Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

SERUAN UNTUK SELURUH PEMELUK AGAMA KRISTEN


SERUAN
UNTUK
SELURUH PEMELUK AGAMA KRISTEN




بسمِ اللهِ الرحمنِ الرحيمِ
"Dengan (menyebut) nama Alloh yang (الرحمن) Maha Pengasih lagi (الرحيم) Maha Penyayang"
Dari Muhammad bin Salim hamba Alloh dan pengikut Rosul-Nya
Buat Seluruh Pemeluk Agama Kristen.

{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ} [آل عمران: 64]
"Wahai orang-orang yang mempunyai Kitab (Suci) kemarilah kalian (untuk berpegang teguh) kepada satu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dengan kalian, untuk kita tidak menyembah melainkan hanya kepada Alloh, dan kita tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kita tidak menjadikan sebagian kita dengan sebagian yang lain sebagai sesembahan-sesembahan selain Alloh, jika kalian berpaling maka saksikanlah oleh kalian bahwasnaya kami adalah orang-orang muslim (yang mempasrahkan diri kami kepada Alloh)". (Surat Ali Imron ayat 64).
{تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ} [الأنعام: 151]
"Kemarilah kalian supaya saya bacakan (kepada kalian) apa-apa yang telah diharomkan oleh Robb kalian atas  kalian yaitu supaya kalian tidak menyekutukan-Nya dengan segala apapun, dan kepada kedua orang tua, kalian berbuat baik, janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan, Kamilah yang memberikan rezki kepada kalian dan kepada mereka (anak-anak kalian), janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak darinya ataupun yang tersembunyi, dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Alloh telah mengharomkan (untuk membunuhnya) kecuali dengan cara yang benar, demikian itu adalah wasiat (perintah Alloh) untuk kalian supaya kalian memahaminya". (Surat Al-An'am ayat 151).
Nabi Isa (عليه السلام) adalah salah satu nabi dari nabi-nabi yang Alloh تَعَالَى)) telah mengutus mereka untuk bani Isroil (anak keturunan Isroil).
Tidaklah Alloh تَعَالَى)) mengutus seorang nabi di muka bumi melainkan untuk menunjuki umatnya ke jalan yang lurus, menyeru mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah mereka dari kejelekan, Alloh تَعَالَى)) berkata:
{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ} [آل عمران: 110]
"Kalian adalah umat yang terbaik, yang dikeluarkan untuk manusia, supaya kalian menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kejelekan dan supaya kalian beriman kepada Alloh, dan kalaulah Ahlul Kitab beriman maka tentu lebih baik bagi mereka, sebagian mereka beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang berbuat kekejian". (Surat Ali Imron ayat 10).
Pada ayat tersebut Alloh تَعَالَى)) menyebutkan tentang Ahlul Kitab yang mereka adalah orang-orang yang pernah Alloh تَعَالَى)) turunkan kepada mereka Kitab Suci, diantara mereka Yahudi dan Nashoro (Kristen), bila mereka beriman maka tentu itu adalah kebaikan bagi mereka.
Diantara keimanan yang harus diketahui oleh setiap orang adalah pengagungan terhadap Alloh تَعَالَى)), yaitu seseorang mengimani bahwasanya Alloh تَعَالَى)) adalah Maha Suci dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, jika Dia (Alloh) menginginkan terhadap sesuatu untuk terjadi maka Dia hanya dengan mengatakan "jadilah" maka sesuatu tersebut langsung akan terjadi, Alloh تَعَالَى)) menjelaskan di dalam "Surat Al-Baqaroh ayat 117":
{وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ} [البقرة: 117]
"Dan jika Dia (Alloh) memutuskan suatu perkara maka sesungguhnya Dia hanya mengatakan "Jadilah maka dia akan jadi".
Jika Dia menginginkan seseorang lahir hanya dengan satu tangan maka akan terjadi, atau lahir dalam keadaan buta maka akan terjadi, jika Dia menginginkan seseorang berubah menjadi kera atau babi maka akan terjadi, begitu pula bila Dia menginginkan seorang wanita melahirkan seorang anak tanpa adanya hubungan kelamin dengan seorang lelaki maka akan terjadi, hal ini sebagaimana telah terjadi kepada Ibu Nabi Isa' Maryam atau dikenal di kalangan Bani Isroil dengan Mariyah, dia adalah wanita yang mulia, suci dan sangat jauh dari kemaksiatan dan perbuatan dosa, dia menjauhi pergaulan bebas bersama para wanita, lebih-lebih pergaulan dengan para lelaki maka tentu dia sangat menjauhinya, dia berdiam diri di kamarnya dan tekun beribadah kepada Alloh تَعَالَى)), Alloh تَعَالَى)) berkata tentangnya:
{وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ} [آل عمران: 37]
"Dia dipelihara oleh Zakariya, setiap kali Zakariya masuk di mihrob (kamar tempat ibadahnya) maka dia dapati rezki (makanan lezat), Zakariya berkata: Wahai Maryam dari mana rezki ini? Dia menjawab: Dia dari sisi Alloh, sesungguhnya Alloh memberi rezki kepada siapa yang dia kehendaki dengan tanpa perhitungan". (Surat Ali Imron ayat 37).
Maka tidakkah kalian wahai para wanita Kristen dan seluruh para wanita untuk menjadi seperti dia yang menjaga kehormatan dirinya?! Yang menjauhi pacaran dan perzinaan?! Yang menjauhi pergaulan bebas?!
Alloh تَعَالَى)) menjadikannya sebagai wanita pilihan dikarenakan dia menjaga kehormatan dan kesucian dirinya, tekun beribadah kepada Alloh تَعَالَى)), Alloh تَعَالَى)) berkata tentangnya: 
{وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ (42) يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ (43) } [آل عمران: 42 - 43].
"Dan ketika Malaikat berkata: Wahai Maryam, sesungguhnya Alloh memilihmu dan mensucikanmu serta mengistimewakanmu atas wanita-wanita alam semesta, wahai Maryam berdirilah kepada Robbmu (untuk sholat) dan sujudlah serta ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'". (Surat Ali Imron ayat 42-43).
Dia mendirikan sholat di mihrob (kamar ibadahnya), dia berdiri, ruku' dan sujud kepada Alloh تَعَالَى)) sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang menegakan sholat.
Dengan ketaatan yang dia lakukan tersebut maka Alloh تَعَالَى)) menginginkan untuk memberinya kabar gembira dengan diciptakannya seorang anak, Alloh تَعَالَى)) berkata tentangnya:
{إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ} [آل عمران: 45]
"Ketika Malaikat berkata: Wahai Maryam, sesungguhnya Alloh memberikan kabar gembira kepadamu dengan suatu kalimat dari-Nya yang namanya adalah 'Isa bin Maryam". (Surat Al-Baqaroh ayat 45). Karena diluar kebiasaan manusia maka Maryam berkata:
{أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا} [مريم: 20]
"Apakah saya akan memiliki seorang anak sedangkan aku tidak disentuh (dijima'i) oleh seorangpun dan bukan pula seorang pelacur?!" (Surat Maryam ayat 20). Maka malaikat menjawab:
{قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ } [مريم: 21]
"Robbmu (Alloh) berkata: Itu adalah (perkara) mudah". (Surat Maryam ayat 21).
Alloh تَعَالَى)) menjadikan Isa dengan tanpa bapak adalah perkara yang sangat mudah dan gampang bagi-Nya, Alloh تَعَالَى)) berkata:
{إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ} [آل عمران: 59]
"Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Alloh seperti permisalan Adam, yang Dia menciptakannya dari tanah, kemudian berkata kepadanya "jadilah maka diapun jadi"". (Surat Ali Imron ayat 59).   
Maka merupakan suatu kesyirikan, kekafiran dan dosa yang paling terbesar bila Nabi Adam dan Nabi Isa dikatakan sebagai anak Alloh تَعَالَى)), karena Alloh تَعَالَى)) telah berkata:
{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)} [الإخلاص: 1 - 4]
"Katakanlah: Dia Alloh adalah (أَحَدٌ)Maha  Satu, Alloh adalah (الصَّمَدُ) yang bergantung segala sesuatu (kepada-Nya), Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan tidak ada satupun yang setara dengan (Nya)". (Surat Al-Ikhlash ayat 1-4).
Dari penjelasan tersebut maka kami menyeru kepada para pemuda-pemudi dan seluruh para pemeluk agama Kristen untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan kami berikut ini:

Pertanyaan pertama:
Apakah pantas wanita yang berzina dengan lelaki yang pemabuk dan pelaku dosa disamakan dengan Maryam?
Jika kalian katakan "pantas" maka tentu kalian telah mencoreng nama baik dan telah menyakiti Maryam semoga Alloh meridhoinya yang kalian mengakui sendiri bahwa dia sebagai ibu kalian, jika seperti ini keadaan kalian maka kalian telah berbuat dosa yang paling terbesar dan kalian termasuk paling "perlente" (pendusta)nya manusia, Alloh تَعَالَى)) berkata:
{وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا} [الأحزاب: 58]
"Dan orang-orang yang mereka menyakiti orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan orang-orang beriman dari kalangan wanita dengan sesuatu yang mereka tidak melakukannya maka sungguh mereka (yang menyakiti) itu telah memikul kedustaan dan dosa yang nyata". (Surat Al-Ahzab ayat 58).
Alloh تَعَالَى)) berkata:
{وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157)} [النساء: 156، 157]
"Dan kekafiran mereka dan perkataan mereka atas Maryam adalah kedustaan yang besar, dan perkataan mereka bahwasanya kami telah membunuh Al-Masih Isa bin Maryam utusannya Alloh, dan tidaklah mereka membunuhnya, dan tidak pula mereka menyalibnya akan tetapi diserupakan bagi mereka (seseorang seperti Al-Masih Isa bin Maryam), dan sesungguhnya mereka berselisih tentangnya karena mereka meragukannya, tidak ada pada mereka dari pengetahuan melainkan hanya mengikuti sangkaan belaka, dan mereka tidak membunuhnya dengan keadaan yakin". (Surat An-Nisa' ayat 156-157).

Pertanyaan Kedua:  
Wanita yang berzina dengan lelaki, kemudian melahirkan seorang anak, apakah pantas anaknya tersebut dikatakan sebagai anak Alloh تَعَالَى))?! Ataukah layak anak hasil perzinaan tersebut dikatakan sebagai anak yang semisal dengan Nabi Isa'?!
Jika kalian katakan "pantas" dan "layak" maka tentu kalian telah terjatuh ke dalam kesesatan yang paling sesat, karena kalian telah buta, sehingga tidak bisa membedakan antara cahaya yang terang dengan kegelapan malam?! Alloh تَعَالَى)) berkata:
{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75)} [المائدة: 72 - 75].
"Sungguh telah kafir orang-orang yang mereka mengatakan bahwasanya Alloh adalah Al-Masih (Isa) bin Maryam, sedangkan Al-Masih (Isa) berkata: "Wahai anak keturunan Isroil beribadahlah kalian kepada Alloh, yang Dia adalah Robbku dan Robb kalian, sesungguhnya barang siapa yang menyekutukan Alloh maka sungguh Alloh telah mengharomkan baginya Jannah (Surga) dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidaklah bagi orang-orang yang zholim ada penolong. Sungguh telah kafir orang-orang yang mereka mengatakan bahwasanya Alloh adalah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Sesembahan Yang Satu, dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan maka sungguh mereka orang-orang kafir diantara mereka itu akan ditimpa siksaan yang pedih, maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Alloh dan mereka memohon ampun kepada-Nya, dan Alloh adalah (غَفُورٌ) Maha Pengampun lagi (رَحِيمٌ) Maha Penyayang. Tidaklah Al-Masih (Isa) bin Maryam itu melainkan adalah seorang rosul (utusan Alloh), sungguh telah lewat para rosul sebelumnya, dan Ibunya adalah Shiddiqah (orang yang jujur lagi membenarkan Robbnya), yang dahulu keduanya juga memakan makanan, lihatlah bagaiamana Kami menjelaskan bagi mereka ayat-ayat (Kami) kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari kebenaran ayat-ayat Kami)". (Surat Al-Maidah ayat 72-75).


YANG PENTING HALAL
DAN
DIRIDHOI ALLOH
 (تبارك وتعالى)

بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Wahai Abu Ahmad saddakalloh!
Saya ada pertanyaan, kita biasa sholat di masjid masyarakat, ada diantara mereka yang senang dengan kita, dia adalah pemilik usaha besar, dan para pekerjanya banyak orang awam, dia menawarkan pekerjaan sopir kepada seorang saudara, apakah saudara tersebut boleh menerima tawarannya, karena saudara tersebut keahliannya sopir, sementara mencoba untuk dagang seperinya kurang bakat, tolong kami diberi ilmunya!
جزاك الله خيرًا.

Abu Ahmad Muhammad Al-Limbory menjawab:

وعَلَيْكُم السَّلاَم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، وبعد:
Boleh baginya untuk menerima penawaran tersebut, dan dia boleh menjadi sopir dengan syarat dia tidak membawa di dalam mobil tersebut seorang wanita yang tidak ada mahromnya.
Di dalam "Ash-Shohihain" dari hadits Sufyan bin 'Uyainah, dari 'Amr bin Dinar, dari Abu Ma'bad, beliau berkata: Aku mendengar Ibnu 'Abbas berkata: Aku mendengar Nabi (صلى الله عليه وسلم) berkata:
«لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ».
"Tidak boleh seorang lelaki berdua-duan dengan seorang wanita, kecuali wanita tersebut bersama mahromnya".
Adapun kalau ada mahromnya maka boleh baginya membawanya ketujuan mereka.
Adapun sopir yang kamu sebutkan itu maka tentu itu adalah sopir yang tugasnya untuk memuat barang-barang yang berkaitan dengan usaha tersebut, namun perlu diperhatikan kalau seandainya ada darinya barang-barang harom berupa ganja, narkotika, dan minuman keras atau yang lainnya dari barang-barang harom, maka tidak boleh bagimu untuk memuat dan membawanya karena itu adalah kemungkaran, Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) berkata:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ».
"Barang siapa melihat suatu kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, jika dia tidak sanggup maka dengan lisannya, jika dia (juga) tidak sanggup maka dengan hatinya, dan demikian itu adalah selemah-lemahnya iman". Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Sa'id Al-Khudry.
Jika kamu tetap memuat atau membawa barang-barang harom tersebut maka otomatis kamu telah terjatuh kedalam dosa yaitu melakukan kerja sama dalam perbuatan maksiat, Alloh (عز وجل) berkata:
{وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [المائدة : 2]
   "Dan janganlah kalian tolong menolong di atas dosa dan permusuhan dan bertaqwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh adalah sangat pedih siksaan-(Nya)". (Al-Maidah: 2). 

Nasehat:
Ketika kamu sudah mengetahui bahwa pemilik usaha tersebut adalah orang yang baik dan senang denganmu maka hendaklah kamu berupaya untuk menjadikan rasa senangnya tersebut karena Alloh (تعالى), diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqy dari hadits Abu Huroiroh, dari Nabi (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bahwasanya beliau berkata:
"مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ فَلْيُحِبَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا يُحِبُّ إِلَّا لِلَّهِ"
"Barang siapa yang senang untuk mendapatkan lezatnya iman maka hendaknya dia mencintai karena Alloh (عَزَّ وَجَلَّ), dia tidak mencintai melainkan karena Alloh". Dan ini adalah lafadznya Al-Imam Al-Baihaqy.
Kamu tampakan kepadanya akhlak yang mulia lagi terpuji, yang telah diajarkan oleh Nabi (صلى الله عليه وسلم), sehingga dengan itu dia menyenangimu karena Alloh (عَزَّ وَجَلَّ).
Begitu pula ketika kamu sudah tahu bahwa para pekerjanya adalah orang-orang awam maka hendaknya kamu menjaga citra dan nama baik agama yang kamu telah berada di atasnya, kamu hendaknya menampakan akhlak yang terpuji yang Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) telah mencontohkannya.
Di dalam "Ash-Shohih" dari hadits Abdulloh bin 'Amr semoga Alloh meridhoi keduanya, beliau berkata:
لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا متفحشا وكان يقول: (إن من خياركم أحسنكم أخلاقا)
"Tidaklah Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) mengucapkan kata-kata jorok dan tidak pula melakukan kejorokan (akhlak), dan beliau dahulu berkata: "Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling bagus akhlak(nya)".
Semoga dengan itu para pekerja yang masih awam tersebut tertarik dan ingin untuk menjadi orang yang baik seperti Nabi kita (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), Alloh (تعالى) berkata:
{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ} [الأحزاب : 21]
"Sungguh telah ada pada diri Rosululloh teladan yang bagus bagi orang yang dia mengharap  (perjumpaan ) dengan Alloh dan hari akhir". (Al-Ahzab: 21).
Akan tetapi perlu kamu perhatikan bahwa kamu menampakan akhlak terpuji itu karena Alloh bukan karena mengharap supaya mendapatkan perhatian manusia atau supaya mendapatkan kawan atau pengikut, namun "tanamkanlah akhlak Nabi (صلى الله عليه وسلم) di dalam hatimu, tumbuhkanlah dengan langkah dan sikapmu, dan suburkanlah dengan ketergantungan kepada Robbmu", perbanyaklah memohon kepada Alloh (تعالى) agar kamu diberi ketetapan hati di atas kebaikan dan ketaatan, serta supaya kamu dihiasi dengan akhlak yang mulia lagi terpuji, perbanyaklah membaca doa:
اَللَّهُمَّ كَمَا أَحْسَنْتَ خَلْقِي, فَحَسِّنْ خُلُقِي   
"Ya Alloh sebagaimana Engkau telah memperbagus postur (bentuk tubuh)ku maka perbaguslah akhlakku!". Doa ini adalah shohih, diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari hadits Aisyah.
Demikian dari kami.
نسأل الله أن يثبتنا وإياكم وإخواننا المؤمنين على هذا الدين، وأن لا يزيغ قلوبنا بعد إذ هدانا.
Kami memohon kepada Alloh untuk mengokohkan kami dan kalian serta saudara-saudara kita orang-orang yang beriman di atas agama ini, dan semoga Dia tidak menyelewengkan hati-hati kita setelah Dia memberikan hidayah kepada kita!.
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Wahai Robb kamu berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan selamatkanlah kami dari azab neraka".
والحمد لله رب العالمين.



HUKUM MEMAKAN BANGKAI IKAN YANG DIA BERADA DI DALAM PERUT AYAM JANTAN


حكم أكل ميتة السمك
الذي في بطن الديك
HUKUM MEMAKAN BANGKAI IKAN
YANG DIA BERADA DI DALAM PERUT AYAM JANTAN

سائلٌ يقولُ:
بسم الله...، أريد أن أذبح الديك، فلما ذبحتُه وقطعتُه فوجدتُ في بطنه ميتة السمك الصغير، ما حكم هذا السمك الصغير؟ هل يجوز أكله؟
Orang yang bertanya berkata:
Dengan nama Alloh…, aku ingin menyembelih ayam jantan, tatkala saya sudah menyembelihnya dan memotongnya maka saya mendapati di dalam perutnya ada bangkai ikan kecil, apa hukum ikan kecil tersebut? Apakah boleh memakannya?
قال أبو أحمد محمد بن سليم الأندونيسي عفا الله عنه:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Andunisy semoga Alloh memaafkannya berkata:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد:
Dengan nama Alloh yang (الرحمن) Maha Penyayang lagi (الرحيم) Maha Pengasih
Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam untuk Rosululloh, kemudian sesudah itu: 
السمك الصغير الذي ذكرتَ ليس بنجسٍ، لأنه من ميتات البحر، ويجوز أكله، وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (البحر الطهور ماؤه الحل ميتته).
Ikan kecil yang kamu sebutkan tidaklah najis, karena sesungguhnya dia termasuk dari bangkai-bangkai laut, dan boleh memakannya, dan sungguh Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) telah berkata: "Laut adalah suci airnya, dan halal bangkainya".
الحديث صحيح، أخرجه الجماعة منهم الإمام أحمد، والشافعي، ومالك، وابن ماجه، والنسائي، وأبو داود، والترمذي من عدة الصحابة منهم أبو هريرة، وأبو بكر الصديق، وعلي بن أبي طالب، وأنس بن مالك، وجابر بن عبد الله رضي الله عنهم.
Hadits ini adalah shohih, diriwayatkan oleh sekelompok (ahli hadits) diantara mereka adalah Al-Imam Ahmad, Asy-Syafi'y, Malik, Ibnu Majah, An-Nasa'y, Abu Dawud, dan At-Tirmidzy dari sekelompok para shahabat, diantara mereka adalah Abu Huroiroh, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Tholib, Anas bin Malik dan Jabir bin Abdillah semoga Alloh meridhoi mereka semuanya.
ولكن إذا وجدتَه في بطن الديك الذي ذبحته وفيه اختلاط بين السمك والأقذار فلا بد أن تغسله بماء طهور، ثم تمسه بالنار أو تطبخه. والله أعلم.
Akan tetapi, jika kamu mendapatinya di dalam perut ayam jantan yang telah kamu sembelih dan ada padanya campur baur antara ikan tersebut dengan kotoran-kotoran maka mengharuskan bagimu untuk mencucinya dengan air bersih, kemudian kamu membakarnya dengan api atau memasaknya.
والله أعلم.


حكم أكل السمك من ماء البيارة
HUKUM MEMAKAN IKAN
DARI AIR TEMPAT PEMBUANGAN KOTORAN

سائلٌ يقولُ:
بسم الله...، ما حكم أكل السمك من ماء البيارة، كَسمك لِيْلِي، وَبِيْلُوْت، وَمُوْرِيَا؟
Orang yang bertanya berkata:
Dengan nama Alloh…, Apa hukum memakan ikan yang dia dari air tempat pembuangan kotoran, seperti ikan lele, belut dan morea?
قال أبو أحمد محمد بن سليم الأندونيسي عفا الله عنه:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد:
Dengan nama Alloh yang (الرحمن) Maha Penyayang lagi (الرحيم) Maha Pengasih
Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam untuk Rosululloh, kemudian sesudah itu:
لا يؤكل إلا بعد نقله من ماء البيارة إلى ماء الطهور، حتى يعلم أنه قد طهر، لأن ماء البيارة قد وقع عليه نجاسات آدميين، قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: "إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ, إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ, وَلَوْنِهِ". أو قال: "الماءُ طَاهِرٌ إِلَّا إِنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ, أَوْ طَعْمُهُ, أَوْ لَوْنُهُ; بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ".
Tidak dimakan kecuali setelah dipindahkan dari air tempat pembuangan kotoran tersebut ke air yang bersih, sampai diketahui bahwasanya dia telah suci, karena sesungguhnya air tempat pembuangan kotoran tersebut telah jatuh padanya najis-najis anak Adam (manusia), Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) berkata: "Sesungguhnya air tidak dinajisi sesuatu, kecuali apa yang mengunggulinya terhadap baunya, rasanya dan warnanya", atau beliau berkata: "air adalah suci, kecuali jika berubah baunya, atau rasanya atau warnanya; dengan najis yang tercampur padanya".   
الحديث ضعيف، لكن أجمع أهل العلم على أنه لا فرق بين تغير الماء بأحد هذه الأوصاف الثلاثة سواء من ريح أو طعم أو لون، وأن ذلك علامة على نجاسة الماء إذا كان قد تغير بنجاسة.
Hadits ini adalah dhoif  (lemah), akan tetapi orang-orang yang berilmu bersepakat atas bahwasanya tidak ada perbedaan antara berubahnya air dengan salah satu dari tiga sifat tersebut, sama saja baunya, rasanya atau warnanya, dan bahwasanya itu adalah tanda tentang nasjisnya air tersebut, jika dia telah berubah karena sebab najis.
والله أعلم.


حكم أكل ميتة السمك
الذي في بطن الديك
سائلٌ يقولُ:
بسم الله...، أريد أن أذبح الديك، فلما ذبحتُه وقطعتُه فوجدتُ في بطنه ميتة السمك الصغير، ما حكم هذا السمك الصغير؟ هل يجوز أكله؟
قال أبو أحمد محمد بن سليم الأندونيسي عفا الله عنه:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد:
السمك الصغير الذي ذكرتَ ليس بنجسٍ، لأنه من ميتات البحر، ويجوز أكله، وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (البحر الطهور ماؤه الحل ميتته).
الحديث صحيح، أخرجه الجماعة منهم الإمام أحمد، والشافعي، ومالك، وابن ماجه، والنسائي، وأبو داود، والترمذي من عدة الصحابة منهم أبو هريرة، وأبو بكر الصديق، وعلي بن أبي طالب، وأنس بن مالك، وجابر بن عبد الله رضي الله عنهم.
 ولكن إذا وجدته في بطن الديك الذي ذبحته وفيه اختلاط بين السمك والأقذار فلا بد أن تغسله بماء طهور، ثم تمسه بالنار أو تطبخه. والله أعلم.


حكم أكل السمك من ماء البيارة
سائلٌ يقولُ:
بسم الله...، ما حكم أكل السمك من ماء البيارة، كَسمك لِيْلِي، وَبِيْلُوْت، وَمُوْرِيَا؟
قال أبو أحمد محمد بن سليم الأندونيسي عفا الله عنه:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد:
لا يؤكل إلا بعد نقله من ماء البيارة إلى ماء الطهور حتى يعلم أنه قد طهر، لأن ماء البيارة قد وقع عليه نجاسات آدميين، قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: "إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ, إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ, وَلَوْنِهِ". أو قال: اَلْمَاءُ طَاهِرٌ إِلَّا إِنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ, أَوْ طَعْمُهُ, أَوْ لَوْنُهُ; بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ.
الحديث ضعيف، ولكن أجمع أهل العلم على أنه لا فرق بين تغير الماء بأحد هذه الأوصاف الثلاثة سواء من ريح أو طعم أو لون، وأن ذلك علامة على نجاسة الماء إذا كان قد تغير بنجاسة.
والله أعلم.



JALAN PINTAS
MENUJU JANNAH



Pertanyaan:
بسم الله الرحمن الرحيم
Kami melihat banyak dari pada akhwat berbondong-bondong ke pondok pesantren, sampai sebagian mereka pindah-pindah pondok, mereka menyangka bahwa perbuatan mereka itu adalah jalan pintas untuk masuk Jannah (surga), mereka berdalil:
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»
“Barang siapa menempuh suatu jalan, yang dia inginkan padanya suatu ilmu, maka Alloh memudahkan baginya suatu jalan menuju Jannah (surga)”. Apa pendapatmu tentang masalah ini? –semoga Alloh menjagamu, memberkahimu, dan membalasmu dengan kebaikan yang banyak-.

Jawaban:
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، أما بعد:
Tidak dikenal di zaman salafush sholih (para pendahulu yang sholih) adanya para wanita yang melakukan rihlah (menempuh perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu, bahkan tidak ada nukilan dari hadits-hadits shohih atau pun hadits yang dhoif yang menjelaskan tentang adanya para wanita yang rihlah untuk menuntut ilmu. Begitu pula tidak didapati ada dari para ulama salafush sholih yang membuka pondok pesantren khusus wanita.
Kalau tidak ada di zaman salafush sholih dan tidak dilakukan oleh para salafush sholih lalu dari mana sunnah sayyiah (metode yang jelek) tersebut mereka wariskan?
Cukuplah bagi mereka yang melakukan perbuatan tersebut mendapatkan dosa dan kejelekan, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«ومن سن في الإسلام سنة سيئة، كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده، من غير أن ينقص من أوزارهم شيء»
“Barang siapa membuat sunnah (metode) dalam Islam dengan sunnah sayyiah (metode yang jelek) maka baginya dosanya dan dosa yang mengamalkannya setelahnya, dengan tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikit pun”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari Jarir bin Abdillah.
Para wanita yang menginginkan untuk menempuh jalan pintas menuju Jannah maka bagi mereka cukup melaksanakan rukun-rukun Islam yang lima, mentaati suami mereka (bagi yang sudah menikah dan bagi yang belum menikah mentaati orang tua mereka), menjaga lisan dan kehormatan mereka maka itulah jalan pintas menuju Jannah, dari Abu Huroiroh beliau berkata:
أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الجَنَّةَ، قَالَ: «تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ المَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ» قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا، فَلَمَّا وَلَّى، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا»
“Bahwasanya seorang Arob pedalaman datang kepada Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), lalu berkata: “Tunjukan kepadaku atas suatu amalan, jika aku mengamalkannya maka aku akan masuk Jannah, maka beliau berkata: “Kamu beribadah kepada Alloh, dan tidak menyekutukan-Nya, kamu menegakan sholat, menunaikan zakat yang wajib, dan kamu berpuasa Romadhon”. Beliau berkata: “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah atas (semua) ini”, maka tatkala beliau berlalu (pergi), Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: “Barang siapa yang senang untuk melihat kepada seseorang dari penduduk Jannah maka dia hendaknya melihat kepada (orang) ini”.
            Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhory dan Muslim di dalam “Ash-Shohihain” dari Abu Huroiroh –semoga Alloh meridhoinya-, dalam suatu riwayat dari hadits Tholhah bin ‘Ubaidillah dengan lafadz:
وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا، وَلاَ أَنْقُصُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ»
“Demi Alloh aku tidak akan menambah atas (semua) ini dan tidak (pula) aku akan mengurangi, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata: “Telah beruntung jika dia jujur”.

Pertanyaan:
Para santriwati bila mereka dinasehati seperti nasehat tersebut mereka ngeyel dan langsung mengadu ke ustadz-ustadz di pondok pesantren mereka, ustadz-ustadz mereka juga lebih ngeyel dan ngamuk-ngamuk, mereka semua berkata: “Dari mana msu tahu rukun-rukun Islam kalau tidak ke pondok pesantren ini?!”.

Jawaban:
Asiyah istri Fir’aun, Maryam bintu ‘Imron, Asma’ bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq dan Mu’adzah Al-‘Adawiyyah serta wanita salafush sholihsemoga Alloh meridhoi mereka semuanya- tidaklah mereka datang ke pondok pesantren kalian wahai para ustadz! akan tetapi Alloh (تعالى) membukakan bagi mereka jalan pintas menuju Jannah, Alloh (تعالى) berkata tentang Asiyah dan Maryam:
{وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (11) وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ (12)} [التحريم: 11، 12]
“Dan Alloh membuat isteri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika dia berkata: "Ya Robbku, bangunkanlah untukku sebuah istana di sisi-Mu di dalam Jannah, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zholim. Dan Maryam bintu Imron yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rohimnya sebagian dari ruh Kami, dan dia membenarkan kalimat Robbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat”. (At-Tahrim: 11-12).
Dan Alloh (تعالى) berkata:
{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6)} [المؤمنون: 1 - 6]
Sesungguh telah beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak terceIa”. (Al-Mu’minun: 1-6).
Tidak diragukan lagi bahwa para wanita salafush sholih mereka sangat menjaga sholat-sholat mereka, mereka termasuk orang-orang yang paling menjauhkan diri dari perkara yang sia-sia, mereka menunaikan zakat, mereka menjaga kehormatan, maka pantaskan kalau kemudian mereka hanya dijadikan sebagai kenangan-kenangan sejarah?! Adapun ustadzah (guru wanita) atau santriwati dijadikan sebagai idola?!.
Betapa banyak santriwati atau mantan santriwati karena merasa diri lulusan pondok pesantren, merasa diri memiliki ilmu, bisa hafal ini dan itu, bisa ini dan itu, mereka pun kemudian sombong; yang belum menikah meremehkan dan melecehkan orang sholih yang melamarnya, dengan alasan dia lebih tinggi ilmunya atau alasan minimalnya karena selevel, maunya lulusan dari Saudi-Yaman, yang pada akhirnya terjadilah apa yang terjadi –aku berlindung kepada Alloh dari segala kejelekan dan fitnah-, begitu pula yang sudah menikah meremehkan dan melecehkan suaminya, maunya dia yang mengatur suaminya dan mengkufuri kebaikan suaminya, Al-Imam Al-Bukhory –semoga Alloh merahmatinya- berkata di dalam “Ash-Shohih”: “Telah menceritakan kepada kami Abdulloh bin Maslamah, dari Malik, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atho bin Yasar, dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata: Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ» قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: «يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ»
“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penduduknya adalah para wanita, yang mereka mengkufuri (mengingkari)”, beliau berkata: “Mereka mengkufuri suami, mereka mengkufuri kebaikan, walaupun kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu kemudian dia melihat padamu ada sesuatu (yang dia benci) maka dia berkata: Aku tidak melihat padamu kebaikan sedikit pun”.
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim di dalam “Shohih”nya.
    Sudah sangat banyak penjelasan kami tentang permasalahan ini, maka tidak perlu lagi bagi kami untuk membuat penjelasan dan mengangkat pembahasan yang panjang, cukup perkataan Alloh (تعالى) sebagai pengingat:
{لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ} [الأنفال: 42]
“Supaya binasa orang yang binasa (karena sebab) dari penjelasan dan hidup orang yang hidup dari penjelasan”. (Al-Anfal: 42).
(Diterjemahkan dari “I’anatus Sail Liabi Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory”).