Tanya: Kepada Yth Ustadz Abu Ahmad: Ana baru dalam mengenal dakwah salafi ini. Cuma ada orang yang berkata kepada ana, dia berkata: Bahwa salafiyyun ini kurang perhatiannya kepada Alqur’an baik dari sisi hafalannya, kemantapan hafalan (mutqin), serta penguasaan qiraat sab’ah dan tradisi sanad Alqur’an. Orang tersebut berkata bahwa salafiyyun kurang (atau minoritas) dalam penguasaan ilmu-ilmu Alqur’an serta minim dari Qari’, khususnya salafiyyin zaman ini.

Jawab: Para salafiyyun berbeda-beda kemampuan mereka dalam menghafal Al-Qur’an, ada yang sangat mudah menghafal Al-Qur’an dan ada yang sangat susah, hal ini memang nyata kita dapati pada saudara-saudari kita terkhusus para menuntut ilmu, namun bukan ini yang jadi patokan penilaian, karena ini bukan hanya pada umat belakangan yang penuh kelemahan ini, namun di zaman kenabian sudah didapati banyak pula dari para shohabat yang tidak menghafal Al-Qur’an (30 juz), tidak ada satu riwayat pun menyebutkan bahwa para shohabat semua mereka menghafal Al-Qur’an (30 Juz), maka dengan itu ketika Ash-Shiddiq melihat para penghafal Al-Qur’an dari para shohabat sudah berkurang (banyak yang terbunuh), beliapun memutuskan untuk dikumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab yang dinamai dengan mushhaf.
Begitu pula di zaman Amirul Mu’minin Umar Ibnul Khoththob Rodhiyallohu ‘anhu, beliau sangat membutuhkan para penghafal Al-Qur’an, ketika ada permintaan dari Mesir untuk diutuskan seseorang ke sana beliau merasa masih membutuhkan, kemudian beliau mengutuskan Abdurrohman bin Muljam (yang ketika itu dia masih istiqomah), diutus ke Mesir dalam keadaan beliau membutuhkannya untuk mengajarkan Al-Qur’an, ini sebagai dalil kalau di zaman tersebut memang para penghafal Al-Qur’an teranggap sedikit.