuh. [“Syarhu Shohih Muslim” karya Al-Imam An-Nawawi (Juz 4/hal. 388)].
            Di dalam “Shohih Al-Bukhari” (no. 6531) dan “Shohih Muslim” dari Ali bin Abi Tholib, Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) ketika menjelaskan tentang orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan Dzul Khuwaisiroh beliau memerintahkan dengan hukuman bunuh, beliau berkata:
«سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».
“Akan muncul di akhir zaman suatu kaum yang ahdatsul asnaan, sufaha’ul ahlam, mereka berucap dengan perkataannya khairul bariyyah (hadits), mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya (tembus). Jika kalian menjumpai mereka maka bunuhlah, karena sesungguhnya membunuh mereka itu berpahala di sisi Alloh pada hari kiamat”.

2.      Ciri-ciri dari Orang-orang yang Memiliki Keterkaitan Pemikiran dengan Dzul Khuwaisiroh
-          Mereka sangat kuat dalam beribadah.
Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) mengatakan kepada para shohabatnya bahwa para shohabatnya akan merasa minder dengan ibadah mereka seperti sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an [Lihat “Syarhu Shohih Muslim” karya Al-Imam An-Nawawi (Juz. 4/hal. 394)].
Di zaman ini kita dapatkan dengan mudah orang-orang yang Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) mensifati mereka, ada dari mereka yang melakukan puasa bid’ah dengan waktu yang cukup panjang, ada dari mereka yang sholat lail berpuluh-puluh rokaat, ada dari mereka membaca Al-Qur’an dalam sehari mereka bisa mengkhotamkannya, dari mereka ada yang berdzikir ribuan kali dalam sehari, ketika Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) disampaikan tentang orang-orang yang beramal seperti mereka itu maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى».
“Barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukanlah dari (golongan)ku”. [HR. Al-Bukhari (no. 4776) dan Muslim (no. 3469) dari hadits Anas bin Malik]. 

-            Mereka kulitnya hitam, pada telapak tangan atau lengan atau pundak mereka seperti puting yang ada pada buah dada wanita atau seperti potongan daging.
Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْىِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ».  
“Ciri-ciri mereka adalah orang yang hitam, salah satu dari lengannya seperti puting (yang ada pada buah dada wanita) atau seperti potongan dari daging”. [Lihat “Syarhu Shohih Muslim” karya Al-Imam An-Nawawi (Juz. 4/hal. 394)].
                Adapun yang dikatakan oleh pak Prof pada pengantarnya terhadap buku “SEBAL” (hal. 13): “Imam Nawawi menjelaskan bahwa Dzul Khuwaisiroh adalah sosok yang berjidat hitam, kepalanya botak tidak berambut, tinggi gamisnya setengah kaki dan jenggotnya panjang”.
Kami sudah mencoba membuka-buka lembaran demi lembaran pada “Syarhu Shohih Muslim” untuk mencari ciri-ciri yang disebutkan oleh pak Prof namun kami tidak dapatkan seperti yang dikatakan. Kalau penyebutan ciri-ciri tersebut dari pak Prof yang kemudian dia sandarkan kepada Al-Imam An-Nawawi maka itu merupakan kedustaan dan kezhaliman yang nyata, bila benar pak Prof berkhianat dalam masalah ini maka kami semakin khawatir kalau pak Prof jangan-jangan sudah termasuk dalam ciri-ciri yang disebutkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم)), jadi pak Prof berusaha untuk memalingkan perhatian manusia jangan sampai diketahui keadannya!, kalaupun benar tentang ciri-ciri yang disebutkan oleh pak Prof itu seperti yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi maka ketahuilah bahwa ciri-ciri tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sarana untuk mencela, menghina dan memojokan Ahlussunnah karena ada dari ciri-ciri tersebut sudah merupakan sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم)), seperti celana atau gamis di atas mata kaki –Alhamdulillah telah ada pembahasan tentang masalah ini dalam tulisan kami ini-.
Kemudian  dari pada itu ketahuilah bahwa Al-Imam An-Nawawi telah menjelaskan ciri-ciri yang lain sebagaimana dalam “Syarhu Shohih Muslim” (Juz 4/hal. 395):
"وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ هَذَا لَيْسَ بِحَرَامٍ".      
“Dan telah diketahui bahwa cirri-ciri ini tidaklah harom”.
Adapun tentang mencukur rambut (botak) maka Al-Imam An-Nawawi telah menjelaskannya pula, beliau berkata dalam“Syarhu Shohih Muslim” (Juz 4/hal. 395):
"قَالَ أَصْحَابُنَا: حَلْقُ الرَّأْسِ جَائِزٌ".
“Berkata Ashhabuna (orang-orang dari mazhab Syafi’i): Mencukur rambut kepala adalah boleh “.

-          Menuduh Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) sebagai orang yang tidak memiliki keadilan.        
Dari pemaparan tersebut maka orang-orang yang berakal tinggal menilai: Penghinaan manakah yang lebih kurang ajar; Menuduh Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) sebagai tukang ramal atau mengatakan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) tidak bisa berbuat adil?!. Lebih anehnya lagi pada pengantar buku “SEBAL (hal. 12) pak Prof berkata: “Predeksi Rasulullah terbutki pada Ahad pagi....”.
Perkataannya “Predeksi” tidak jauh bedanya dengan ungkapan “ramalan” sudah lewat pembahasannya [silahkan merujuk kembali kepembahasannya]. Dari ungkapan tersebut tampak kebodohan pak Prof, sungguh memalukan sudah bertitel panjang namun tidak bisa membedakan antara sesuatu kepastian dengan sesuatu perkiraan, ini merupakan suatu permasalahan yang sedang dihadapi oleh pak Prof, ketahuilah bahwa masalah merupakan suatu kesenjangan antara harapan dan kenyaatan. Pak Prof mungkin mengira bahwa harapannya dalam memberi pengantar pada tulisan “SEBAL” akan sesuai dengan kenyataan yang ada, perlu pak Prof mengkaji dan melalukan peninjauan sehingga tidak lagi ada suatu kesenjangan antara pengetahuan dan pengamalan.
            Pak Prof dan orang-orang yang memiliki kemiripan dengan pak Prof harus tahu memahami perbedaan antara predeksi dengan suatu kepastian, harus pula memilah mana yang masuk dalam kategori ramalan dan mana yang masuk kepastian? Apa yang Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) beritakan maka itu pasti akan terbukti, sekadar contoh perberitaan beliau: “Akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai melewati tenggorokannya, mereka keluar dari agama Islam ini bagaikan anak panah yang tembus keluar dari binatang buruannya”.
Dan perkataan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) tersebut telah terbukti dan akan terbukti pula, setelah Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) wafat, mereka mulai menampakan diri, mereka adalah orang-orang yang kuat dalam beribadah dan mereka tidak merasa cukup dengan syariat yang dibawa oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم)), pada akhirnya mereka membuat bid’ah dalam Islam yaitu dzikir jama’ah, setelah itu mereka bersatu dengan khowarij dalam memerangi kaum muslimin, hal ini sebagaimana pernah terjadi dan disebutkan dalam “Sunan Ad-Darimi” dengan sanad hasan. Al-Imam Ad-Darimi –semoga Alloh merahmatinya- berkata: Telah mengabari kami Al-Hakam bin Mubarak beliau berkata: Telah mengabari kami ‘Amr bin Yahya, beliau berkata: Aku mendengar bapakku menceritakan dari bapaknya, dia berkata: Kami duduk di samping pintu Abdulloh bin Mas’ud sebelum shalat zhuhur, tiba-tiba beliau keluar, kamipun berjalan bersamanya ke masjid, maka datanglah kepada kami Abu Musa Al-Asy’ari lalu berkata: Apakah keluar kepada kalian Abu Abdirrohman, kami mengatakan: Tidak, diapun duduk bersama kami hingga beliau keluar, setelah keluar kami semua berdiri menghadapnya, lalu Abu Musa berkata: Wahai Abu Abdirrahmon sesungguhnya aku melihat di dalam masjid suatu kaum mereka duduk dalam suatu halaqah sambil menunggu waktu sholat, pada setiap halaqah ada seseorang yang memandu dzikir dan di tangan-tangan mereka ada kerikil, pemandu dzikir mengatakan: “Bertakbirlah kalian seratus seratus kali, merekapun bertakbir seratus kali. Kemudian pemandu mengatakan: bertahlillah seratus kali merekapun bertahlil seratus kali. Pemandu dzikir berkata lagi: “Bertasbilah kalian seratus kali merekapun bertasbih seratus kali”. Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa kemudian mendatangi halaqah tersebut, Abdullah bin Mas’ud berkata: Apa yang kalian lakukan dengan krikil ini? Mereka berkata: Wahai Abu Abdillah kami menggunakannya untuk menghitung-hitung takbir, tahlil dan tasbih! Ibnu Mas’ud berkata: "Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian, aku menjamin bahwa itu tidak akan menyia-nyiakan kebaikan kalian, celakah kalian wahai umat Muhammad aku tidak menyangka secepat ini kalian akan binasa, mereka itu adalah shohabat-shohabat Nabi kalian صلى الله عليه وسلم)), mereka masih pada hidup dan baju-baju Nabi صلى الله عليه وسلم)) belum sobek dan cangkir-cangkirnya belum pada pecah. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya sesungguhnya kalian telah membuka pintu-pintu kesesatan”. Mereka berkata: Demi Alloh wahai Abu Abdirrohman kami tidak menginginkan dari amalan (dzikir jama’ah) ini melainkan kebaikan. Abdullah bin Mas’ud berkata:
"وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حدثنا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ".
“Berapa banyak orang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatinya, sungguh Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) telah menceritakan kepada kami bahwasanya ada suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Demi Alloh –aku tidak tahu- kayaknya kebanyakan mereka itu adalah dari kalian”. Kemudian Ibnu Mas’ud berpaling. 
            Berkata ‘Amr bin Salamah: Aku melihat mereka yang berhalaqah (dzikir jama’ah) itu menghina kami pada waktu perang Nahrawan dan mereka bersama khowarij (memerangi kaum muslimin)”[2].
            Apa yang dikatakan oleh ‘Amr bin Salamah ini memiliki kesamaan dengan apa yang dikatakan oleh Abu Sa’id Al-Khudri ketika beliau meriwayatkan hadits tentang kisah penghinaan Dzul Khuwaisiroh yang telah lewat penyebutannya. Abu Sa’id berkata:
"وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ".
   “Aku menyaksikan bahwa Ali bin Abi Thalib memerangi mereka dan aku bersamanya”. [HR. Al-Bukhari (no. 3414) dan Muslim (no. 2496), dari Abu Said Al-Khudri]. 
Dengan penjelasan tersebut kami sangat khawatir kalau pak Prof dan jaringan pak Prof menjadi “maling teriak maling”, artinya kami khawatir kalau nanti terorisnya adalah pak Prof atau orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran sesat pak Prof, tidakkah pak Prof mau sadar dan mau kembali kepada jalan yang lurus?.
Dan di zaman ini telah terbukti pula bahwa mereka melakukan penghinaan, celaan dan ejekan kepada Ahlussunnah, Ahlussunnah dituduh sebagai teroris dalam keadaan para penuduh itu ikut bergabung dengan para teroris dalam memerangi Ahlussunnah, sebagaimana ini telah terjadi di negara Yaman tepatnya di propinsi Sho’dah ketika muncul segerombolan teroris-pemberontak Syi’ah-Rofidhoh, mereka membantai kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala, mereka membantai Ahli tauhid dan membiarkan ahli syirik, mereka membantai orang-orang yang menyembah Alloh (تعالى) di masjid dan membiarkan orang-orang yang menyembah selain Alloh di kuburan dan di tempat-tempat yang dikeramatkan, mereka itu adalah Syi’ah-Rofidhoh, orang-orang yang mereka jadikan sebagai musuh utama adalah Ahlussunnah wal Jama’ah, maka para penuduh itu ikut gabung bersama mereka, mereka bersatu padu dalam memerangi markiz Darul Hadits Dammaj, menembaki para penuntut ilmu dan menawan serta membantai kaum muslimin dan terus berupaya untuk melengserkan pemerintah muslim Yaman dari kedudukannya. Yang bangkit membela kaum muslimin dan bekerja sama dengan penguasa dalam memerangi para teroris itu adalah Ahlussunnah wa Jama’ah yang bermarkaz di Darul Hadits Dammaj Sha’doh. Kami sebagai penuntut ilmu di Darul Hadits ikut merasakan imbas dari teror mereka, ditengah-tengah kesibukan belajar, mengkaji, mengajar dan beribadah kami meluangkan waktu untuk berjaga-jaga di perbatasan-perbatasan Darul Hadits Dammaj, mengantisipasi adanya serangan
Dengan perjuangan yang begitu besarnya namun kemudian muncul orang-orang yang suka menghina mengatakan bahwa Ahlussunnah di markaz Darul Hadits Dammaj adalah teroris, mereka memerangi Ahlussunnah dengan lisan-lisan kotor mereka namun mereka membiarkan kaum Rofidhoh membantai kaum muslimin, mereka membiarkan Rofidhoh menyembah dan menuhankan Ali bin Abi Tholib, maka para penuduh itu dikhawatirkan kalau ternyata merekalah yang dimaksud oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم)), apalagi terbukti mereka menyebutkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) sebagai peramal (tukang ramal). Supaya mereka tidak dicurigai sebagai teroris, merekapun melemparkannya label “teroris” kepada Ahlussunnah yang ada di Darul Hadits Dammaj yang sedang berjuang melawan teroris-Rofidhoh, Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Baqaroh" ayat 9 sampai 13:
 {يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ (13)}.
"Mereka hendak menipu Alloh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar". Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Maka mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu".
            Di dalam "Shohih Al-Bukhari" (no. 5698) dari hadits Abu Dzar semoga Alloh meridhoinya bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالفُسُوقِ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالكُفْرِ، إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ».
"Tidaklah seseorang melemparkan (vonis) kepada seseorang dengan (vonis) fasiq dan tidak (pula) melemparkan kepadanya (vonis) kafir melainkan itu kembali kepada dia sendiri (si pemvonis), jika yang divonis itu tidak seperti itu keadaannya".
Al-Hamdulillah apa yang dikatakan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) benar adanya dan telah terbukti, belum lama di Indonesia juga terbukti akan kebenaran perkataan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) tersebut.
Tidak asing lagi di mata masyarakat Indonesia akan keradaan seorang pahlawan nasional yang pemberani, dia adalah seorang imam sekaligus sebagai mujahid yang membela Islam dan menyeru kepada tauhid beliau adalah Al-Imam Bonjol –semoga Alloh merahmatinya-, ketika beliau mendakwahkan tauhid di pulau Sumatra bangkitlah para pelaku syirik dan pecinta bid’ah yang masing-masing mereka mengaku sebagai seorang muslim, mereka bangkit dalam rangka memusuhi Ahlu tauhid-Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka memulai dengan menentang, menantang dan melawan dakwah yang dijalankan oleh Al-Imam Bonjol –semoga Alloh merahmatinya-, yang kemudian terjadilah peperangan antara kaum adat (yang mereka membela kesyirikan dan kebid’ahan) dengan Ahlu tauhid yang dipimpin oleh Al-Imam Bonjol, ketika kaum adat yang suka berbuat syirik dan bid’ah merasa kalah, merekapun mencari jalan keluar untuk bisa mengalahkan pasukan Ahlu tauhid, mereka menempuh cara sebagaimana yang dijalankan oleh nenek moyang mereka dari kaum musyrik Quraisy ketika mereka dibinasakan oleh kaum muslimin pada perang Badr maka mereka mencari bantuan dari kalangan Yahudi dan selainnya. Kalau ahlu syirik dan pecinta bid’ah yang memerangi Al-Imam Bonjol –semoga Alloh merahmatinya- ketika mereka kalah langsung mereka menghubungi penjajah Belanda dan meminta bantuan, dalam peperangan merekapun melakukan politik yang sangat licik, yang pada akhirnya wilayah kekuasaan Al-Imam Bonjol mereka kuasai, ahlu tauhid mereka bantai dan Al-Imam Bonjol –semoga Alloh merahmatinya- mereka tawan, sampai kemudian Al-Imam Bonjol diasingkan ke Ambon sampai beliau wafat di Manado –semoga Alloh merahmati dan membalas jasa-jasanya yang telah membela dan memperjuangkan Islam-. Wallahu A’lam Bishshawab.     
Dari ulasan tersebut dapat dipetik kesimpulan, diantaranya:
·      Ahlu syirik di zaman Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) menuduh Rosululloh صلى الله عليه وسلم))  sebagai pemecah belah (identik dengan; pengacau/teroris) padahal mereka sendiri yang memecah belah agama mereka, dan pantas kalau mereka dikatakan teroris karena dari awal dakwahnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) mereka sudah berani menjalankan makar dan teror. Dan ketika mereka kalah dalam menghadapi pasukan kaum muslimin mereka berserikat dengan Yahudi dan kaum kafir lainnya.
·      Bahwa pelaku syirik dan pelaku bid’ah sewaktu-waktu mereka akan berserikat dengan khowarij atau kelompok sesat lainnya dalam memusuhi Ahlu tauhid.
·      Bahwa Ahlu tauhid akan terus dihina dan dimusuhi oleh ahlu syirik hingga akhir zaman, namun tidak akan memudhoratkan mereka, Rosululloh صلى الله عليه وسلم))  berkata:
«لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ».      
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang mereka tampak di atas kebenaran, tidak akan memudharatkan mereka siapa saja yang menyelisihi mereka”.
 
PENGHINAAN YANG DIMAKSUDKAN UNTUK SALAFI-AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH AKAN TETAPI SECARA TIDAK DISADARI PENGHINAAN ITU MENGENAI ROBB SEMESTA ALAM

            Pada buku "SEBAL" dari sampulnya hingga isi pembahasannya tidak lepas dari penyebutan "Wahhabi", bagi orang yang memahami dan mengerti nama-nama dan sifat-sifat Alloh (تعالى) tentu mereka akan mengatakan bahwa "Wahhab" adalah nama dari nama-nama Alloh (تعالى) dan mereka mengimani nama tersebut.
Mengimani nama-nama dan sifat-sifat Alloh (تعالى) adalah termasuk dari bentuk merealisasikan tauhid asma' wa shifat, Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Hajj" ayat 32:
{ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ}.
"Demikianlah (perintah Alloh), dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Alloh, maka sesungguhnya itu termasuk dari ketaqwaan hati".
            Diantara bentuk pengagunggan syi'ar-syi'ar Alloh adalah memuliakan dan mengagungkan nama-nama-Nya yang indah.
Muslim yang baik tentu tidak akan menjadikan nama dari nama-nama Alloh (تعالى) seperti nama "Wahhab" sebagai bahan permainan, olok-olokkan atau dijadikan sebagai bahan ejekan terhadap hamba-hamba-Nya.
Mengejek dan menghina hamba-hamba Alloh (تعالى) saja sudah diharamkan lalu bagaimana kiranya kalau mengejek mereka dengan menggunakan nama-nama Alloh (تعالى) seperti mengatakan kepada mereka "Wahhabi" padahal Al-Wahhab adalah termasuk dari nama-nama Alloh (تعالى), sebagaimana dalam surat "Shod" (hal. 35) ketika Nabi Sulaiman (عليه السلام) berdoa:
{رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ }.
"Ya Robbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi Karunia)".
                Tentu bagi orang yang masih memiliki iman akan takut dari ucapan yang tidak diridhoi oleh Alloh (تعالى) baik itu berupa hinaan, celaan dan olok-olokkan, ketika dia menyadari akan dirinya yang serba dengan kekurangan dan kelemahan diapun memohon kepada Al-Wahhab (Allah) untuk diberikan kekokohan di atas Islam dan berlindung kepada-Nya dari penyelewengan, penyimpangan dan kesesatan, mereka berdo'a:
{رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ } [آل عمران: 8].
"Ya Robb Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau adalah Al-Wahhab (Yang Maha pemberi karunia)". (Ali Imron: 8). [Tentang permasalahan ini telah kami sebutkan dalam tulisan kami “Membendung Dakwah Tauhid dengan Menggunakan Sarang Laba-laba”].

CIRI-CIRI PENGIKUT ROSULULLOH صلى الله عليه وسلم)) YANG DIJADIKAN POKOK BAHASAN

Berkata Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj MA dalam pengantarnya (hal. 9): “Berjenggot panjang, memakai sorban dan bercelana di atas tumit, itu bagus. Tapi hal-hal yang bersifat simbolik itu tidak cukup untuk dinilai bahwa dia telah mengamalkan agama Islam”.

Tanggapan:
Tidak hanya sekedar bagus tapi memang itulah diantara ciri-ciri pengikut Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) yang bersifat zhahir (nampak), dan penampilan seperti itu termasuk diantara sunnah dari sunnah-sunnah para Nabi dan Rosul, tentang jenggot Alloh (تعالى) sebutkan perkataan nabi Harun kepada kakaknya (nabi Musa) dalam Al-Qur’an surat "Thoha" ayat 94:
{قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي}.
“Harun menjawab: "Hai putra ibuku, janganlah kamu memegang jenggotku dan jangan (pula) memegang kepalaku".
            Di dalam "Shohih Muslim" [no.53-(259)] dari hadits Abdullah bin 'Umar semoga Alloh meridhoi keduanya dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) bahwasanya beliau memerintahkan untuk memangkas kumis dan membiarkan jenggot".
Adapun tentang celana di atas mata kaki maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«مَا أسْفَل مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإزْارِ فَفِي النار».
Apa yang melebihi dari kedua mata kaki dari sarung maka tempatnya di neraka”. (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah). [Hadits ini terdapat pula di dalam kitab “Riyadhus Sholihin” karya Al-Imam An-Nawawi –semoga Alloh merahmatinya-].
            Adapun tentang memakai sorban maka itu termasuk dari sunnah para Nabi dan Rosul, bahkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) memerintahkan orang-orang yang memakai sorban ketika wudhu untuk mengusap di atas sorbannya, sebagaimana hadits dari Tsauban semoga Alloh merahmatinya, beliau berkata:
"بَعَثَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم – سَرِيَّةً، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَمْسَحُوا عَلَى اَلْعَصَائِبِ - يَعْنِي: اَلْعَمَائِمَ -وَالتَّسَاخِينِ- يَعْنِي: اَلْخِفَافَ".
"Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) mengutus pasukan (perang), beliau memerintahkan mereka untuk mengusap al-'ashaaib….". (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishohihkan oleh Al-Hakim). Hadits ini terdapat dalam "Bulughul Marom" karya Al-Hafidz Ibnu Hajar (hal. 22, no hadits 63), beliau mengartikan al-'ashaaib dengan sorban (imamah).
            Bila sunnah para Nabi dan Rosul tersebut dikatakan sebagai simbol dari simbol-simbol Islam maka itu sangatlah benar, yang tujuan dan hikmah dari mengamalkannya adalah supaya terbedakannya antara muslim dan kafir, tidak hanya itu, bahkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) memerintahkan umatnya untuk mengamalkan sunnah-sunnah tersebut beserta sunnah-sunnah selain yang telah disebutkan, perintah tersebut tujuannya sebagai bentuk dari penyelisihan terhadap kaum musyrikin dan orang-orang kafir seluruhnya.
            Diantara perintah-perintah Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) untuk mengamalkan sunnah-sunnahnya adalah:
-       Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) memerintahkan untuk memelihara jenggot sebagai bentuk penyelisihan terhadap orang kafir.
                 Al-Hafidz Ibnu Hajar –semoga Alloh merahmatinya- mengatakan di dalam “Fathul Bari” (Juz 10/hal. 347): Dari Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) menyebutkan orang-orang Majusi: “Bahwasanya mereka membiarkan kumis-kumis dan memotong jenggot-jenggot mereka maka selisihilah”. 
                 Di dalam "Shohih Muslim" [no.53-(259)] dari hadits Abdullah bin 'Umar semoga Alloh meridhoi keduanya dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) bahwasanya beliau memerintahkann untuk memangkas kumis dan membiarkan jenggot".
                 Al-Imam An-Nawawi membuat bab khusus dalam kitabnya “Riyadhus Sholihin” yaitu “Bab An-Nahyi ‘Anittasyabbuhi Bisy-Syaithani Walkuffar” kemudian beliau membawakan hadits dari Abu Huroiroh –semoga Allah meridhainya- bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«إنَّ اليَهُودَ وَالنَّصَارى لاَ يَصْبغُونَ، فَخَالِفُوهُمْ».
 “Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nasroni tidaklah mereka menyemer (rambut yang sudah putih), maka selisihilah”. (Muttafaqun ‘Alaih).
            Al-Imam An-Nawawi berkata dalam “Riyadhus Sholihin” (hal. 380): “Yang diinginkan dengannya adalah menyemer rambut jenggot dan rambut kepala yang sudah putih dengan warna kuning dan merah mudah, adapun menyemer dengan warna hitam maka dilarang”.

-       Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) melarang dari menjadikan kuburan sebagai masjid dan sebaliknya (menjadikan masjid sebagai kuburan), sebagai bentuk penyelisihan terhadap orang-orang kafir.
                 Di dalam “Ash-Shohihain” dari hadits Aisyah  dan Abdullah bin ‘Abbas –semoga Alloh meridhoi mereka-, keduanya berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ».
“Laknat Alloh atas orang-orang Yahudi dan Nasroni, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid”.
                 Oleh karena itu, bila seseorang menginginkan untuk menjadi muslim yang baik dan taat maka hendaklah dia tidak menjadikan masjid kuburan sebagai masjid atau sebaliknya (menjadikan masjid sebagai kuburan), karena perbuatan tersebut termasuk dari perbuatan orang-orang kafir terdahulu, mereka menginginkan untuk membangun masjid di atas gua, sebagai bentuk pengagungan terhadap ashhabul kahfi (penghuni gua) sepeninggalnya mereka, Alloh (تعالى) kisahkan tentang rencana mereka di dalam surat "Al-Kahfi" ayat 21:
{قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا}.
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya Kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya".
                 Di dalam "Shohih Al-Bukhari" (no. 428) dan "Shohih Muslim" [no. 16-(528)] dari Aisyahsemoga Alloh meridhainya-: bahwasanya Ummu Salamah menyebutkan kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) tentang gereja yang dilihat di negri Habasyah dan di dalam gereja tersebut terdapat gambar-gambar, maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».
"Sesungguhnya mereka itu, jika ada pada mereka laki-laki yang sholih kemudian wafat maka mereka membangun di atas kuburnya sebuah masjid dan mereka membuat gambar-gambarnya di dalam masjid tersebut. Mereka itu adalah sejelek-jeleknya makhluk di sisi Alloh pada hari kiamat".
                 Dengan keadaan mereka seperti itu maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) memperingatkan umatnya supaya tidak mengikuti perbuatan mereka. Tidak hanya itu, namun Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) mendoakan laknat dan kebinasaan kepada orang-orang yahudi dan nasroni yang mereka menjadikan kuburan sebagai masjid, Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata: 
«لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ».
“Semoga Alloh melaknat orang-orang yahudi dan nasrani yang mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid”. [HR. Al-Bukhari (no. 428) dan Muslim (no. 1214) –semoga Alloh meridhoinya-].
                 Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ».
“Semoga Alloh membinasakan orang-orang yahudi dan nasrani, yang mereka menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid”. [HR. Al-Bukhari (no. 426) dan Muslim (no. 1213) dari hadits Abu Huroirohsemoga Alloh meridhoinya-].
                 Tidak hanya yahudi dan nasrani yang beliau doakan laknat dan kebinasaan, namun semua umat (termasuk di dalamnya ada umatnya) bila mereka menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid, Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berdoa:
«اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ، اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ».
“Ya Allah! Janganlah Engkau menjadikan kuburanku berhala yang disembah!, Allah sangat murka atas suatu kaum yang mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid”. [Hadits ini shahih dengan adanya penguat-penguat. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dailami dari Abu Huroiroh, Ibnu Sa’d dari Atho’ bin Yasar dan Abdurrazzaq dari Zaid bin Aslam secara mursal].
                 Dengan melihat dalil-dalil yang ada semuanya adalah shohih maka kita simpulkan bahwa larangan untuk menjadikan kuburan sebagai masjid itu termasuk dari mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i –semoga Alloh merahmatinya- karena beliau berkata:
"إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِي".
“Jika telah shohih suatu hadits maka itulah mazhabku”. ["Al-Majmu’ Syarhul Muhazzab" (1/92)].
                 Bila ada yang mengatakan bahwa menjadikan kuburan sebagai masjid atau sebaliknya (menjadikan masjid sebagai kuburan itu ada ulama yang membolehkannya, maka tidak diperkenankan untuk mentaati mereka, karena Al-Imam Asy-Syafi’i –semoga Alloh merahmatinya- berkata:
"فَأمَرُوْا أَنْ أَطِيْعُوْا أُوْلِي الْأَمْرِ الَّذِيْنَ أَمَرَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ لَا طَاعَة مُطْلَقَة".
“Mereka diperintahkan untuk mentaati ulil amri (ulama) yang Rosulullah telah memerintahkan mereka itu bukanlah ketaatan secara mutlaq”. ["Ar-Risalah" (hal. 105)]. Artinya kalau ulil amri memerintahkan kepada sesuatu yang menyelisihi syariat maka tidak boleh ditaati, siapa saja yang tetap bersikeras mengikuti ulil amri dan enggan dari mengikuti dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka dia telah memposisikan ulil amri lebih tinggi kedudukannya daripada Rosululloh صلى الله عليه وسلم)), jika seperti itu perlakuannya maka sudah sangat jelas kalau dia benar-benar menghinakan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)).   

PERPECAHAN YANG TERJADI

                 Di dalam “SEBAL” (hal. 52) penulisnya berkata: “Perpecahan dalam internal salafi jauh lebih “dahsyat”.

                 Tanggapan:
                 Dari perkataan tersebut tampak kalau penulis adalah paling bodohnya manusia, sangat memalukan sudah memakai gelar syaikh tapi ternyata seperti masih “buta huruf”, ataukah memang gelar syaikh itu sebagai bentuk pembuktian kalau dia memang syaikh benaran yaitu syaikh (kakek) yang sudah pikun karena sudah sangat lanjut usia.
            Ketahuilah bahwa dengan adanya perpecahan tersebut, itu sebagai bentuk dari pembuktian akan kebenaran perkataan Rosululloh صلى الله عليه وسلم)),  di dalam "Al-Mustadrok 'ala Ash-Shohihain lil Hakim" (Juz: 1, hal. 348) dan dalam "Ash-Shohih Al-Musnad" (Juz: 1, hal. 514) dengan sanad shohih dari hadits Abdullah bin Umar, beliau berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«لاَ يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا». وَقَالَ : «يَدُ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ».
"Allah tidak akan menyatukan umat ini di atas kesesatan selama-lamanya". Dan beliau berkata: "Tangan Allah bersama al-jama'ah".
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berkata dalam surat Yunus ayat 32:
}فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ{.
"Maka (Dzat yang demikian) itulah Alloh Rabb kalian yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimana kalian dipalingkan (dari kebenaran)”.
            Dari dalil tersebut diketahui bahwa perpecahan pada umat ini akan terus terjadi, dan perpecahan yang terjadi dikalangan salafi Ahlussunnah wal Jama’ah itu karena ada diantara mereka yang terjatuh kepada kemaksiatan atau ada yang condong kepada penyimpangan, sehingga dengan sebab kemaksiatan itu mengakibatkan adanya perpecahan. Jika kita kembali melihat sejarah umat Islam, pada asalnya umat Islam itu berada dalam satu kesatuan di bawah naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah namun kemudian muncul orang-orang dari umat Islam sendiri melakukan kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan maka dengan sebab itu umat Islampun terpecah belah, Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Baqaroh" ayat 213:
}كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً{
Dahulu manusia adalah umat yang satu”.
            Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Yunus" ayat 19:
}وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ.{ 
Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Robbmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu”.
            Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Hud" ayat 118:
}وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ{.    
“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”.
Dan perpecahan yang terjadi dikalangan Ahlussunnah itu adalah ujian dari Alloh (تعالى) supaya manusia dapat mengambil pelajaran dan mampu mengetahui siapa yang sebenarnya berada di atas jalan yang lurus, Alloh (تعالى) berkata dalam surat "Al-Maidah" ayat 48:
}وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ{.   
“Sekiranya Alloh menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Alloh hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian”.
            Dengan perpecahan itu pula dapat manusia mengetahui siapa yang sesat dan siapa yang benar-benar di atas petunjuk, Alloh (تعالى) berkata dalam surat "An-Nahl" ayat 93:
}وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ{
“Dan kalau Alloh menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat (saja), tetapi Alloh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan sesungguhnya kalian akan ditanya tentang apa yang telah kalian kerjakan”.
                 Jika kita kembali melihat sejarah umat Islam, pada asalnya umat Islam itu berada dalam satu kesatuan di bawah naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana telah lewat penyebutannya, namun kemudian muncul orang-orang dari umat Islam sendiri melakukan kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan serta mereka condong kepada kesesatan maka Alloh pun palingkan mereka dan jadikan mereka di atas perselisihan, Alloh (تعالى) berkata:
}فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ{
Maka tatkala mereka berpaling maka Alloh pun paling hati-hati mereka, dan Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq”.
            Segerombolan yang pertama kali muncul dalam memecahkan persatuan kaum muslimin adalah di zaman kholifah Utsman bin Affan –semoga Alloh meridhainya-. Segerombolan tersebut berupaya untuk melengserkan Utsman bin Affan dari kedudukannya, dan perbuatan ini termasuk dari bentuk kemaksiatan karena Alloh (تعالى) dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم)) memerintahkan untuk mentaati penguasa (pemimpin), dengan kemaksiatan tersebut maka tidak heran setelah itu muncul perpecahan yang sangat dahsyat. Setelah Amirul Mukminin Utsman bin Affan –semoga Alloh meridhainya- mereka berhasil lengserkan dari kedudukannya dengan menggunakan cara dan tindakan yang sangat biadab, yang tak berperikemanusiaan yaitu berupa pembantaian sadis terhadap Utsman, mereka bergegas memberikan dukungan penuh kepada Ali bin Abi Thalibsemoga Alloh meridhainya-, mereka membaiatnya, dan mereka sangat riang gembira ketika terjadi perpecahan antara Ali dengan Muawiyyahsemoga Alloh meridhai keduanya-. Ketika Ali berupaya untuk mempersatukan kembali barisan kaum muslimin sebagaimana sebelumnya, dengan cara mengadakan perdamaian antaranya dengan pihak Muawiyyah maka segerombolan yang mendudukng Ali tersebut menampakan diri, mereka bersegera mencabut ketaatan kepada Ali, dari situ kemudian mereka dinamai oleh para shahabat sebagai khowarij.
            Setelah gerombolan khowarij tersebut meresmikan diri sebagai musuh Ali dan musuh para shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم)) mulailah berdatangan personil-personil memberikan dukungan fisik, diantara mereka adalah sekelompok halaqah dzikir jama’ah yang telah kami sebutkan kisahnya dalam tulisan ini, pada zaman tersebut mulailah bertumbuh subur kelompok-kelompok sesat yang masing-masing mendakwahkan kebid’ahan dan kesesatan mereka. Yang bertahan dan tetap komitmen di atas Islam sebagaimana awalnya adalah para shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم)) dan pengikut-pengikut setia mereka, yang mereka itulah dinamakan dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, Rosululloh صلى الله عليه وسلم)) berkata:
«سَتَفْتَرِقُ هذه الأُمَّتِة عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ».
“Akan berpecah pada umat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, semuanya dalam nerka kecuali satu, dia adalah al-jama’ah”. [HR. Ahmad (no. 16937), Abu Ya’la (no. 3938) dan Ibnu Majah (no. 3993) dengan sanad shohih dari hadits Anas bin Malik].
                 Dalam riwayat At-Tirmidzi dengan lafadz:
«مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي».
 “Apa yang saya dan para shohabatku berada di atasnya”. Berkata At-Tirmidzi: "Ini adalah hadits hasan ghorib".
Demikian tanggapan singkat ini, semoga bermanfaat.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
سبحانك اللهم وبحمدك لا اله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Abul ‘Abbas Khidhir Al-Mulki –semoga Alloh mengokohkannya-
Darul Hadits Dammaj-Yaman, Ahad 3 Jumadits Tsaniyah 1432 H.





[1] Himbauan imam sholat tersebut sesuai dengan sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم)), di dalam "Shohih Muslim" [no. 124-(433)] dari Anas bin Malik –semoga Alloh meridhoinya-, beliau berkata: Berkata Rosululloh صلى الله عليه وسلم)):
«سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ، مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ».
"Luruskan shof-shof kalian, sungguh lurusnya shaf  itu termasuk dari sempurnanya sholat".
[2] Apalagi kalau kita saksikan dzikir jama'ah yang dipandu oleh seorang mubtadi’ dhol yang bernama Muhammad Arifin Ilham di dalamnya ada campur baur, ada yang dari IM (Ikhwanul Muslimin), JT (Jama'ah Tabligh), HT (Hitbut Tahrir) dan bahkan ada dari pihak-pihak yang sudah dicurigai sebagai teroris ikut meramaikan dzikir jama'ah tersebut. Pak Arifin tampak sangat berambisi untuk bisa mempersatukan berbagai kelempok sesat, apapun kelompok tersebut yang penting bersamanya. Maka bagaimana kiranya kalau nanti ada dari kelompok tersebut benar-benar terbukti melakukan teror atau mereka memiliki rencana untuk menggulingkan penguasa yang sah, apakah pak Arifin akan ikut bergabung dengan mereka, sebagaimana para pencetus dzikir jama'ah dulu ikut bergabung dengan khowarij?.