Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkannya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).

NASEHAT YANG BERMANFAAT


NASEHAT
YANG BERMANFAAT

Ditulis oleh:
Abu ‘Iyadh Sa’id bin Muhammad
Al-Limboriy As-Seramiy
Semoga Alloh menjaganya

Dibaca dan diberi catatan kaki oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim
Al-Limboriy
Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan saudara-saudarinya




NASEHAT
YANG BERMANFAAT

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ[1]:
Saya sangat bersyukur kepada saudara kami Abul ‘Abbas Harmin Rohimahulloh (semoga Alloh merahmatinya), yang beliau telah menyemangati kami dengan memperkenalkan kami kepada da’wah Ahlissunnah wal Jama’ah ketika kami di kampung (Limboro)[2], yang mana beliau paling bersemangat dan sangat perhatian kepada orang-orang yang bersamanya, apalagi dengan orang-orang yang telah mengikuti da’wahnya maka beliau sangat mencintai dan perhatian untuk memberikan dorongan agar mempelajari dan mendalami ilmu agama, sehingga dengan sebab itu kami bisa berada di atas da’wah Ahlissunnah wal Jama’ah, tidak lain karena sebab beliaulah yang menyemangati kami untuk senantiasa komitmen di atas al-haq (kebenaran) dan tidak takut terhadap celaan para pencela dalam membela agama ini, Alloh (تعالى) berkata:
{وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء/83]
“Dan kalaulah bukan karena pengutamaannya Alloh atas kalian dan rohmat(Nya), maka sungguh kalian akan mengikuti syaithon melainkan hanya sedikit (orang yang tidak megikutinya)”. (An-Nisa’: 83).
Betapa banyak beliau (Abul ‘Abbas Harmin) Rohimahulloh mendapatkan ujian dari masyarakat di Limboro, baik berupa celaan dan hinaan yang bertubi-tubi namun beliau tetap sabar dan kokoh dalam menghadapinya dan tidak pernah goncang bahkan beliau semakin bertambah yakin kalau beliau di atas al-haq, Alloh (تعالى) berkata::
{وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ} [الأعراف/87]
“Jika ada segolongan dari kalian yang beriman apa yang aku telah diutus dengannya dan ada pula segolongan (lain) yang tidak beriman, maka bersabarlah sehingga Alloh menetapkan hukumnya di antara kita, dan Dialah adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (Al-A’rof: 87).
Dan Alloh (تعالى) berkata:
{وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا} [الأنعام/34]
“Dan sungguh telah didustakan para Rosul dari sebelummu, lalu mereka bersabar atas apa-apa yang mereka telah dustakan, dan mereka diganggu sampai datang kepada mereka pertolongan Kami”. (Al-An’am: 34).
Dan Alloh (تعالى) berkata:
{وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ} [الرعد/22]
“Dan orang-orang yang bersabar karena mencari wajah Robb mereka dan mereka menegakan sholat, menginfaqkan terhadap apa-apa yang telah Kami rezqikan kepada mereka baik dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, maka mereka itulah orang-orang yang mendapatkan tempat kesudahan yang baik”. (Ar-Ro’du: 22).
Abul ‘Abbas (Harmin) Rohimahulloh pernah berkata kepadaku:“Pondoklah di pondoknya Ahlussunnah karena disitulah semua kebaikan berada dan janganlah mengikuti perkataan orang-orang untuk masuk di sekolah umum, karena di dalam sekolah umum sangatlah banyak terdapat penyelisihan terhadap syari’at Islam[3].
Apa yang dikatakan oleh Abul ‘Abbas Rohimahulloh itu sangatlah benar, insya Alloh saya akan sebutkan beberapa penyelisihan syar’iat di dalam sekolah-sekolah umum, diantaranya:
Pertama: Ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita).
Kedua: Banyaknya perzinaan.
Ketiga: Rusaknya akhlak dan moral dengan memasukan kepercayaan ilmu filsafat.
Keempat: Banyaknya perkataan yang sia-sia.
Kelima: Banyak terbuang waktu.
Keenam: Tujuan belajar hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia semata.


DALIL-DALIL TENTANG LARANGAN-LARANG TERSEBUT

Dalil tentang larangan ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) adalah perkataan Alloh (تعالى):
{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ} [الأحزاب/53]
“Dan jika kalian meminta sesuatu kebutuhan kepada mereka (istri-istri Nabi) maka mintalah dari balik hijab (tirai)” (Al-Ahzab: 53)[4].
Dalil tentang larangan zina adalah perkataan Alloh (تعالى):
{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} [الإسراء/32]
“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya dia itu perbuatan keji dan paling jeleknya jalan”. (Al-Isro’: 32) [5].

Dalil tentang larangan dari perkataan sia-sia adalah perkataan Alloh (تعالى):
{وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا} [الجن/4]
“Dan bahwasanya orang yang dunggu dahulu berkata tentang Alloh dengan melampui batas”. (Al-Jin: 4).
Alloh (تعالى) berkata:
{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ} [لقمان/6]
“Dan diantara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh dengan tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan, mereka itu memperoleh azab yang menghinakan”. (Luqman: 6).
Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) berkata:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ».
“Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau dia diam”[6].
Dan Alloh (تعالى) berkata:
{وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ} [القصص: 55]
“Dan jika mereka mendengar olok-olokan maka mereka berpaling darinya, dan mereka mengatakan: Bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian”. (Al-Ghoshosh: 55).
Dalil tentang larangan dari belajar karena dengan tujuan dunia adalah perkataan Alloh (تعالى):
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [هود: 15، 16]
“Barang siapa menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka diberikan kepada merela balasan amalan-amalan mereka di dunia, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan, itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (Huud: 15-16).  
Dan Alloh (تعالى) berkata:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا} [الإسراء: 18، 19]
“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang menginginkannya dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan dia adalah beriman maka mereka itulah adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik”. (Al-Isro’: 18-19)[7].
Tentang rusaknya akhlak dan moral itu disebabkan terpengaruh dengan akhlak dan moral orang-orang kafir yang kemudian dicontoh, maka larangannya masuk dalam perkataan Nabi (صلى الله عليه وسلم):
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ».
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abdulloh bin Umar.
Adapun tentang filsafat maka telah berkata Syaikh kami Yahya bin Ali Al-Hajuriy semoga Alloh menjaganya: “Filsafat bukan dari agama”.
Semoga dengan nasehat saudara kami (Abul Abbas Harmin Rohimahulloh) menjadi amalan kebaikan di sisi Alloh dan menjadi bekal untuknya di kemudian hari, semoga Alloh meninggikan derajatnya dan memberikan kedudukan di sisi-Nya sebagai orang yang bertauhid.

Ditulis oleh:
Abu ‘Iyadh Sa’id bin Muhammad
Al-Limboriy As-Seramiy
Semoga Alloh menjaganya
Di Darul Hadits Dammaj-Sho’dah-Yaman.


[1] Ini tambahan dari Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy.
[2]  Pertama kali beliau memperkenalkan da’wah Ahlissunnah di Limboro pada tahun 2000 (dua ribu) masehi, ketika kami mendidik anak-anak belajar membaca Al-Qur’an beliau datang membawa puluhan kitab terjemahan “Hishnul Muslim”, lalu dibagi-bagikan kepada kami dan anak-anak yang belajar bersama kami, mengingat kesibukan jihad di Ambon maka beliau kembali ke Ambon, beberapa bulan kemudian kami menyelesaikan studi di SMU Muhammadiyyah Limboro dan kami ke Ambon mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru cabang Surabaya dan kami diterima, ketika beliau mengetahui kami maka beliau selalu menghubungi dan mewasiatkan kami kalau sudah sampai di Surabaya untuk mencari majelis ta’lim Ahlissunnah dan mengikuti pengajian di majelis tersebut, Alhamdulillah kami menerima nasehat dan wasiatnya Rohimahulloh.
[3]  Abu Ahmad Muhammad Al-Limbory berkata:
Perkataanya Rohimahulloh: “…sangatlah banyak terdapat penyelisihan terhadap syari’at Islam” itu juga beliau ucapkan ketika beliau ditawarkan untuk mengikuti seleksi menjadi pegawai negri sipil, juga ditawarkan menjadi tentara, pengajar di sekolah tinggi dan di sekolah-sekolah, namun beliau tidak terbetik sama sekali untuk menerima tawaran tersebut, dan alasan beliau seperti yang telah kami sebutkan.
[4] Dari Abdulloh bin Abbas semoga Alloh meridhoi keduanya bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«لاَ تُسَافِرِ المَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ»
"Janganlah seorang wanita safar melainkan bersama mahromnya, dan janganlah seseorang masuk kepadanya melainkan bersamanya mahromnya". Maka seseorang berkata: "Wahai Rosululloh sesungguhnya saya ingin untuk keluar ke pertempuran ini dan itu, dan istriku menginginkan untuk haji? Maka beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«اخْرُجْ مَعَهَا»
"Keluarlah kamu bersamanya (untuk menunaikan ibadah haji)!". Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy.
[5]  Beliau menyebutkan permasalahan ini karena beliau menyaksikan dan mendengarkan, terkadang ada dari anak-anak sekolahan melakukan perzinaan di dalam sekolah dan ini terjadi bila kawan-kawan mereka semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing. Dan juga terkadang ketika pulang dari sekolah, bila sekolahnya berada di tanjung (ujung kampung) maka ketika pulang mereka singgah di bawah pohon atau di pinggir-pinggir batu besar bahkan terkadang di samping kuburan mereka melakukan perzinaan na’udzu Billahi minzalik (kita berlindung kepada Alloh dari demikian itu).
Kalau pun ada yang menyatakan: “Sekolah kami adalah sekolah islamiyyah” maka kita katakan: Selama ada ikhtilath maka tidak akan lepas dari perzinaan, bahkan walaupun dipisahkan (ada pembatas) antara pria dan wanita akan tetapi mereka memiliki para pengajar yaitu guru-guru mereka yang biasa menoleh ke tempat pria atau ke tempat wanita maka ini akan menimbulkan perzinaan, dan paling kecilnya zina pandangan, Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) berkata:
«فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ وَيُكَذِّبُهُ».
“Maka zinanya mata adalah memandang, zinanya lisan adalah mengucapkan, zinanya jiwa adalah mengangan-angankan  dan mengharapkan dan kemaluan yang membenarkan demikian itu dan mendustakannya”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan yang selainnya dari Abu Huroiroh.
[6] Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari Abu Huroiroh.
[7] Ada pula dari mereka belajar untuk tujuan dunia namun ternyata tidak mereka dapati, ada dari wanita baru di bangku SMP sudah hamil, pendidikannya pun terputus, ada ketika sudah SMU dan ada pula ketika di perguruan tinggi, dan ada pula baru menyelesaikan studinya (belum menjadi pegawai) sudah mati, ada yang sudah menjadi pegawai namun tidak lama kemudian hancur berantakan rumah tangganya, istrinya mati karena dia khianati, kemudian dia pun menyusul (mati) maka dimana kebahagian yang mereka angan-angankan itu?! Mereka bersusah payah sekolah, kuliah dan bekerja karena dunia namun mereka tidak memperolehnya maka bukankah ini adalah kerugian yang bertumpuk-tumpuk?! Sungguh benar perkataan Alloh (تعالى):
{وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)} [العصر/1-3]
“Demi waktu, sesungguhnya manusia benar-benar di atas kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih; yang mereka saling mewasiatkan kepada kebenaran dan saling menasehatkan kepada kesabaran” (Al-‘Ashr: 1-3).
Kami memohon kepada Alloh untuk memberikan ganjaran pahala yang berlipat ganda kepada saudara kami Abul ‘Abbas Harmin yang mana beliau telah menghabiskan sisa umurnya yang pendek untuk beriman, beramal sholih, berda’wah kepada kebenaran dan selalu menasehatkan untuk bersabar, semoga Alloh menempatkannya di Jannah Firdausnya yang Tertinggi.
سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

CARA MENGATASI SERANGAN SIHIR


CARA MENGATASI SERANGAN SIHIR

بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
Ustadz bagaimana cara menangkal serangan sihir? Karena di negri kita banyak sekali praktek ilmu sihir? Apakah boleh pelaku sihirnya dibunuh?.

Muhammad bin Salim menjawab:
بِسم الله الرَّحمنِ الرَّحِيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Cara yang paling tepat adalah banyak berlindung kepada Alloh (تعالى) dari kejahatan tukang sihir di setiap keadaan, baik dengan membaca ayat:
{رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ} [المؤمنون/97].
Ayat ini adalah umum mencakup semua syaithon, baik syaithon dari kalangan jin maupun syaithon dari kalangan manusia seperti para tukang sihir dan para dukun.
Atau berlindung kepada Alloh (تعالى) dari kejahatan mereka dengan membaca dua surat berikut ini:
{قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)} [الفلق/1-5].
{قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)} [الناس/1-6].
Tentang permasalahan ini Insya Alloh kami akan menulis sebuah kumpulan doa-doa khusus yang berkaitan dengan “Perisai atau Benteng Seorang Mulim”, yang Insya Alloh mencakup doa-doa dan dzikir-dzikir dalam mengahapi tukang sihir dan para penjahat.
Selain do’a-do’a atau dzikir-dzikir seperti itu yang perlu diperhatikan pula adalah pakaian-pakaian atau makanan-makanan, karena bila tukang sihirnya tidak sanggup menyerang orang-orang yang bertauhid maka dia menyerangnya dengan memanfaatkan pakaian-pakaian atau dia memperalat binatang-binatang semisal tikus atau kucing lalu binatang tersebut diperintahkan untuk menuangkan sihirnya ke dalam makanan orang yang akan disihir, kalau ternyata orang yang disihir tersebut masih memiliki kekuatan maka langkah terakhir tukang sihir adalah memberi racun, karena memang tukang sihir itu adalah pengecut maka dia memerintahkan binatang-binatang semisal tikus atau kucing untuk menuangkan racun ke dalam makanan atau minuman orang yang akan disihir, bila seperti ini keadaannya maka pertolongan yang perlu disegerakan bagi orang yang disihir adalah disediakan air kelapa muda (air degan) lalu diruqyah air kelapa muda, setelah itu diminumkan kepada yang terkena tersebut, dengan izin Alloh (تعالى) sihir dan racun yang telah masuk ke dalam tubuhnya akan lenyap baik dengan termuntahkan atau keluar dari saluran pembuangan kotoran.
Dan boleh bagi seseorang untuk mendoakan kebinasaan dan kehancuran kepada para tukang sihir, misalnya ada seorang tukang sihir bernama La Anu maka langsung didoakan dengan menyebut namanya:
قَاتَلَ اللَّهُ لَأَنُوْ.
“Semoga Alloh membunuh La Anu”.
Atau kalau namanya La Bpitsa dan La Honicu maka doakan:
اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِلَبْفِثَى وَعَلَيْكَ بِحُوْنِسُو
“Ya Alloh (timpakan malapetaka) atas La Bpitsa dan atas La Honicu”.
Adapun yang berkaitan dengan hukum terhadap para tukang sihir maka mereka dibunuh, karena mereka telah murtad (keluar dari agama Islam), Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)  berkata:
«لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: كُفْرٌ بَعْدَ إِسْلاَمٍ أَوْ زِنًا بَعْدَ إِحْصَانٍ أَوْ قَتْلُ نَفْسٍ بِغَيْرِ نَفْسٍ».
“Tidak halal (menumpahkan) darah seorang muslim, kecuali satu dari tiga (perkara): Kafir setelah berislam, zina setelah menikah atau membunuh jiwa bukan karena jiwa tersebut membunuh jiwa yang lain”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari hadits Abu Barzah.
Namun perkara membunuhnya hendaknya diserahkan kepada pemerintah untuk menanganinya, berbeda halnya kalau didapati sedang melakukan praktek sihirnya, misalnya dia didapati sudah masuk di dalam rumahmu atau telah masuk di dalam prangkapmu maka tidak mengapa langsung kamu tebas kepalanya atau kamu membunuhnya secara langsung, karena kamu memiliki bukti terkuat, bila nantinya pihak keamanaan (pemerintah) mendatangimu tinggal kamu paparkan buktinya.
Namun yang perlu diperhatikan ketika kamu menebas atau membunuhnya hendaknya kamu lakukan dengan sekali gerakan, karena kalau kamu menebas atau membunuhnya dengan beberapa gerakan (berulang-ulang) maka disela-sela gerakanmu itu dia akan sempat menyemprotmu dengan sihirnya, dan ini pernah terjadi di Limboro, sekitar 20 (dua puluh) tahun lebih yang lalu ada seorang imam masjid berjumpa dengan penyihir di tengah gunung, kemudian keduanya saling mengaduk kekuatan (berhantaman), imam masjid dengan kekuatannya berhasil memberi pukulan terhadap tukang sihir hingga terlempar menjadi sebatang kayu besar, setelah imam masjid menyaksikan seperti itu dan dia menganggap musuhnya (ya’ni tukang sihir) telah mampus dia pun kembali ke rumahnya, sesampainya di rumah langsung dia merasakan sihir mengenainya, tidak lama kemudian dia mati, setelah itu penyihir yang menjadi batang kayu besar tadi bangkit kembali menjadi manusia, ini bukan cerita dongeng dan bukan pula sandiwara akan tetapi kenyataan.
Karena memang para tukang sihir memiliki ilmu seperti ilmu syaithon –dengan izin Alloh- bisa merubah bentuk, terkadang bisa berubah menjadi tikus, kucing, babi, anjing atau menjadi benda mati seperti yang kami telah sebutkan, namun bagaimana pun saktinya tukang sihir tetap tidak akan bisa mengalahkan ahlu tauhid, Alloh (تعالى) berkata:
{وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى} [طه/69]
"Dan tidaklah menang tukang sihir dari mana pun dia datang”. (Thoha: 69).
Kalau pun ada dari kalangan ahlu tauhid yang berhasil mereka bunuh, seperti persekongkolan mereka dalam membunuh saudara kami Abul Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy dan Hisyam bin Abdulloh Al-Limboriy semoga Alloh merahmati keduanya dan menempatkan keduanya ke dalam Jannah Firdaus-Nya yang Tertinggi namun itu adalah kebaikan bagi keduanya, dilihat dari beberapa perkara, diantaranya:
Pertama: Keduanya teranggap sebaik-baik orang yang terbunuh, Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ»
“Barang siapa terbunuh karena (membela) agamanya maka dia adalah syahid”. Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidziy, An-Nasa’iy dan Al-Baihaqiy dari hadits Sa’ad bin Zaid.
Dan tidak diragukan lagi bahwa keduanya disihir dan dimusuhi karena keduanya mendakwahkan tauhid, dan mengingkari kesyirikan, ilmu sihir, perdukunan dan kebid’ahan serta mengingkari seluruh kemaksiatan yang merajalela di Limboro.
Yang Kedua: Keduanya dizholimi, kalaulah keduanya memiliki dosa, maka pada hari kiamat nanti dosa-dosa keduanya akan dipikulkan kepada orang-orang yang menzholimi keduanya, diantara yang paling menzholimi adalah tukang sihir tersebut, Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«أَتُدْرُونَ من الْمُفْلِسِ».
“Tahukah kalian (siapa orang) yang bangkrut?”. Maka para shohabat mengatakan: “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak meliki dirham (uang) dan tidak pula memiliki perhiasan”. Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا, فَيَقْعُدُ فَيَقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ, فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْتَصَّ مَا عَلَيْهِ مِنَ الْخَطَايَا, أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ».
“Orang yang bangrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan sholat, puasa dan zakat, dan dia datang sungguh dalam keadaan mencerca orang ini, menuduh zina orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, memukul orang itu. Maka didudukan lalu dikurangi kebaikannya (dengan diberikan kepada) orang ini dan orang itu (yang dia telah menzholiminya), jika telah habis kebaikannya sebelum terkurangi padanya dari dosanya, diambillah dari dosa-dosa mereka (yang dizholimi) lalu dipikulkan kepadanya, kemudian (orang yang zholim tersebut) dilemparkan ke dalam neraka”. Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan At-Tirmidziy dari hadits Abu Huroiroh.
Adapun para tukang sihir maka sungguh mereka tidak ada kebaikan sama sekali karena mereka telah kafir, lebih-lebih tukang sihir di Limboro, kekafiran mereka sudah bertumpuk-tumpuk; menjadi penyihir, dukun dan tidak sholat lagi. Karena keadaan mereka seperti itu maka semoga dosa-dosa ke dua saudara kami tersebut ditimpakan kepada mereka yang telah menzholimi keduanya.


KENANGAN YANG TAK TERLUPAKAN



KENANGAN
 YANG TAK TERLUPAKAN





Dutulis oleh:
Muhammad bin Salim Al-Limboriy
Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan mengampuni saudara-saudarinya

KENANGAN
 YANG TAK TERLUPAKAN
بسم الله الرحمن الرحيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
فقد قال مالك بن أنس رحمه الله: من لزم السنة، وسلم منه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم مات، كان مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، وإن كان له تقصير في العمل.
Maka sungguh telah berkata Malik bin Anas semoga Alloh merahmatinya:
"Barang siapa yang senantiasa menyertai As-Sunnah dan telah selamat darinya para shohabat Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) kemudian dia meninggal, maka dia bersama para Nabi, Ash-Shiddiqin, syuhada' dan orang-orang sholih walaupun baginya sedikit dalam beramal".
قال البخاري رحمه الله: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ».
Berkata Al-Bukhoriy semoga Alloh merahmatinya: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Tsabit, dari Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya bahwa ada seseorang bertanya kepada Rosululloh (صلى الله عليه وسلم) tentang hari kiamat, dia berkata: Kapan hari kiamat?, maka beliau menjawab: "Apa yang kamu persiapkan untuk (menghadapi)nya?", dia berkata: Tidak ada sesuatu (yang saya persiapkan), melainkan sesungguhnya saya mencintai Alloh dan Rosul-Nya (صلى الله عليه وسلم), maka beliau berkata: "Kamu bersama dengan orang yang kamu cintai".
قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ».
Berkata Anas: "Tidaklah kami bergembira dengan sesuatu, (melainkan) kami bergembira dengan perkataan Nabi (صلى الله عليه وسلم): "Kamu bersama dengan orang yang kamu cintai".
قَالَ أَنَسٌ: «فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ».
Berkata Anas: "Maka saya mencintai Nabi (صلى الله عليه وسلم), Abu Bakr, Umar, dan aku berharap untuk bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka, walaupun aku tidak beramal seperti amalan mereka".
Kami katakan: Dan sungguh kami telah melihat dan mendapati pada diri Abul Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy semoga Alloh merahmatinya dan menempatkannya ke dalam Jannah Firdaus-Nya yang Tinggi bentuk kecintaan terhadap Alloh dan Rosul-Nya serta kecintaan kepada Salafush Sholih, dan kami berdoa kepada Alloh untuk menjadikannya bersama dengan orang-orang yang beliau cintai, dan kami akan menyebutkan diantaranya adalah:


KECINTAANNYA KEPADA ALLOH DENGAN ITU MERELAKAN DIRINYA UNTUK MENDERITA DI KEHIDUPAN DUNIA

Beliau semoga Alloh merahmatinya dan menempatkannya ke dalam Jannah Firdaus-Nya yang Tinggi ketika mengetahui bahwasanya menjadi pegawai negri itu tidak lepas dari bermaksiat kepada Alloh maka beliau tidak berkeinginan sedikitpun untuk mencalonkan diri, beliau lebih mencintai Alloh dengan terus mentaatinya, kemudian beliau bergabung dengan teman-temannya bekerja di proyek kayu jati, dan beliau dipercaya oleh atasannya untuk mencari para pekerja, maka beliau mempersyaratkan kepada para calon karyawan kalau sudah mulai bekerja untuk rajin sholat dan tidak mengisap rokok, ditengah-tengah kesibukan di lahan kayu jati beliau meluangkan waktu untuk memberi nasehat, bimbingan dan bahkan mengajarkan ilmu tajwid dan berbagai permasalahan agama, dengan sebab itu banyak dari para pekerjanya kemudian berlomba-lomba ke pondok pesantren, ada yang baru sebulan kerja lansung berangkat, ada yang lebih dari itu baru kemudian berangkat ke pondok pesantren, karena tujuan utamanya bekerja adalah sebagai pendukung dan sarana untuk meraih kecintaan dan keridhoan Alloh, maka ketika beliau mengetahui bahwa proyek yang selama ini beliau berkecimpun di dalamnya ternyata terdapat kemaksiatan berupa adanya unsur "nyogok" kepada pihak-pihak tertentu dan lebih dari itu atas-atasannya juga ternyata menginginkan untuk mengadakan jual beli babi ke pula Jawa, maka beliau bergegas meninggalkan proyek tersebut.
Beliau semoga Alloh merahmatinya dan menempatkannya ke dalam Jannah Firdaus-Nya yang Tinggi ketika mengetahui bahwasanya menjadi pegawai negri itu tidak lepas dari bermaksiat kepada Alloh maka beliau tidak berkeinginan sedikitpun untuk mencalonkan diri, beliau lebih mencintai Alloh dengan terus mentaatinya, beliau lebih suka menjadi petani dan pengembala kambing di Limboro dari pada memaksiati Robbnya, bahkan ketika beliau melihat ada sebagian hizbiyyin beramai-ramai mencalonkan diri sebagai pegawai negri dengan alasan adanya dukungan berupa fatwa dari beberapa ulama Saudi, maka beliau dengan tegas mengatakan:
"Fatwa ulama Saudi itu kalau untuk di negara Saudi adapun di negara kita tidak sama dengan nagara Saudi, di Saudi jelas berhukum dengan hukum Islam, para pegawainya bekerja diatur dengan peraturan Islam…".


KECINTAANNYA KEPADA ROSULULLOH (صلى الله عليه وسلم) DENGAN ITU MERELAKAN DIRINYA UNTUK MENDERITA DI KEHIDUPAN DUNIA

Bila beliau mendapatkan faedah ilmiyyah atau sampai kepadanya perkataan Nabi (صلى الله عليه وسلم) maka beliau langsung mengamalkannya, beliau selalu mengamalkan perkataan Nabi (صلى الله عليه وسلم):
«فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ».
"Maka jika aku melarang kalian terhadap sesuatu maka jauhilah oleh kalian, dan jika aku perintahkan kepada kalian tentang suatu perkara maka kerjakanlah darinya semampu kalian". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari hadits Abu Huroiroh.
Bila beliau berkhutbah jum'at di masjid Jami' Limboro maka beliau selalu mengajak untuk mengikuti sunnah-sunnah Nabi (صلى الله عليه وسلم), hal demikian itu karena Alloh (تعالى) berkata:
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32)} [آل عمران: 31، 32]
"Katakanlah: Jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku, maka niscaya Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Alloh adalah Al-Ghofur (Maha Pengampun) lagi Ar-Rohim (Maha Penyayang). Katakanlah: Taatilah oleh kalian Alloh dan Rosul(Nya), jika kalian berpaling maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang kafir". (Ali Imron: 31-32).


KECINTAANNYA KEPADA SALAFUS SHOLIH

Setelah beliau mengenal dakwah Ahlussunnah wal Jama'ah maka beliau semakin bertambah kecintaannya kepada para salafush sholih, bila beliau pulang kampung maka adik-adiknya dan saudara-saudaranya, beliau berikan nama baru yang Islamiy, ketika beliau sudah memiliki putri maka beliau namai dengan nama dari seorang istri Nabi (صلى الله عليه وسلم), setelah itu beliau memiliki putra maka beliau namai dengan nama dari seorang paman Nabi (صلى الله عليه وسلم).


KECINTAANNYA KEPADA SAUDARA-SAUDARINYA YANG SEIBU DAN SEAYAH

Ketika kami selesai melanjutkan studi di Surabaya dan berkeinginan untuk bekerja maka beliau menghubungi kami untuk belajar ilmu agama, dan beliau menjanjikan kami untuk ke Dammaj, dengan pertolongan dan hidayah dari Alloh kemudian dengan sebab beliau kami pun memilih untuk belajar ilmu agama.
Apabila beliau memiliki keluangan waktu maka beliau selalu menanyakan keadaan kami dan keadaan adik kami Anas bin Salim yang ketika itu adik kami tersebut sudah belajar di pondok pesantren, beliau selalu mengingatkan kami tentang janjinya untuk memberangkatkan kami ke Dammaj, ketika beliau menghubungi kami maka kami menasehatinya untuk sebaiknya beliau saja yang ke Dammaj, maka dengan penuh keseriusan dan kuatnya keyakinannya kepada Robbnya beliau berkata:
"Kalau saya yang akan ke Dammaj maka bagaimana dengan nasib adik-adik kita?, siapa yang akan membantu mereka dalam pendidikan agama?, siapa yang akan mengarahkan mereka?, saya khawatir mereka akan sesat, saya khawatir mereka akan menjadi anak sekolahan".
Dengan kalimat yang ringkas seperti itu membuat hati ini menangis karenanya, sampai-sampai ketika kawan kami di Cirebon mendengar perkataan itu dia pun berkata:
"Semoga Alloh membalas kebaikan kakakmu itu, sungguh tidak kita dapati orang seperti beliau yang lebih mendahulukan saudaranya dari pada dirinya sendiri".
Dengan kebaikannya itu membuat diri ini selalu teringat tentang keadaan orang-orang yang beliau cintai dari kalangan para shahabat Nabi, yang Alloh telah sebutkan ciri-ciri mereka:
{وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ} [الحشر: 9]
"Mereka mengutamakan saudara-saudara mereka atas diri-diri mereka sendiri, walaupun mereka sangat membutuhkan". (Al-Hasyr: 8).
Dan kalimat yang beliau ucapkan itu Alhamdulillah benar-benar telah terbukti, kami bisa sampai ke Dammaj dengan sebab perjuangan dan pengorbanannya, begitu pula 3 (tiga) adik-adik kami terselamatkan dari fitnah.
سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

kebahagiaAN



kebahagiaAN






Dutulis oleh:
Muhammad bin Salim Al-Limboriy
Semoga Alloh mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan mengampuni saudara-saudarinya


kebahagiaAN
بسم الله الرحمن الرحيم
الحَمْدُ لله، أَحْمَدُه، وأستعينُه، وأستغفرُهُ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
أمّا بعدُ:
Berikut untaian kata-kata mutiara dari Abul Abbas Harmin bin Salim Al-Limboriy semoga Alloh merahmatinya dan menempatkannya ke dalam Jannah Firdaus-Nya yang Tinggi disertai dengan syarh (penjelasan) dari kami:

"Tidak ada kebahagian di zaman ini dari pada belajar ilmu agama dan mengamalkannya, betapa banyak manusia memikirkan bagaimana supaya anak-anak mereka menjadi anak yang baik…".
"Kebahagiaan yang sebenarnya tidak akan bisa diraih melainkan dengan cara mempelajari  ilmu agama…".

Penjelasan:
Apa yang beliu nasehatkan adalah suatu kebenaran, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
"Barang siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya maka dipahamkan baginya tentang agama". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari hadits hadits Mu'awiyyah.


"Menderita di dunia itu lebih baik dari pada menderita di akhirat".

Penjelasan:
Ini tidak hanya beliau katakan namun beliau telah merasakan dan mengalaminya, ketika beliau dan keluarganya diusir oleh para hizbiyyun dari rumahnya di dusun Hanunu maka beliau sekelurga merasakan penderitaan dan kesengsaraan hidup namun beliau tidak merasa putus asa, bahkan beliau berharap kepada Robbnya dengan sebab kejahatan para hizbiyyun itu akan memberikan manfaat untuknya dan keluarganya di akhirat, karena beliau dan keluarganya dizholimi maka beliau mengharapkan ganjaran dari Robbnya di akhirat kelak, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ».
"Sesungguhnya orang yang merugi dari umatku adalah dia datang pada hari kiamat dengan (membawa pahala) sholat, puasa dan zakat, dan dia datang dalam keadaan sudah menghina (orang) ini, dan menuduh orang itu berzina, dan memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, maka diberikanlah kepada orang ini (yang dizholimi tersebut) dari kebaikannya, dan diberikanlah kepada orang itu (yang dizholimi tersebut) dari kebaikannya, jika sudah habis kebaikannya (untuk diberikan kepada orang-orang yang dia zholimi) sebelum diputuskan atas apa yang dia berada di atasnya maka diberikanlah dari dosa-dosa mereka (orang-orang yang dia zholimi) lalu dipikulkan kepadanya (orang yang berbuat zholim tersebut), kemudian dilemparkan ke dalam neraka". Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Huroiroh.
Mereka para hizbiyyun adalah muflisun (orang-orang yang merugi), mereka mengusir, membuat kerusakan, mencela dan memusuhi beliau (Abul Abas Harmin bin Salim) semoga Alloh merahmatinya dengan tanpa kebenaran sedikit pun, melainkan karena ta'ashub dan fanatik buta.
Mereka memusuhi beliau dengan alasan karena beliau pentolan, kami katakan:
"Memang beliau semoga Alloh merahmatinya adalah orang besar kami, beliau semoga Alloh merahmatinya adalah yang pertama-tama menyeru kepada da'wah Ahlissunah wal Jama'ah di Limboro, banyak kaum muslimin di Limboro mengenal agama Islam yang sebenarnya karena sebab beliau".
 Mereka memusuhi beliau tidak hanya beralasan karena beliau pentolan akan tetapi karena adik beliau di Dammaj, karena beliau memuliakan Ahlussunnah, karena beliau tidak membolehkan minta-minta dan tidak menginginkan adanya jam'iyyah di Hanunu, bila seperti ini keadaannya maka tidak diragukan lagi bahwa mereka para hizbiyyin itu benar-benar telah berakhlak dengan akhlak kaum musyrikin di zaman jahiliyyah, yang pernah dikatakan oleh Waroqah bin Naufal semoga Alloh meridhoinya kepada Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):
"لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ".
"Seandainya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu". Ketika Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mendengarkan itu darinya maka beliau bertanya:
«أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ».
"Apakah merek akan mengusirku?". Maka beliau semoga Alloh meridhoinya menjawab:
"نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ".
"Iya, tidak akan datang seorang pun yang semisal dengan apa yang kamu da'wahkan dengannya melainkan dimusuhi". Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhon dari Ibnu Syihab, dari Urwah Ibniz Zubair, dari Aisyah, dari Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).
Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan para pengikut setianya dari kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah diusir dari kediaman mereka bukan karena berbuat dosa, bukan karena mereka (para lelaki) memakai pakaian wanita (bercadar), bukan pula karena mencuri, mengemis dan bukan pula karena berbuat kesyirikan, bid'ah dan bermaksiat akan tetapi mereka diusir karena menda'wahkan kepada kebenaran dan mendakwahkan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah di atas pemahaman salafush sholih, yang da'wah tersebut bertujuan untuk memisahkan atau membedakan antara yang benar dan yang bathil, Al-Bukhoriy semoga Alloh merahmatinya di dalam "Shohih"nya pada kitab tafsir surat "An-Nur" berkata:
"وَسُمِّيَ الفُرْقَانَ، لِأَنَّهُ يُفَرِّقُ بَيْنَ الحَقِّ وَالبَاطِلِ".
"Dinamakan (Al-Qur'an) dengan nama Al-Furqan karena dia memisahkan antara kebenaran dan kebatilan".
Dan diperjelas lagi dengan hadits dari Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan Al-Bukhroriy:
وَالدَّاعِي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَى مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ
"Dan da'i (yang menyeru) itu adalah Muhammad (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), barang siapa yang mentaati Muhammad (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) maka sungguh dia telah mentaati Alloh, dan barang siapa yang memaksiati Muhammad (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) maka sungguh dia telah memaksiati Alloh, dan Muhammad (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) adalah memisahkan antara manusia".


"Orang tua kita!, kita tidak akan bisa membalas kebaikan mereka, jalan satu-satunya melainkan hanya dengan menjadi anak yang sholih, dan seseorang tidak akan bisa menjadi orang yang baik (sholih) melainkan dengan mempelajari ilmu agama".

Penjelasan:
Apa yang beliu nasehatkan adalah suatu kebenaran, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:
«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ».
"Jika seseorang mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara; dari sedekah yang terus mengalir (pahalanya), ilmu yang bermanfaat untuknya, dan anak yang sholih yang mendoakannya". Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, dari hadits Abu Huroiroh.
Hadits ini yang sering beliau bawakan ketika beliau menasehati kaum muslimin di Limboro, semoga Alloh menjadikan beliau termasuk dalam ketiga perkara tersebut.
Alhamdulillah beliau semoga Alloh merahmatinya telah banyak membantu para penuntut ilmu dan mengutus mereka ke pondok-pondok pesantren, diantara mereka beliau danai dengan hartanya sendiri semoga ini tercatat di sisi Alloh sebagai sedekah yang terus mengalir pahalanya.
Alhamdulillah beliau semoga Alloh merahmatinya telah terjun di medan da'wah dan telah mengajarkan ilmu-ilmu agama yang beliau ketahui semoga ini tercatat di sisi Alloh sebagai ilmu yang bermanfaat untuknya.
Alhamdulillah beliau semoga Alloh merahmatinya telah memiliki putra dan putri semoga Alloh jadikan putra-putri beliau sebagai anak sholih yang selalu mendoakannya.
سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك