
Tanya: Sampai mana batasan seseorang dikatakan duduk dengan hizbi dan dihukumi sama dengan mereka?, karena ana baca tulisan yang judulnya “Musuh Dalam Selimut” yang ditulis oleh Muhammad Ja’far Al-Kampari Pilliong ia bara’ dari gurunya sendiri Syekh Yahya Al-Hajury karena katanya Syekh Yahya duduk dengan Syekh Ali Hasan dan Syekh Abu Hasan Al-Ma’riby, ia bawa fatwa Syekh Muhammad bin Robi’ Al-Madkhaly, ana ingin mendapatkan bantahan dan tanggapan berbobot namun ana tidak dapatkan kecuali fatwa para pembela sang propokator lalim Abu Hazem Magetan yang berbunyi “Muhammad Ja’far itu kesurupan jin di Dammaj, lalu diruqyah sama Ustadzuna Abu Hazem”, setelah itu mereka keluarkan fatwa jarahan kepada antum Al-Limbory yang disebar luaskan oleh orang-orang mereka di Sulawesi, ana mohon kepada antum untuk membantah syubhat Abu Ja’far Al-Kampari ini?. Jaazakumullah khairan kabiran.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian penjelasan dari Robb kalian, dan Kami (Robb kalian) telah menurunkan kepada kalian cahaya yang terang”.

Cengkeh termasuk tanaman yang bersumber dari kepulauan Maluku-Nusantara (Indonesia).

Teladan ahli tauhid adalah Kholilulloh Ibrohim ‘Alaihishsholatu Wassalam, beliau tumbuh di tengah-tengah kaumnya yang mereka beribadah kepada 
Sudah merupakan kebiasaan Ahlissunnah adalah mengkaji dan membahas, ketika sedang melakukan kegiatan ini terkadang mereka tidak mendapatkan faedah melainkan hanya dari kitab-kitab selain Ahlissunnah, ketika mereka mengutipnya maka bagi mereka adalah menyebutkan sumber pengutipannya sebagai amanah ilmiyyah, bersamaan dengan memberikan keterangan dan peringatan tentang pemiliknya.
Di SBB (Seram Bagian Barat) terkhusus di Hual Mual Belakang (Limboro dan sekitarnya) tidak dimakan “ulat sagu” ini, karena banyaknya ikan laut juga ikan sungai serta makanan yang beraneka ragam, namun ketika para penuntut ilmu dari Jawa, yang mereka datang ke Maluku pada tahun 2000, ketika ada dari mereka ke Limboro mereka sangat suka dengan “ulat sagu” tersebut, apalagi kalau mereka buat seperti sate, ditusuk dengan lidi lalu dibakar, namun masyarakat merasa jijik ketika melihat ulat-ulat tersebut, lebih-lebih kalau memakannya.


